Sampingan

pamor

Pamor, cabang Seni yang Awalnya Tanpa Disengaja

 
 

Nama keris Kanjeng Kyahi Katiban adalah hasil eksperimentasi Toni Junus, 2009
Dhapur Jaka Wuru – Kamardikan Mutrani.
Pamor dari bahan iron meteorite – Australia.
Finishing – Sepuh dengan mantra ‘panguripan’.
Koleksi : Branko Windoe.

Keris yang bagus sesuai fungsinya sebagai senjata adalah tidak mudah patah atau bengkok. Ini juga merupakan hasil evolusi-progresif dari Empu dan para pande besi. Mereka melakukan mixing atas berbagai jenis logam, setidaknya besi, baja dan logam lain. Sadar akan kelemahan masing-masing logam, maka dibuat percobaan mencampur berbagai jenis logam untuk menghasilkan senjata yang unggul dari sisi material. Baja yang keras, tajam, namun getas (mudah patah), diapit oleh logam lain yang lentur (seperti lapisan besi lunak dan nikel) untuk menutupi kelemahan baja yang keras dan mudah patah tersebut. Karena susunan berlapis itu keris memiliki keistimewaan lain, lapisan besi lunak dan nikel menimbulkan konfigurasi yang indah dan itulah yang disebut ‘pamor’. Kata ‘pamor’ berasal dari bahasa Jawa ‘amor’ atau ‘diwor’ yang artinya ‘dicampur’ atau ‘disatukan’. (Kutipan : A.Ardiasto).

Awalnya motif pamor tidak beraturan, tidak kontras dan muncul tanpa disengaja. Garis-garis itu merupakan layer baru akibat adanya proses over-reaktif antara dua lapis bahan yang tidak murni yang terkena bara api dan pukulan. Layer itu memiliki lapisan grafis disebut ‘pamor sanak’ dan kemudian menjadi seni tersendiri. Oleh keadaan itu muncul ide dan metode mengatur terjadinya alur lapisan grafis (pamor sanak) dengan cara penambahan nikel atau logam yang lain. Beberapa bahan besi (heterogen) yang digunakan sering pula setelah diwarangi membentuk nuansa samar-samar keputihan tidak berupa alur yang jelas, lebih melebar seperti ‘awan di langit’ disebut pamor “ngapuk” (dari kata ‘kapuk’ = kapas; bhs.Jw).

Catatan-catatan etnografis masa lalu menunjukan bahwa empu keris atau pande besi secara khusus memiliki kedudukan penting dalam masyarakat karena dianggap memiliki kesaktian dan tidak sembarangan atau setiap orang dapat menjadi empu. Oleh karena itu sangat menarik bahwa, seperti disebutkan di dalam kitab Slokantara, pande besi termasuk salah satu golongan masyarakat ‘candala’. Tempat pembuatan benda-benda logam pada abad ke 9 di sebut ‘gusalyan’ dari istilah ‘paryyen’ (jawa kuno) berubah menjadi ‘paron’. Tempat-tempat tersebut dianggap sacral karena memiliki aspek simbolik – religius dimana ‘paron’ (landasan tempa) adalah lambang bumi dan ‘palu’ merupakan jatuhnya bahan besi (meteor) yang ditumbukkan, sebagai lambang terrestrial dan celestial yaitu simbolik dari persatuan “bapa akasa” dan “ibu bumi”. Artinya dalam pengertian ini adalah, bahwa selain fungsi teknomik dan sosioteknik, keris juga dianggap sebagai benda sacral yang dihasilkan dari pemahaman religius tentang ‘manunggaling kawulo gusti’. (kutipan dari makalah Prof. Dr. Timbul Haryono).

Penggunaan logam meteorit itu memang dilakukan secara sengaja terutama ketika proses spiritual yang mengiringi penciptaan para Empu ikut memberikan aksentuasi, yaitu adanya kepercayaan manusia (maguru alam pada masyarakat agraris) yang berdasar pada filosofi ‘manunggaling kawula Gusti’ tersebut. Filosofi Perrestrial itu tidak hanya milik masyarakat kita, tetapi merupakan sebuah gejala pada semua masyarakat atau manusia di seluruh dunia, yang menyadari akan keberadaannya dalam ruang lingkup kehidupannya berinteraksi dengan alam.

Kemudian penyatuan material logam meteorit tersebut pada ‘keris’ dianggap sebagai keterwakilan adanya kekuatan yang dahsyat. Kini, kepercayaan terhadap kekuatan yang ada pada keris itu memperkuat eksistensi keris, dengan sebutan adanya tuah, khasiat, yoni, daya magis, dlsb.

Penyatuan material logam meteorit tersebut pada ‘keris’ dianggap sebagai keterwakilan adanya kekuatan yang dahsyat.
Campo del Cielo – Argentina dipegang M. Sujono; Toluca dari Mexico dan Nantan Iron Meteorite dari Guang Ji – China. Koleksi : TJ.

Hasil ciptaan konfigurasi grafis dari lapisan pamor (meteorit) kemudian memiliki sebuah nilai estetika tersendiri apalagi setelah proses warangan. Dari beberapa sumber diketahui ‘warangan’ adalah senyawa kimia arsenic As2S3 dibawa berasal dari daratan Indochina.

Warangan atau kristal senyawa As2S3 dalam lodong (kaleng kaca).

Warangan (bie-soan; bhs. Cina) sering dipergunakan sebagai obat atau bahan ramuan untuk menyembuhkan luka dan mengurangi rasa sakit akibat asam lambung. Para tabib (shines) di daratan Indochina sering mengobati pasien ambeien dengan mengoles serbuk warangan. Selain itu warangan muda yang ditumbuk (digerus) dan diaduk dengan air 1 sendok teh, ditelan untuk menyembuhkan sakit maag, cara kerja dalam proses penyembuhannya hampir mirip dengan strocain pada obat-obatan modern.

Warangan yang dicampur asam citrate akan bereaksi sebagai senyawa kimiawi anti korosi pada besi. Senjata tua dari belahan Asia seperti Pokiam (pedang China) dibasuh warangan agar tidak berkarat. Transfer teknologi tentang asal-usul penggunaan anti korosi dengan warangan pada para Empu memang tidak pernah diketahui dengan pasti, apakah berasal dari China atau memang para Empu Nusantara jaman dahulu yang menemukannya. Selanjutnya, terjadinya pemahaman nilai yang kompleks dalam bentuk akulturisasi dan sinkretisasi kepercayaan ke-Tuhanan mengangkat keris untuk di’agung’kan. Maka, di wilayah Nusantara terutama di Jawa dikenal adanya tradisi jamasan pusaka atau membersihkan pusaka, biasanya dilaksanakan pada bulan Maulud atau bulan Suro.

Jadi, dapat dirunut dan disimpulkan tujuan mewarangi keris awalnya adalah proses teknis untuk anti karat, yang berkembang menjadi media estetika (seni pada konfigurasi pamor) dan seterusnya kemudian berkembang pula adanya sebuah tradisi atau upacara. Hal ini karena keris mengalami pergeseran nilai dari sebuah senjata teknomik – sosioteknik – ideologis, menjurus sebagai benda khusus yang disakralkan, di-agungkan bahkan menjadi benda yang dipercaya sebagai jimat.

Sekarang eksistensi keris dapat dianggap sebagai benda budaya. Benda yang perjalanannya tak lepas dari sentuhan aspek sosiologis – etnografis, menjadi sebuah warisan budaya dimana UNESCO memberikan penghargaan berupa proclaime-nya sebagai world heritage karya manusia.

Untuk menampakkan alur pamor itu keris direndam cairan warangan (campuran kimia arsenic As2S3 dengan asam dari jeruk nipis C3H4OH). Cairan warangan yang sudah bereaksi dengan asam akan melindungi besi dari korosi, dan merubah warnanya menjadi kehitaman. Sehingga alur pamor akan lebih tampak dengan tampilan putih keabu-abuan karena jenis unsur logam bahan pamor seperti unsur Nikel, Zink, Paspor, Allumunium yang terkandung tidak bereaksi terhadap warangan dan tidak berubah warnanya. Sedang besi akan menjadi hitam. Setelah diwarangi alur pamor akan lebih tampak kontras bisa dibedakan oleh penglihatan (lihat gambar paling depan pada naskah ini).

Empu KRT. Subandi Suponingrat dalam pameran di Taman Ismail Marjuki – Jakarta (2009). Mengolah iron meteorite menjadi seni Pamor!

Pada saat sekarang ini, para pecinta keris dan tosanaji dapat menikmati keindahan seni pamor yang ada pada keris-keris. Beratus bahkan mungkin ribuan pattern (motif pamor) telah diciptakan oleh para empu, baik secara sengaja (Bhs.Jw.; “anukarto wirasat” – dirancang) atau tidak disengaja (Bhs. Jw.:”Jwalono” – unpredictable). Semua motif itu, ada yang bisa dilaksanakan oleh para seniman keris jaman sekarang, namun diantaranya juga tidak bisa dibuat ulang karena tiada kejelasan dan contoh barangnya. Seperti pamor ‘jarot asem’, ‘guntur gunung’ dan beberapa jenis lainnya, dimana pada buku-buku tua hanya dibuat sketsnya (gambar tangan), sehingga meragukan apakah betul pamor semacam itu pernah ada.
Salam Budaya.

Dicuplik dari Teks KRISOLOGY
Diprakarsai oleh media khusus tosanaji PAMOR (dalam persiapan terbit).
Krisologi’1 merupakan ‘Bunga Rampai’ disunting oleh Toni Junus,
tulisan dari para partisipan a.l. :
Drs. Budi Hermawan, MM.; A. Ardiasto SH.; Ady Sulystiono S.Sos.;
H.M. Arief Syaifuddin Huda.

Kontributor :
Empu KRT. Subandi Suponingrat, AA. Waisnawa Putra; M. Bakrin; Benny Sadar; Ir. Soegeng Prasetyo S.; Soewarso; Yakun Sunar; RT. Cahyo Suryodipuro; lIham Triadi; Herman Banyuwangi; Ashari B.SE.

Sumber: http://www.javakeris.com

Iklan

Sampingan

berguru pada keris pudhak sategal

Berguru Pada Pudhak Sategal

 

Oleh : Wawan Wilwatikta

Ungkapan yang sangat popular dalam kehidupan orang Jawa sejak dahulu yaitu ”Wong Jawa nggone semu, sinamun ing samudana, sesadone ingadu manis” yang berarti “Orang Jawa menyukai sesuatu yang semu, disamarkan dengan perlambang, diwujudkan dalam keindahan“. Semu berarti tersamar atau tidak tampak jelas. Ungkapan ini menunjukkan sifat orang Jawa yang dalam menyampaikan gagasan kepada orang lain umumnya tidak secara langsung atau secara tegas lugas.

Pandangan hidup, nasehat dan ajaran-ajaran dalam kehidupan orang Jawa, merupakan hasil olah rasa berbudaya. Rasa budaya yang tidak dapat dinyatakan dalam komunikasi pergaulan sehari-hari, sering dinyatakan dalam bentuk simbol. Dalam kehidupan sehari-hari dijumpai penggunaan simbol-simbol sebagai pengungkapan rasa budaya pada suatu karya seni, seperti: pakaian, kain batik, upacara, ukiran, arsitektur dan senjata. Simbol-simbol pada suatu karya seni diharapkan dapat digunakan sebagai sarana komunikasi atau media untuk menitipkan pesan, nasehat atau ajaran bagi keluarga, masyarakat maupun generasi selanjutnya menuju peradaban luhur.

Tidak ada rumusan maupun ukuran timbangan yang pasti, dalam mengungkapkan simbol-simbol, bahkan setiap pernyataan yang muncul dapat dianggap sebagai suatu pengkayaan makna, sepanjang masih selaras dengan maksud utamanya.

Upaya mencari makna setiap simbol merupakan usaha untuk merawat sebagian dari budaya, agar memberikan arti yang sesungguhnya (esensi budaya). Dalam seni keris, salah satu simbol yang sangat menarik untuk dikaji dan diuraikan maknanya yaitu ricikan Pudhak Sategal.

Bunga pudhak atau pandan

Pudhak Sategal
Pudhak Sategal merupakan nama dari ricikan Keris yang terletak di bagian sor-soran di tepi bilah. Bentuk ricikan ini menyerupai daun Pudhak (Pandan) dengan ujungnya yang meruncing. Bentuk pola ini, untuk bagian belakang keris pangkal daun dimulai dari sisi tepi bagian bawah sor-soran kemudian meruncing ke atas, kurang lebih sejajar dengan panjang sogokan. Sedangkan untuk bagian depan, pangkal daun dimulai dari atas gandik.

Menurut Serat Centhini, sekar Dhandhanggula, bait ke 24-28 (1992:75) Pudhak Sategal merupakan dapur keris yang mempunyai luk 5 dengan ricikan kembang kacang, sogokan dan sraweyan yang diputus bagian bawah. Sehingga, pola Pudhak Sategal merupakan sraweyan yang dibentuk menyerupai daun Pudhak.

Menurut Bambang Harsrinuksmo (2004:376), ricikan Pudhak Sategal baru ada setelah Jaman Mataram Akhir dan popular pada jaman Surakarta. Keris tangguh Tua seperti tangguh Majapahit, Blambangan, Tuban dan Madura Tua tidak ada yang memakai ricikan Pudhak Sategal.

Apakah ricikan Pudhak Sategal merupakan pengganti atau terinspirasi pola Kinatah Kamarogan yang populer di jaman Mataram Sultan Agung? Ataukah, sebagai simbol cita-cita Panembahan Senopati saat berupaya mengembalikan kejayaan kerajaan Mataram dengan konsep “ganda arum”? Kata Mataram jika di jarwa dhosok-kan berasal dari kata Mata Arum yang berarti sumber keharuman. Konsep pemerintahan yang berdasar hati-nurani yang memberikan manfaat dan kemakmuran pada rakyat dan lingkungannya serta memberikan keharuman sepanjang masa. Belum ada catatan tertulis atau penelitian yang memastikan demikian dan tentu, masih memerlukan penelitian untuk pembuktian lebih lanjut.

Keris dengan phudak setegal berdhapur Jangkung Mangkunegoro (bhs: JW) koleksi Drs. Guntur Setyanto, MSc.

Pudhak Sategal merupakan ricikan keris seperti halnya dengan ricikan lain yang terdapat pada sebilah keris, antara lain : gandik, sogokan, tikel alis, pijetan dan kembang kacang. Pembuatan setiap ricikan oleh empu pada keris selain mempunyai tujuan fungsional, juga memuat makna filosofis.
Bentuk ricikan pudhak sategal pada bilah keris memang mirip dengan daun pandan/pudhak yang jika tampak dari depan, terlihat menyembul di kiri-kanan pohon dengan bentuk meruncing ke atas. Mengapa para pujangga/empu memilih pudhak sebagai simbol ajaran pada karyanya? Sebenarnya banyak pola yang serupa dengan daun pandan/pudhak yang meruncing misalnya: gading gajah, tanduk banteng, cula badak dan taring macan. Bentuk-bentuk tersebut mirip satu dengan lainnya, tapi mungkin saja kurang mempunyai makna yang mendalam dan kurang akrab dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Empu Keris jaman dahulu memberikan gambaran pada kita, bahwa mereka merupakan pekerja seni sekaligus spiritualis. Mereka mempunyai kesanggupan untuk memberikan tema universal yang menyangkut kehidupan sehari-hari manusia pada setiap karya mereka. Mereka menjadikan Keris menjadi suatu media introspeksi diri terhadap nilai-nilai humanis dan spiritual.

Pandan atau Pudhak
Pandan (Pandanaceae) merupakan tumbuhan yang sangat lekat dengan kehidupan orang Jawa sejak jaman kuno. Daun pandan digunakan dalam kehidupan sehari-hari, sebagai pewarna makanan, penyedap masakan, sebagai obat, tikar, kosmetik, sarana upacara, maupun sebagai bahan pememeliharaan batik. Masyarakat banyak memanfaatkan pohon pandan dalam kehidupan sehari-hari. Bentuk daun pandan menghadap ke atas meruncing diujung dan sering melingkar di sebatang pohon, sehingga tampak dari depan mencuat di kiri dan kanan. Bunga pohon pandan dinamakan Pudhak, namun daun pandan sendiri sering disebut Pudhak. Pudhak merupakan bunga yang mempunyai aroma harum lembut (tidak menyengat) selama berhari-hari dan menebar aroma harum menjelang sore hari. Tumbuhan ini mudah hidup tanpa pemeliharaan khusus dan banyak ditanam dipekarangan atau ladang maupun sebagai tanaman pagar.

Bagi para pujangga/empu jaman kuno, sifat dan manfaat dari Pudhak sangat menarik untuk diabadikan pada karyanya. Mereka berusaha untuk menghayati peranan alam bagi manusia atau sebaliknya. Mereka banyak belajar dan mengambil sesuatu dari alam sekitar sebagai bagian dari ajaran hidup yang bernuansa religi. Simbolisasi Pudhak pada bagian dari Keris merupakan jalan menuju pengalaman spiritual yang menumbuhkan kesadaran hubungan manusia dengan alam dan Tuhan. Para Empu membuka kesadaran manusia untuk selalu mengagumi alam, kemudian mengagumi sang Pencipta. Mereka berusaha mengabadikan dasar-dasar religius alam semesta pada hasil karya teknologi dan budaya untuk meningkatkan kualitas spiritual.

Memberi Tanpa Diminta
Pohon pandan merupakan pohon perdu yang banyak tumbuh dan dijumpai dipekarangan maupun dipinggir jalan pedesaan. Sekalipun tampak tidak berguna, pohon ini sangat bermanfaat bagi masyarakat. Daunnya dapat digunakan sebagai tikar, perwarna alami dan menambah aroma pada makanan, bahkan sebagai obat.

Demikianlah, dalam kehidupan ini apakah hidup kita telah memberikan manfaat dan warna bagi orang lain, seperti daun pandan. Bukan sebaliknya seperti ”benalu”, justru merugikan dan membebani orang lain. Ada piwulang Jawa yang mengatakan “urip iku kudu migunani tumraping liyan” yang berarti “hidup itu harus bermanfaat bagi orang lain”. Sebaik-baiknya orang yaitu yang bermanfaat bagi orang lain dan lingkungannya. Sangat berbeda kehidupan modern yang jauh dari nilai-nilai tradisi. Hubungan antar manusia lebih banyak dihitung sejauh menguntungkan atau merugikan secara material. Kepuasan secara material, akan mengikat manusia pada kebudayaan pasar yang umumnya akan berdampak terhadap pemerosotan esensi budaya yang berorientasi spiritual.

Terkadang kita merasa belum cukup untuk berbuat baik bagi orang lain, karena secara materi belum mampu atau merasa bahwa perbuatan kita tidak akan berdampak banyak bagi orang yang membutuhkan. Menjadi orang yang berguna bagi orang lain tidak harus selalu memberi sesuatu hal yang sifatnya materi (harta/uang). Tenaga, pengetahuan, nasehat, perbuatan yang baik, menentreramkan dan perhatian merupakan bantuan moril yang dapat kita berikan selain materi. Setiap saat kita dapat berguna dan bermanfaat bagi orang lain, asal kita ada keikhlasan hati untuk beramal (Jawa: Sepi Ing Pamrih). Dengan segala keterbatasan yang kita miliki, sedikit kebaikan yang mampu kita berikan akan memberikan manfaat dan makna yang besar bagi orang lain. Di hadapan Tuhan, bantuan yang diberikan kepada orang lain tidak dilihat dari jumlahnya. Bobot suatu amal tergantung dari usaha yang kita lakukan dan keikhlasan hati.

Pohon Pandan memberikan manfaat dan makna pada kehidupan manusia tanpa harus menunggu menjadi pohon Kelapa. Pohon pandan sangat memikat bagi para pencari spiritual, ia memberi manfaat bagi kehidupan tanpa diminta. Memberi bukan berarti kehilangan kepemilikan, akan tetapi merupakan pengungkapan perhatian manusia untuk mencintai kehidupan. Sehingga, memberi dan berkorban merupakan ekspresi paling tinggi dari suatu kemampuan. Maka, sekecil apapun kebaikan yang kita berikan, dapat besar artinya orang lain, berguna bagi sesama akan membuat hidup lebih bermakna.

Keselarasan Hidup
Daun Pandan tumbuh simetris-seimbang mengelilingi batang pohonnya dan menjulang ke atas. Daun pandan memberikan gambaran mengenai keharmonisan atau keselarasan. Pandangan Jawa mengenai keharmonisan atau keselarasan bagi sesama (sosial) dan lingkungannya (alam) menjadi suatu hal yang penting. Pandangan ini bukanlah sesuatu pengertian yang abstrak, melainkan berfungsi sebagai sarana dalam usahanya menghadapi masalah kehidupan. Leluhur menyadari betul, bahwa mereka merupakan bagian dan fungsi dari alam, sehingga bahasa alam merupakan rujukan dalam menjalani kehidupannya.

Dalam kehidupan ini, orang perlu menciptakan suasana ketentraman, ketenangan, dan keseimbangan batin pada dirinya maupun bagi sesamanya. Hal tersebut terwujud dengan menciptakan kerukunan, sikap hormat dan menghindari konflik.

Dengan demikian, dalam kehidupan orang hendaknya selalu berusaha menjaga keselarasan sosial, bersikap menyesuaikan diri, bersikap sopan santun, dan mewujudkan kerja sama, serta bersikap menghormati kepada orang lain. Hal tersebut memposisikan akal dan rasa dalam diri secara seimbang untuk mengagungkan nilai-nilai kemanusiaan.

Menebar Keharuman
Pudhak Sategal menggambarkan wangi yang terus menerus tiada henti (angambar-ambar ganda arum) dari ladang yang luas. Keharuman yang menebar memberikan rasa tenang dan meningkatkan kesabaran dan keheningan dalam berfikir dan bertindak.

Keharuman memberikan rasa tenteram dan rasa menyenangkan bagi yang menciumnya. Orang hidup di dunia ini, hendaknya menebarkan aroma harum, seperti harumnya bunga pudhak. Harumnya nama baik manusia sepanjang masa dan selalu dikenang, hanya dapat diperoleh dengan perilaku nyata yang memberikan kebaikan terhadap sesama dan lingkungannya.

Menebar aroma arum harus didasari ulat manis kang mantesi, ruming wicara kang mranani, sinembuh laku utama.
Ulat manis kang mantesi, yaitu bersikap ramah dan menyenangkan hati orang lain, menanggapi seseorang dilandasi dengan kebaikan hati.
Ruming wicara kang mranani, yaitu setiap pembicaraan disampaikan dengan cara yang halus, menarik dan menentramkan hati orang lain, bukan sebaliknya justru membuat suasana menjadi gundah.
Sinembuh laku utama, yaitu setiap perbuatan dilandasi dengan keikhlasan dan perilaku yang baik (laku utama). Dengan demikian, diharapkan dapat membuat orang menebarkan keharuman (kebaikan) hidupnya bagi orang lain.

Kesimpulan
Pudhak Sategal merupakan simbol dari bunga pandan (pudhak) satu ladang. Bunga pandan satu ladang yang jumlahnya sangat banyak, memberikan keharuman yang tiada habisnya bagi lingkungannya. Meskipun berlimpah, tetapi tidak menganggu, karena justru keharumannya menyenangkan dan menenteramkan. Daun-daun pandan tersusun secara harmonis melingkari batang pohonnya, terlihat selaras dan seimbang. Daun Pandan memberi warna dan aroma pada berbagai jenis makanan. Penamaan Pudhak/Pandan sebagai ricikan keris merupakan manifestasi dari besarnya manfaat bagi kehidupan manusia.

Penggambaran Pudhak pada sebilah keris karena sarat dengan makna dan ajaran-ajaran hidup bagi manusia. Dalam menjalani kehidupan, orang mencapai keutamaan apabila bermanfaat, menyenangkan, menjaga keselarasan dan menentreramkan bagi orang lain dan lingkungannya. Pudhak Sategal memberikan makna bahwa dalam kehidupan, banyaklah berbuat kebaikan agar jati diri menebar harum dan dikenang sepanjang masa. (WW)

Bahan Bacaan:
Bambang Harsrinuksmo, Ensiklopedia Keris, cetk.1,Gramedia, Jakarta, 2004.
Budiono Herusatoto, Simbolisme Dalam Budaya Jawa, Hanindita Graha Widia, cetk 4, Yogyakarta, 2001.
Franz Magnis Suseno, Etika Jawa: Sebuah Analisa Falsafah tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa., Cetk: 9, Gramedia, Jakarta, 2003
Ng. Ranggasutrasna, Sunan Pakubuwana V, Serat Centhini, Jilid II, Terjmh: Darusuprapta, cetk.1, Balai Pustaka, 1992
Suwardi Endraswara, Falsafah Hidup Jawa, Cakrawala, cetk.2, Yogyakarta, 2006.

Dikutip dari Semi Jurnal PAMOR edisi 11.

Sumber: http://www.javakeris.com

KUNJUNGI JUGA http://www.aurabumi.blogspot.com

                           http://www.penasehatspiritual.blogspot.com

Sampingan

KERIS KYAI SENGKELAT

Kanjeng Kyai Sengkelat

 

 

 
Ketika Kerajaan  Majapahit mulai surut, hiduplah seorang  empu keris yang sakti mandraguna. Dia bernama Jaka Supa putra dari  Bupati Empu yang bernama Ki Supadriya.  Jaka Supa adalah seorang  pemuda yang sederhana, namun sangat menyukai tapa brata istilah jawanya adalah “Gentur lelaku prihatin”. Kelak atas perjuangan tapa bratanya, beliau akan menurunkan pusaka pusaka yang hebat dan juga menurunkan empu-empu  pembuat keris yang luar biasa di tanah jawa. Konon pada suatu ketika, wilayah kerajaan Majapahit dilanda “pagebluk” yang sangat nggegirisi, hingga banyak para kawula (rakyat jelata) yang pagi sakit sore meninggal dan sore sakit paginya meninggal.Tidak hanya para rakyat jelata, banyak juga beberapa bangsawan, pandita dan sebagainya terserang penyakit  yang sangat misterius ini.

Hingga akhirnya kekawatiran Sang Prabu atas nasib penghuni Kraton oleh sebab ganasnya pageblug tersebut terjadi juga, Dyah Ayu Sekar Kedaton  jatuh sakit.Sudah beberapa tabib pinunjul dari penjuru negeri dihadirkan untuk membatu kepulihan sang putri,  namun toh hasilnya selalu nihil. Bahkan kalau malam menjelang , penyakit sang putri kian menjadi jadi. Untuk menghindari kejadian yang tidak di inginkan, sang prabu menugaskan segenap abdi dalem untuk bergiliran menjaga sang putri, khususnya di malam hari.

Hingga suatu malam,  sampailah giliran jaga itu jatuh pada Tumenggung Supandriya dan Tumenggung Supagati. Akan tetapi,  karena mereka berdua  ternyata sakit, maka tugas itu diwakilkan kepada anak anak mereka. Jaka Supa putra dari Tumennggung Supandriya dan Majigjo adalah putra dari Tumenggung Supagati. Sore itu langit agak mendung, disebelah barat semburat sinar matahari tampak kemerahan menyaput mega. Hingga dari jauh terlihat menakutkan laksana banjir darah siap menerkam majapahit.

Mereka (Jaka Supa dan Majigja ) berangkat bersama sama menuju Kraton, ditengah perjalanan tak henti hentinya Majigja menceritakan kerisnya yang indah berlapis emas hasil buatanya sendiri. Keris itu diberinya nama sabuk Inten, sebuah keris yang indah, anggun, berpamor eksotis  dan menyimpan enegi  gaib yang  luar biasa, bahkan sembari bercanda, kadang  Majigja setengah meledek keris buatan Jaka Supa yang diberi nama Kyai Sengkelat itu. Sengkelat memang berbentuk sangat sederhana, dia sangat polos , tak banyak ornamen, ibarat naga dia bagaikan seekor naga yang hitam legam tanpa mahkota. Namun dibalik kesederhanaanya itulah, Sengkelat adalah keris yang pilih tanding.

Empu Keris

Sesampai di keputren, mereka berdua langsung mengambil tempat jaga masing masing. Jaka Supa di sebelah kanan regol, sedangkan Majigja disebelah kiri.Beberapa saat waktu berlalu ,tidak terjadi apa-apa. Namun menjelang tengah malam, tiba tiba angin berdesir agak kencang menebar aura mistis yang menggetarkan hati para prajurit yang ikut menjaga kediaman sang putri, angin itu makin melembut dan melembut, hingga akhirnya banyak prajurit yang kemudian bergelimpangan tak mampu menahan hawa kantuk yang luar biasa.

Tiba-tiba dari arah Gedong pusaka muncul sinar merah kehitaman yang sangat terang benderang, sinar itu naik memanjat langit setinggi  lima pohon kelapa dewasa. Sinar tersebut berpendar pendar ke segala penjuru, menebarkan  hawa teluh atau wabah penyakit yang mengakibatkan pageblug tersebut. Jaka Supa dan Majigja tak bergeming, ternyata hanya mereka berdua yang masih tersisa dari serangan hawa kantuk tersebut,  mereka meningkatkan kewaspadaan  , setelah mereka cermati ternyata sinar yang menebar teluh tersebut adalah Keris Kyai Condong Campur. Sabuk Inten yang sedari tadi sudah okrak-okrok pengen keluar dari warangkanya tiba tiba melesat naik ke angkasa, pertempuran condong campur dan sabuk inten tak terelakan lagi, namun sabuk inten memang jauh dibawah condong campur, baru sekitar sepuluh menit sabuk inten dapat dikalahkan dan balik ke warangkanya. Bahkan lambung Sabuk Inten “grimpil” dibagian depan , akibat hantaman Condong Campur. Jaga Supa tanggap sasmita, Sengkelat segera dicabut dari warangkanya setelah mendapat restu, keris pusaka tersebut membumbung tinggi ke angkasa, pertempuran terjadi sangat sengit sekali, desak mendesak dan serang menyerang.

Setelah hampir subuh condong campur mulai kewalahan hingga akhirnya Sengkelat berhasil mematahkan ujung condong campur satu luk, akhirnya condong campurpun ngibrit ketakutan dan masuk kembali ke gedong pusaka. Sejak saat itu condong campur tak pernah keluar lagi menebar pageblug,  semenjak saat itu pula Dyah Ayu sekar kedaton berangsur angsur sembuh, dan  atas jasa-jasanya Jaka Supa akhirnya diangkat menjadi Empu Kerajaan kesayangan sang Prabu. Kelak dari tangannya akan lahir pusaka pusaka hebat yang sampai saat ini dikejar kejar oleh para pecinta keris, dan dari beliau juga akan lahir empu empu hebat penerusnya, keturunan terakhir beliau menurut cerita adalah Empu Djeno Harum Braja dari Ngayugyokarto Hadiningrat.

Berhubungan dengan cerita di atas, simbah selalu berpesan:
Le…. tirunen si sengkelat, dia adalah simbol wong cilik tapi sugih ngelmu“bathok bolu isi madu” paribasane. Sengkelat orang seneng nuduhake kasudibyane, walau dia sakti, kuat namun sosoknya sangat sederhana, sak anane atau sakmadya. Menurut simbah Sengkelat menjadi ikon bagi para  kawula alit yang berilmu tinggi. Konon, kelak dinusantara ini akan muncul sosok pemuda yang sederhana, tapi ketinggian ilmu lahir batinnya luar biasa, dia berasal dari keluarga biasa, yang lebih aneh lagi pemuda tersebut mempunyai pusaka Kanjeng Kyai Sengkelat sebagai tanda bahwa ia adalah pengemban amanat leluhur. Pemuda tersebut akan berjuang membangun Nusantara menjadi negeri yang aman, adil dan makmur. Untuk kebenaran cerita tersebut saya tidak tahu, namanya juga cuma dongeng, tapi mudah mudahan dongeng ini ada manfaatnya.

Sampingan

SEJARAH AKSARA JAWA

Sejarah Aksara Jawa

 

hjawa2.gif
                                                                                  
Sejarah Aksara Jawa Legenda Hanacaraka Aksara Jawa Hanacaraka itu berasal dari aksara Brahmi yang asalnya dari Hindhustan. Di negeri Hindhustan tersebut terdapat bermacam-macam aksara, salah satunya yaitu aksara Pallawa yang berasal dari Indhia bagian selatan. Dinamakan aksara Pallawa karena berasal dari salah satu kerajaan yang ada di sana yaitu Kerajaan Pallawa. Aksara Pallawa itu digunakan sekitar pada abad ke-4 Masehi.

Di Nusantara terdapat bukti sejarah berupa prasasti Yupa di Kutai, Kalimantan Timur, ditulis dengan menggunakan aksara Pallawa. Aksara Pallawa ini menjadi ibu dari semua aksara yang ada di Nusantara, antara lain: aksara hanacaraka , aksara Rencong (aksara Kaganga), Surat Batak, Aksara Makassar dan Aksara Baybayin (aksara di Filipina). Profesor J.G. de Casparis dari Belanda, yaitu pakar paleografi atau ahli ilmu sejarah aksara, mengutarakan bahwa aksara hanacaraka itu dibagi menjadi lima masa utama, yaitu:

a. Aksara Pallawa Aksara Pallawa itu berasal dari India Selatan. Jenis aksara ini mulai digunakan sekitar abad ke 4 dan abad ke 5 masehi. Salah satu bukti penggunaan jenis aksara ini di Nusantara adalah ditemukannya prasasti Yupa di Kutai, Kalimantan Timur. Aksara ini juga digunakan di Pulau Jawa, yaitu di Tatar Sundha di Prasasti tarumanegara yang ditulis sekitar pada tahun 450 M. di tanah Jawa sendiri, aksara ini digunakan pada Prasasti Tuk Mas dan Prasasti Canggal. Aksara Pallawa ini menjadi ibu dari semua aksara yang ada di Nusantara, termasuk aksara hanacaraka. Kalau diperhatikan, aksara Pallawa ini bentuknya segi empat. Dalam bahasa Inggris, perkara ini disebut sebagai huruf box head atau square head-mark. Walaupun aksara Pallawa ini sudah digunakan sejak abad ke-4, namun bahasa Nusantara asli belum ada yang ditulis dalam aksara ini.

Gambar 2.1 Prasasti Yupa b. Aksara Kawi Wiwitan Perbedaan antara aksara Kawi Wiwitan dengan aksara Pallawa itu terutama terdapat pada gayanya. Aksara Pallawa itu dikenal sebagai salah satu aksara monumental, yaitu aksara yang digunakan untuk menulis pada batu prasasti.

b. Aksara Kawi Wiwitan utamanya digunakan untuk nulis pada rontal, oleh karena itu bentuknya menjadi lebih kursif. Aksara ini digunakan antara tahun 750 M sampai 925 M. Prasasti-prasasti yang ditulis dengan menggunakan aksara ini jumlahnya sangatlah banyak, kurang lebih 1/3 dari semua prasasti yang ditemukan di Pulau jawa. Misalnya pada Prasasti Plumpang (di daerah Salatiga) yang kurang lebih ditulis pada tahun 750 M. Prasasti ini masih ditulis dengan bahasa Sansekerta.

c. Aksara Kawi Pungkasan Kira-kira setelah tahun 925, pusat kekuasaan di pulau Jawa berada di daerah jawa timur. Pengalihan kekuasaan ini juga berpengaruh pada jenis aksara yang digunakan. Masa penggunaan aksara Kawi Pungkasan ini kira-kira mulai tahun 925 M sampai 1250 M. Sebenarnya aksara Kawi Pungkasan ini tidak terlalu banyak perbedaannya dengan aksara Kawi Wiwitan, namun gayanya saja yang menjadi agak beda. Di sisi lain, gaya aksara yang digunakan di Jawa Timur sebelum tahun 925 M juga sudah berbeda dengan gaya aksara yang digunakan di Jawa tengah. Jadi perbedaan ini tidak hanya perbedaan dalam waktu saja, namun juga pada perbedaan tempatnya. Pada masa itu bisa dibedakan empat gaya aksara yang berbeda-beda, yaitu;
1) Aksara Kawi Jawa Wetanan pada tahun 910-950 M;
2) Aksara Kawi Jawa Wetanan pada jaman Prabu Airlangga pada tahun 1019-1042 M;
3) Aksara Kawi Jawa Wetanan Kedhiri kurang lebih pada tahun 1100-1200 M;
4) Aksara Tegak (quadrate script) masih berada di masa kerajaan Kedhiri pada tahun 1050-1220 M

d. Aksara Majapahit Dalam sejarah Nusantara pada masa antara tahun 1250-1450 M, ditandai dengan dominasi Kerajaan Majapahit di Jawa Timur. Aksara Majapahit ini juga menunjukkan adanya pengaruh dari gaya penulisan di rontal dan bentuknya sudah lebih indah dengan gaya semi kaligrafis. Contoh utama gaya penulisan ini adalah terdapat pada Prasasti Singhasari yang diperkirakan pada tahun 1351 M. gaya penulisan aksara gaya Majapahit ini sudah mendekati gaya modern. Gambar 2.2 Prasasti Singhasari

e. Aksara Pasca Majapahit Setelah naman Majapahit yang menurut sejarah kira-kira mulai tahun 1479 sampai akhir abad 16 atau awal abad 17 M, merupakan masa kelam sejarah aksara Jawa. Karena setelah itu sampai awal abad ke-17 M, hampir tidak ditemukan bukti penulisan penggunaan aksara jawa, tiba-tiba bentuk aksara Jawa menjadi bentuk yang modern. Walaupun demikian, juga ditemukan prasasti yang dianggap menjadi “missing link” antara aksara Hanacaraka dari jaman Jawa kuna dan aksara Budha yang sampai sekarang masih digunakan di tanah Jawa, terutama di sekitar Gunung Merapi dan Gunung Merbabu sampai abad ke-18. Prasasti ini dinamakan dengan Prasasti Ngadoman yang ditemukan di daerah Salatiga. Namun, contoh aksara Budha yang paling tua digunakan berasal dari Jawa barat dan ditemukan dalam naskah-naskah yang menceritakan Kakawin Arjunawiwaha dan Kunjarakarna. Gambar 2.3 Prasasti Ngadoman

f. Munculnya Aksara Hanacaraka Baru Setelah jaman Majapahit, muncul jaman Islam dan juga Jaman Kolonialisme Barat di tanah Jawa. Dijaman ini muncul naskah-naskah manuskrip yang pertama yang sudah menggunakan aksara Hanacaraka baru. Naskah-naskah ini tidak hanya ditulis di daun palem (rontal atau nipah) lagi, namun juga di kerta dan berwujud buku atau codex (“kondheks”). Naskah-naskah ini ditemukan di daerah pesisir utara Jawa dan dibawa ke Eropa pada abad ke 16 atau 17. Gambar 2.4 Naskah Aksara Jawa Bentuk dari aksara Hanacaraka baru ini sudah berbeda dengan aksara sebelumnya seperti aksara Majapahit. Perbedaan utama itu dinamakan serif tambahan di aksara Hanacaraka batu. Aksara-aksara Hanacaraka awal ini bentuknya mirip semua mulai dari Banten sebelah barat sampai Bali. Namun, akhirnya beberapa daerah tidak menggunakan aksara hanacaraka dan pindhah menggunakan pegon dan aksara hanacaraka gaya Durakarta yang menjadi baku. Namun dari semua aksara itu, aksara Bali yang bentuknya tetap sama sampai abad ke-20. Aksara Pallawa ini digunakan di Nusantara dari abad ke-4 sampai kurang lebih abad ke-8. Lalu aksara Kawi Wiwitan digunakan dari abad ke-8 samapai abad ke-10, terutama di Jawa Tengah

Sampingan

HURUF JAWA YANG ADILUHUNG

Huruf Jawa yang Adiluhung

 

Hanacaraka

 
“Wikipedia” dalam tulisan Jawa

Hanacaraka (juga dikenali sebagai tulisan Jawa atau abjad Jawa) ialah suatu sistem tulisan abjad suku kata yang digunakan oleh orang Jawa untuk menulis dalam bahasa Jawa. Ia juga digunakan di Bali, Sunda, dan Madura. Bahkan ditemukan pula surat-surat dalam bahasa Melayu yang menggunakan tulisan Hanacaraka. Tulisan ini berasal daripada tulisan kawi yang mempunyai asal-usul dari tulisan Brahmi di India.
Hanacaraka dinamakan sedemikian kerana lima huruf pertamanya membentuk sebutan “ha-na-ca-ra-ka”. Hanacaraka juga boleh merujuk kepada kelompok sistem tulisan yang berkait rapat dengan tulisan Jawa dan menggunakan susunan abjad yang sama, iaitu tulisan Jawa sendiri, tulisan Bali dan tulisan Sunda.
Tulisan Jawa muncul pada sekitar kurun ke-9. Namun begitu, penggunaannya dihentikan pada tahun 1942 ketika Jepun menyerbu Jawa dan digantikan dengan tulisan Rumi sebagai tulisan rasmi Republik Indonesia.

 

Lagenda Hanacaraka

Abjad Jawa dikaitkan dengan Hanacaraka, sebuah lagenda mengenai dua orang pahlawan bernama Dora dan Sambada yang bertarung. Keduanya adalah hamba Raja Aji Saka.
Terdapat 20 huruf dalam abjad Jawa, yang mana boleh disingkatkan kepada kata “hana caraka, data sawala, padha jayanya, maga bathanga“, dalam bahasa Jawa bermaksud “dua utusan, mereka berbalah, dua-dua sama hebat, dua-dua mati”. Dari segi harfiah:

hana = ada
caraka = utusan
data = datang
sawala = menentang
padha = sama-sama
jayanya = hebat
maga = menjadi
bathanga = batang (mayat)
hana caraka

padha jayanya

data sawala

maga bathan

   

Lagenda ini diceritakan kepada kanak-kanak yang baru belajar abjad Jawa untuk hiburan dan memudahkan ingatan.

Abjad

Huruf

Tulisan Jawa merupakan abjad suku kata, bermakna bahawa setiap unit terkecil (huruf) adalah suku kata (terdiri daripada satu bunyi konsonan dan satu bunyi vokal iringan). Suku kata ini boleh diubah suai dengan tanda-tanda yang dinamakan oleh orang Jawa sebagai sandhangan.
Terdapat 20 huruf asas dalam abjad Jawa:

Jawa Ha.pngha Jawa Na.pngna Jawa Ca.pngca Jawa Ra.pngra Jawa Ka.pngka Jawa Da.pngda Jawa Ta.pngta Jawa Sa.pngsa Jawa Wa.pngwa Jawa La.pngla
Jawa Pa.pngpa Jawa Dha.pngdha Jawa Ja.pngja Jawa Ya.pngya Jawa Nya.pngnya Jawa Ma.pngma Jawa Ga.pngga Jawa Ba.pngba Jawa Tha.pngtha Jawa Nga.pngnga

 

Pasangan

Pasangan membolehkan penggabungan beberapa konsonan untuk membentuk suku kata baru. Contohnya, na dan pasangan da boleh digabungkan untuk membentuk suku kata nda. Setiap huruf asas Jawa mempunyai pasangannya yang ditulis di bawah atau sejajar dengan huruf berikutnya.
Berikut ialah senarai pasangan bagi huruf asas Jawa:

Jawa Ha Pasangan.pngha Jawa Na Pasangan.pngna Jawa Ca Pasangan.pngca Jawa Ra Pasangan.pngra Jawa Ka Pasangan.pngka Jawa Da Pasangan.pngda Jawa Ta Pasangan.pngta Jawa Sa Pasangan.pngsa Jawa Wa Pasangan.pngwa Jawa La Pasangan.pngla
Jawa Pa Pasangan.pngpa Jawa Dha Pasangan.pngdha Jawa Ja Pasangan.pngja Jawa Ya Pasangan.pngya Jawa Nya Pasangan.pngnya Jawa Ma Pasangan.pngma Jawa Ga Pasangan.pngga Jawa Ba Pasangan.pngba Jawa Tha Pasangan.pngtha Jawa Nga Pasangan.pngnga

 

Aksara murda

Sesetengah huruf dalam abjad Jawa mempunyai bentuk khas yang dipanggil aksara murda. Seperti kegunaan huruf besar dalam abjad Rumi, aksara murda digunakan sebagai tanda kesantunan, contohnya dalam nama gelaran, nama orang, nama tempat, dan nama pemerintah. Berikut ialah senarai aksara murda, berserta pasangan:

Jawa Na Murda.pngJawa Na Murda Pasangan.pngNa Jawa Ka Murda.pngJawa Ka Murda Pasangan.pngKa Jawa Ta Murda.pngJawa Ta Murda Pasangan.pngTa Jawa Sa Murda.pngJawa Sa Murda Pasangan.pngSa Jawa Pa Murda.pngJawa Pa Murda Pasangan.pngPa Jawa Ga Murda.pngJawa Ga Murda Pasangan.pngGa Jawa Ba Murda.pngJawa Ba Murda Pasangan.pngBa

 

Aksara swara

Aksara swara (huruf vokal) ialah huruf khas yang berfungsi sebagai huruf vokal yang menjadi suku kata. Ia biasanya digunakan pada kata asing. Aksara swara tidak mempunyai pasangan. Berikut ialah senarai aksara swara:

Jawa A.pnga Jawa Ae.pnge Jawa E.pngé Jawa I.pngi Jawa O.pngo Jawa U.pngu

Perhatikan bahawa huruf e dibina menggunakan a dan pepet (lihat sandhangan swara).

 

Aksara rékan

Aksara rékan (huruf rekaan) ialah huruf-huruf yang ditambah untuk menampung penyerapan kata-kata Arab. Huruf-huruf ini dicipta dengan menambah cecak telu (tiga titik) pada huruf-huruf yang sedia ada. Terdapat tujuh aksara rékan, masing-masing mempunyai pasangan:

kha, dza, gha, fa, za, sya, sha

 

 

Huruf-huruf lain

Antara huruf-huruf lain yang terdapat dalam abjad Jawa ialah:

Jawa Pa Cerek.png pa cerek – untuk bunyi re /rǝ/
Jawa Nga Lelet.png nga lelet – untuk bunyi le /lǝ/

 

Sandhangan

Sandhangan ialah tanda yang mengubah bunyi suku kata. Terdapat bermacam-macam jenis sandhangan dalam tulisan Jawa. Sandhangan terbahagi kepada tiga kategori:

  • sandhangan swara
  • sandhangan panyigeging wanda
  • sandhangan wyanjana

 

Sandhangan swara

Sandhangan swara ialah tanda yang bertindak sebagai “baris” kepada suku kata. Ia digunakan untuk membatalkan bunyi asal /a/ dalam suku kata dan menggantikannya dengan vokal lain, umpamanya /i/ dan /u/. Terdapat lima jenis sandhangan swara:

Jawa Wulu.png wulu – untuk bunyi /i/
Jawa Suku.png suku – untuk bunyi /u/
Jawa Pepet.png pepet – untuk bunyi /ǝ/
Jawa Taling.png taling – untuk bunyi /e/
Jawa Taling Tarung.png taling tarung – untuk bunyi /o/

Contohnya, ha dengan wulu menghasilkan suku kata /hi/.

 

Sandhangan panyigeging wanda

Sandhangan panyigeging wanda digunakan untuk mengakhiri suku kata dengan bunyi konsonan.

Jawa Layar.png layar – untuk bunyi /r/
Jawa Wignyan.png wignyan – untuk bunyi /h/
Jawa Cecak.png cecak – untuk bunyi ng /ŋ/
Jawa Pangkon.png patèn atau pangkon – untuk ‘membunuh’ bunyi pada sebuah huruf-huruf lainnya.

Contohnya, ha dengan layar menghasilkan suku kata /har/, kemudian ha dengan wignyan menghasilkan suku kata /hah/, lalu ha dengan cecek mengahasilkan suku kata /haŋ/. Lalu ha dan na dengan patèn menghasilkan suku kata /han/. Sementara itu ha, ra dan nga tidak boleh diikuti dengan patèn.

 

Sandhangan wyanjana

Sandhangan wyanjana digunakan untuk menggabungan bunyi konsonan.

Jawa Cakra.png cakra – untuk bunyi /r/
Jawa Keret.png cakra keret – untuk bunyi /re/, sebagai pengganti gabungan cakra dan pepet
Jawa Pengkal.png péngkal – untuk bunyi /y/

Contohnya, ka dengan cakra menghasilkan suku kata kra.
Beberapa sandhangan dari kategori yang berbeza boleh digabungkan sekali untuk menghasilkan suku kata yang lebih rumit. Contohnya, ka, wulu, cakra dan cecak boleh digabungkan untuk menghasilkan suku kata /kriŋ/ (“kring”).

 

Angka

Angka dalam tulisan Jawa menggunakan sistem nombor perpuluhan.

Jawa 1.png1 Jawa Nga Lelet.png2 Jawa 3.png3 Jawa 4.png4 Jawa 5.png5 Jawa E.png6 Jawa 7.png7 Jawa Pa Murda.png8 Jawa Ya.png9 Jawa 0.png0

 

Tanda baca

Jawa Adeg Adeg.png adeg adeg – penanda awal ayat
Jawa Pada Lingsa.png pada lingsa – sama seperti fungsi koma
Jawa Pada Lungsi.png pada lungsi – sama seperti fungsi noktah
Jawa Pada Pangkat.png pada pangkat – mengapit angka dan petikan kata  

 

Contoh

Tulisan Jawa pada sebuah tanda di Tamansari, Yogyakarta

Sebuah manuskrip purba dalam tulisan Jawa
Sebuah papan tanda di Surakarta

 

Aksara Jawa, Cikal-Bakal Sejarah Jawa

Aksara Jawa, merupakan salah satu peninggalan budaya yang tak ternilai harganya. Bentuk aksara dan seni pembuatannya pun menjadi suatu peninggalan yang patut untuk dilestarikan. Tak hanya di Jawa, aksara Jawa ini rupanya juga digunakan di daerah Sunda dan Bali, walau memang ada sedikit perbedaan dalam penulisannya. Namun sebenarnya aksara yang digunakan sama saja.

Di bangku Sekolah Dasar, siswa-siswi di Jogja pasti tak asing dengan pelajaran menulis aksara Jawa. Namun tahukah kita bahwa Aksara Jawa yang berjumlah 20 yang terdiri dari Ha Na Ca Ra Ka Da Ta Sa Wa La Pa Dha Ja Ya Nya Ma Ga Ba Ta Nga dinamakan Aksara Legena?
Ya, Aksara Legena merupakan aksara Jawa pokok yang jumlahnya 20 buah. Sebagai pendamping, setiap suku kata tersebut mempunyai pasangan, yakni kata yang berfungsi untuk mengikuti suku kata mati atau tertutup, dengan suku kata berikutnya, kecuali suku kata yang tertutup oleh wignyan, cecak dan layar. Tulisan Jawa bersifat Silabik atau merupakan suku kata. Sebagai tambahan, di dalam aksara Jawa juga dikenal huruf kapital yang dinamakan Aksara Murda. Penggunaannya untuk menulis nama gelar, nama diri, nama geografi, dan nama lembaga.

Aksara Jawa ternyata juga mengalami peralihan. Ada Aksara Jawa Kuno dan Aksara Jawa baru. Namun sulit untuk mengetahui secara pasti kapan masa lahir, masa jaya, dan masa peralihan aksara Jawa kuno dan aksara Jawa baru. “Sangat sulit menemukan kapan lahir ataupun peralihannya. Dikarenakan juga masih sedikit orang yang melakukan penelitian tentang hal ini,” jelas Dra. Sri Ratna Sakti Mulya, M. Hum, Dosen Sastra Jawa UGM. Diprediksi Aksara Jawa Kuno ada pada jaman Mataram Kuno. Aksara Jawa Kuno juga mirip dengan Aksara Kawi. “Jika mau diurut-urutkan, sejarah Aksara Jawa ini berasal dari cerita Aji Saka dan Dewata Cengkar,” tambahnya.

Dari penulisannya pada jaman dahulu pun, ternyata Aksara Jawa dapat dibedakan menjadi 2, yaitu aksara yang ditulis oleh orang-orang Kraton dan aksara yang ditulis oleh masyarakat biasa – lebih dikenal dengan sebutan Aksara Pesisir. Aksara Kraton mempunyai bentuk yang jauh lebih rapi. Aksara-aksaranya ditulis dengan jelas dan rapi, serta naskah sering dihiasi dengan gambar ornamen-ornamen yang mempunyai arti tersembunyi. “Setiap gambar yang menghiasi halaman naskah, mempunyai arti dan maknanya masing-masing. Kadang juga dihiasi dengan tinta emas asli. Dan ini semuanya adalah tulisan tangan,” jelas Bapak Rimawan, Abdi Dalem yang membantu mengelola Perpustakaan Pakualaman. Sedangkan aksara Pesisir, penulisannya kurang rapi.
Sebagai salah satu cara pelestarian, banyak koleksi naskah aksara Jawa sejak jaman dahulu tersimpan rapi di Perpustakaan Pakualaman dan Perpustakaan Kraton. Perpustakaan Pakualaman menyimpan sekitar 251 naskah kuno yang dikumpulkan mulai sejak masa Pakualam I hingga Pakualam VII.

Cerita Asal Huruf Jawa 

Diantara kita jarang sekali ada yang mengetahui asal mula aksara Djawa. Jangankan asal mulanya, bentuk tulisannya saja diantara kita pasti tidak tahu. Apalagi makna yang terkandung di dalamnya. Memang aksara Djawa ini bukan menjadi bahasa (tulisan) wajib negara kita.

Para Pemuda-Pemudi telah mengikrarkan bahasa persatuan yaitu bahasa Indonesia. Tetapi setidaknya sebagai bangsa yang baik, kita bangsa Indonesia, khususnya masyarakat Djawa tidak melupakan sejarah peninggalan Leluhur terdahulu. Beranjak dari keadaan tersebut di atas maka Penulis hendak mengingatkan kembali, aksara (huruf) Djawa yang sudah mulai punah dan terlupakan.
Di sini Penulis tidak bermaksud membawa kepentingan SARA atau Golongan (Djawa). Seperti yang telah dikemukakan di atas, Penulis hanya ingin mengingatkan kembali sejarah peninggalan Leluhur terdahulu. Sehingga muncul halaman ini, mari kita simak dan ingat kembali asal usul aksara (huruf) Djawa terlebih dahulu.
Cerita ini berawal dari seorang Raja yang mempunyai dua orang murid. Raja ini bernama Prabu Aji Saka, dengan dua orang muridnya bernama Duro dan Sembodro. Salah satu muridnya yang bernama Duro ditugaskan oleh Prabu Aji Saka untuk menjaga pusaka kerajaan. Nama pusaka kerajaan tersebut adalah Sarutama, dalam cerita Djawa berarti Hina tetapi utama (Saru-Utama).
Saat itu Prabu Aji Saka berpesan “Siapapun tidak dapat mengambil Pusaka Sarutama, kecuali Prabu Aji Saka sendiri”. Pusaka Sarutama ini dipercayakan kepada Duro. Prabu Aji Saka pada saat itu berangkat perang, namun ditengah-tengan peperangan Prabu Aji Saka mengalami kesulitan. Sehingga Prabu Aji Saka memerlukan pusaka Sarutama. Prabu Aji Saka pun menugaskan Sembodro yang mendampinginya di medan perang, untuk mengambil pusaka Sarutama di kerajaan.
Sembodro pun pulang kembali dengan maksud mengambil pusaka Sarutama. Sesampainya kembali di kerajaan, Sembodro meminta Duro untuk menyerahkan pusaka Sarutama kepadanya. Tetapi karena Duro sudah diberi amanat oleh Prabu Aji Saka guru mereka untuk tidak menyerahkan pusaka sarutama kepada siapapun kecuali kepada Prabu Aji Saka, maka Duro menolak untuk menyerahkan pusaka saru tama tersebut.

Sembodro pun mendapat amanat untuk mengambil pusaka Sarutama tersebut. Akhirnya Sembodro tetap memaksa Duro untuk mnyerahkan pusaka Sarutama tersebut. Karena sama-sama mendapat amanat (pesan) dari Prabu Aji Saka, merekapun berusaha mejalankan amanat masing-masing. Merekapun bertempur untuk menjalankan amanat mereka.
Pertempuran sesama murid kepercayaan Prabu Aji Saka ini berlangsung sengit. Hingga akhirnya mererka mati (gugur) demi menjalankan amanat mereka dari Prabu Aji Saka. Keadaan mereka disaat mati saling rangkul/pangku (mati sampyuh, Djawa).
Kita dapat mengambil inti sari makna dari cerita di atas. Bahwa masyarakat Djawa memiliki sifat yang luhur, setia dan taat, serta rela berkorban mati-matian demi mengemban amanat. Satu lagi sifat masyarakat Djawa, masyarakat Djawa akan marah apabila kita memposisikan diri kita di atas mereka. Tetapi mereka akan mati (luluh hatinya) kalau kita memposisikan diri di bawah (dipangku) mereka. Itu mengapa akhirnya di dalam aksara Djawa bila di akhir huruf dipangku akan mati.

 

Mengungkap Makna Kehidupan di Balik Huruf Jawa

Setelah mengetahui sedikit tentang sejarah huruf Jawa maka mari kita sedikit mengupas beberapa makna filosofis dari huruf Jawa tersebut. Ada begitu banyak makna secara filosofis dari huruf Jawa tersebut dan makna filososfis tsb bersifat cukup general alias tidak hanya untuk orang Jawa saja lho. Ada beberapa versi makna huruf Jawa tersebut, beberapa di antaranya adalah yang dikatakan Pakdhé Wikipedia di sini dan di sana, berhubung Pakdhé Wikipedia sudah bercerita dengan cukup jelas maka saya tidak akan menulis ulang pitutur Pakdhé tersebut.
Sekarang saya akan sedikit mengupas “tafsir” versi lain dari huruf Jawa tersebut. Ki Hadjar Dewantara tidak hanya mencetuskan konsep petuah tentang kepemimpinan yang sangat terkenal, beliau juga berhasil memberi penafsiran mengenai ajaran budi pekerti serta filosofi kehidupan yang sangat tinggi dan luhur yang terkandung dalam huruf Jawa .
Adapun makna yang dimaksud adalah sebagai berikut:
(1) HA NA CA RA KA:
 
hana1.jpg
Ha: Hurip = hidup
Na: Legeno = telanjang
Ca: Cipta = pemikiran, ide ataupun kreatifitas
Ra: Rasa = perasaan, qalbu, suara hati atau hati nurani
Ka: Karya = bekerja atau pekerjaan. 
 
 
(2) DA TA SA WA LA
 
hana2.jpg
 
DA TA SA WA LA (versi pertama):
Da: Dodo = dada
Ta: Toto = atur
Sa: Saka = tiang penyangga
Wa: Weruh = melihat
La: lakuning Urip = (makna) kehidupan.
 
DA TA SA WA LA (versi kedua):
Da-Ta (digabung): dzat = dzat
Sa: Satunggal = satu, Esa
Wa: Wigati = baik
La: Ala = buruk 
 
 
(3) PA DHA JA YA NYA:
 
hana3.jpg
PA DHA JA YA NYA =Sama kuatnya (tidak diartikan per huruf). 
 
 
(4) MA GA BA THA NGA :
 
hana4.jpg
Ma: Sukma = sukma, ruh, nyawa
Ga: Raga = badan, jasmani
Ba-Tha: bathang = mayat
Nga: Lungo = pergi
 
Tetapi selanjutnya dengan sedikit ngawur saya pribadi akan berusaha menyelami dan menjabarkan tafsir huruf Jawa versi Ki Hadjar tersebut sesuai dengan kemampuan saya. Kalau banyak kesalahan ya mohon dimaklumi karena saya bukanlah seorang filusuf, saya hanya ingin mengenal lebih jauh huruf Jawa (walaupun secara ngawur dengan cara sendiri).
 
 
 
(1) HA NA CA RA KA:
Ha: Hurip = hidup
Na: Legeno = telanjang
Ca: Cipta = pemikiran, ide ataupun kreatifitas
Ra: Rasa = perasaan, qalbu, suara hati atau hati nurani
Ka: Karya = bekerja atau pekerjaan.
 
Dari arti secara harfiah tsb, saya berusaha menjabarkannya menjadi dua versi:
 
**) Ketelanjangan=kejujuran
Bukankah secara fisik manusia lahir dalam keadaan telanjang? Tapi sebenarnya ketelanjangan itu tidak hanya sekedar fisik saja. Bayi yang baru lahir juga memiliki jiwa yang “telanjang”, masih suci…polos lepas dari segala dosa. Seorang bayi juga “telanjang” karena dia masih jujur. Sedangkan  CA-RA-KA mempunyai makna cipta-rasa-karya . Sehingga HA NA CA RA KA akan memiliki makna dalam mewujudkan dan mengembangkan cipta, rasa dan karya kita harus tetap menjunjung tinggi kejujuran. Marilah kita “telanjang” dalam bercipta, berrasa dan berkarya.
 
**)) Pengembangan potensi
Jadi HA NA CA RA KA bisa ditafsirkan bahwa manusia “dihidupkan” atau dilahirkan ke dunia ini dalam keadaan “telanjang”. Telanjang di sini dalam artian tidak mempunyai apa-apa selain potensi. Oleh karena itulah manusia harus dapat mengembangkan potensi bawaan tersebut dengan cipta-rasa-karsa. Cipta-rasa-karsa merupakan suatu konsep segitiga (segitiga merupakan bentuk paling kuat dan seimbang) antara otak yang mengkreasi cipta, hati/kalbu yang melakukan fungsi kontrol atau pengawasan dan filter (dalam bentuk rasa) atas segala ide-pemikiran dan kreatifitas yang dicetuskan otak, serta terakhir adalah raga/tubuh/badan yang bertindak sebagai pelaksana semua kreatifitas tersebut (setelah dinyatakan lulus sensor oleh rasa sebagai badan sensor manusia).
Secara ideal memang semua perbuatan (karya) yang dilakukan oleh manusia tidak hanya semata hasil kerja otak tetapi juga “kelayakannya” sudah diuji oleh rasa. Rasa idealnya hanya meloloskan ide-kreatifitas yang sesuai dengan norma. Norma di sini memiliki arti yang cukup luas, yaitu meliputi norma internal (perasaan manusia itu sendiri atau istilah kerennya kata hati atau suara hati) atau bisa juga merupakan norma eksternal (dari Tuhan yang berupa agama dan aturannya atau juga norma dari masyarakat yang berupa aturan hukum dll).
 
(2) DA TA SA WA LA: (versi pertama)
 
Da: Dodo = dada
Ta: Toto = atur
Sa: Saka = tiang penyangga
Wa: Weruh = melihat
La: lakuning Urip = (makna) kehidupan.
 
DA TA SA WA LA berarti dadane ditoto men iso ngadeg jejeg (koyo soko) lan iso weruh (mangerteni) lakuning urip. Dengarkanlah suara hati (nurani) yang ada di dalam dada, agar kamu bisa berdiri tegak seperti halnya tiang penyangga dan kamu juga akan mengerti makna kehidupan yang sebenarnya.
Kata “atur” bisa berarti manage dan juga evaluate sedangkan dada sebenarnya melambangkan hati (yang terkandung di dalam dada). Jadi dadanya diatur mengandung arti bahwa kita harus senantiasa me-manage (menjaga-mengatur) hati kita untuk melakukan suatu langkah evaluatif dalam menjalani kehidupan supaya kita dapat senantiasa berdiri tegak dan tegar dalam memandang dan memaknai kehidupan. Kita harus senantiasa memiliki motivasi dan optimisme dalam berusaha tanpa melupakan kodrat kita sebagai makhluk Alloh yang dalam konsep Islam dikenal dengan ikhtiar-tawakal, ikhtiar adalah berusaha semaksimal mungkin sedangkan tawakal adalah memasrahkan segala hasil usaha tersebut kepada Alloh.
 
DA TA SA WA LA: (versi kedua)
 
Da-Ta (digabung): dzat = dzat
Sa: Satunggal = satu, Esa
Wa: Wigati = baik
La: Ala = buruk
 
DA TA SA WA LA bisa ditafsirkan bahwa hanya Dzat Yang Esa-lah (yaitu Tuhan) yang benar-benar mengerti akan baik dan buruk. Secara kasar dan ngawur saya mencoba menganggap bahwa kata “baik” di sini ekuivalen dengan kata “benar” sedangkan kata “buruk” ekuivalen dengan “salah”. Jadi alangkah baiknya kalau kita tidak dengan semena-mena menyalahkan orang (kelompok) lain dan menganggap bahwa kita (kelompok kita) sebagai pihak yang paling benar.
 
 
(3) PA DHA JA YA NYA:
PA DHA JA YA NYA = sama kuat
Pada dasarnya/awalnya semua manusia mempunyai dua potensi yang sama (kuat), yaitu potensi untuk melakukan kebaikan dan potensi untuk melakukan keburukan. Mungkin memang benar ungkapan bahwa manusia itu bisa menjadi sebaik malaikat tetapi bisa juga buruk seperti setan dan juga binatang. Mengingat adanya dua potensi yang sama kuat tersebut maka selanjutnya tugas manusialah untuk memilih potensi mana yang akan dikembangkan. Sangat manusiawi dan lumrah jika manusia melakukan kesalahan, tetapi apakah dia akan terus memelihara dan mengembangkan kesalahannya tersebut? Potensi keburukan dalam diri manusia adalah hawa nafsu, sehingga tidak salah ketika Nabi Muhammad SAW menyatakan bahwa musuh terbesar kita adalah hawa nafsu yang bersemayam dalam diri kita masing-masing. 
 
 
(4) MA GA BA THA NGA:
Ma: Sukma = sukma, ruh, nyawa
Ga: Raga = badan, jasmani
Ba-Tha: bathang = mayat
Nga: Lungo = pergi
 
Secara singkat MA GA BA THA NGA saya artikan bahwa pada akhirnya manusia akan menjadi mayat ketika sukma atau ruh kita meninggalkan raga/jasmani kita. Sesungguhnya kita tidak akan hidup selamanya dan pada akhirnya akan kembali juga kepada Alloh. Oleh karena itu kita harus senantiasa mempersiapkan bekal untuk menghadap Alloh.
 
Sumber:
wikipedia
trulyjogja
deking

Sampingan

KERIS DALAM BUDAYA JAWA

KERIS Dalam Budaya Jawa

 

Bahasa Perkerisan

Dalam percaturan perkerisan yang sangat dinamis, banyak hal-hal lucu yang serring kita jumpai. hal-hal tersebut banyak dijumpai dikalangan para pelestari tosan aji, baik dari kalangan kolektor maupun pebisnis keris. sering kali terlontar kalimat ataupun kata-kata yang menggelikan.di sini saya akan berbagi sedikit pengalaman dengan pemahaman dangkal saya.

jual_beli_keris.jpgDalam perdagangan keris sangat banyak yang mempermasalahkan Pesi. Pesi adalah bagian keris untuk menempelnya gagang keris atu biasa disebut dengan deder.Pesi ini biasanya memiliki panjang normal kurang lebih 7 cm,atau empat Nyari (jari). pesi yang telah pugut (putus), atau berkurang panjangnya ada yang percaya bisa mengurangi daya isoteri keris.
Ada juga yang tidak mempercayai itu, dan untuk tetap melestarikanya maka pesi tersebut lalu disrumbung dengan menggunakan besi yang dilinting seperti rokok kemudian dishok ke pesi yang telah kurang panjangnya.
ada juga yang mempercayai pesi yang tertinggal di dalam deder, memiliki daya tertentu. pesi tersebut lalu disebut dengan pesi kurung. pesi kurung dipercaya mampu menghindarkan pemegangnya dari sante, tenung, bahkan senjata tajam. lebih dahsyatnya lagi pesi kurung yang terjadi secara alami, bukan karena rekayasa, ataupun human eror dapat membantu pemegangnya untuk kaya. Hal tersebut menjadi renungan kita sebagai mahluk tuhan yang dikaruniai banyak kelebihan.
Masih banyak bahasa lain dalam perkerisan yang sering membuat kita menjadi geli bahkan termehek-mehek. Sebagai misal pada saat transaksi, Sering dijumpai istilah atau akronim-akronim aneh, tapi menjadi khas didunia perkerisan. Ada Istilah GAMA untuk menyebut harga Tiga Puluh Lima,atau UNIVERSITAS yang dimaksud Universitas Gajah Mada. Ada TOPI KERATON alias iKET alias SEKET (lila puluh).
Ada lagi istilah Kewan (hewan) Rambut alias TUMA alias pitu lima (75). kecebur kalen(sngai) untuk menyebut nominal seratus (100), karena saat tercebur berbunyi kecepeks alias cepek alias 100 dalam bahasa cina. Bagi yang ingin menambah untuk memperkaya khasanah perkerisan silakan.

Perkembangan Keris

Keris merupakan salah satu nama dari sekian banyak nama dan definisi dari jenis senjata pertahanan diri, yang terciptakan melalui suatu proses untuk pemenuhan kebutuhan manusia. Manusia yang memiliki insting membunuh meciptakan beragam jenis senjata. Senjata – senjata tersebut mempunyai arti alat bantu untuk tercapainya satu kebutuhan dasar manusia, yaitu terhindarnya rasa lapar di perut.
Manusia yang hidup dan belajar dari alam, mengolah dan mengembangkan pemikirannya. Mereka meciptakan alat – alat untuk berburu dengan bahan – bahan yang telah tersediakan oleh alam.
Berawal dari batu, kayu, hingga mengenal peradaban perunggu, sampai pada material besi dan baja. Alat – alat yang awalnya hanya untuk berburu, berkembang menjadi alat untuk mendapatkan kemenangan dari individu lainya.
Kemenangan dan penguasan terhadap individu lainya juga merupakan manifestasi dari perwujudan kebutuhan dasar manusia, yaitu makan dan kebutuhan biologis (menurut pakar psikoanalisa, Sigmund Freud). Dimungkinkan pada era itu manusia berfikir bahwa dengan menguasai individu lain, ia akan lebih mudah untuk mecukupi kebutuhan pemenuhan rasa lapar dan penyaluran libido birahinya.
Maka dengan itu manusia terus mengolah peradabannya. Alat – alat yang mereka gunakan, atau yang kemudian berkembang nama dan fungsinya menjadi senjata terus mereka upayakan untuk menjadi alat beladiri yang sempurna.
Di Pulau Jawa sendiri jenis sejata – senjata tersebut berkembang, ada yang berupa berang, bendho, arit, kudi, cenggereng, golok, pangot, wedhung, pedang, tombak, hingga keris. Untuk pedang sendiri dapat digolongkan menjadi banyak nama sesuai dengan bentuknya, ada sabet, suduk maru lameng dan lain – lain.
Senjata di Pulau Jawa memiliki keunikan pada teknologi pembuatannya. Senjata – senjata tersebut dibuat dengan teknik penempaan, bukan dicor. Teknik penempaan disertai pelipatan berguna untuk mencari kemurniaan besi, yang mana pada waktu itu bahan – bahan besi masih komposit dengan materi – materi alam lainnya.

keris_tejokinurung_blambangan.jpg

Perkembangannya teknologi tempa tersebut mampu menciptakan satu teknik tempa Tosan Aji ( Tosan = besi, Aji = berharga) yang lebih sempurna, seirin perjalanan waktu. Salah satu Tosan Aji yang akan kita bicarakan adalah yang berupa keris. Karena keris saya rasa dari segi pembuatanya memili keunikan yang mampu mewakili tosan aji lainya.
Keris terdiri dari tiga unsur bahan pembuatnya. Baja, besi dan pamor. Pada perkembangan berikutnya keris bukan hanya sekedar senjata, tapi menjadi piandel (suatu alat untuk meningkatkan kepercayaan diri) juga menjadi simbol untuk mewakili status sosial pemakainya. Bahkan keris layak untuk menjadi pengganti si pemilik dalam berbagai situasi. Semisal pernikahan ataupun duta negara.

Jenis Tangguh Keris

 

Apabila ditinjau dari segi pembuatan dan masa pembuatannya, keris dapat digolongkan menjadi beberapa jenis. Pengelompokan keris tersebut dikenal dengan istilah Sepuh (jw: tua), yang maksudnya tingkat ketuaan umur keris. setingkat makna dengan jaman pembuatan. Jaman tersebut memakai kode atau nama kerajaan asal keris dibuat. Adapun tangguh keris sebenarnya adalah model atau ciri khas keris berdasar daerah asal keris. Sebagai contoh keris buatan Mataram Sultan Agungmemakai model keris Pajajaran, akan tetapi tetap tidak meninggalkan ciri khas mataram. akan tetapi tangguh sering diartikan dengan era pembuatan. Adapun tangguh keris yang dikenal hingga saat ini adalah:

  1. Tanguh Purwa Carita: Singasari,  Jenggala dan Kediri
  2. Tangguh Segaluh
  3. Tangguh Pajajaran
  4. Tangguh Cirebon
  5. Tangguh Bagelen,Pasir Luhur
  6. Tangguh Majapahit
  7. Tangguh Sedayu
  8. Tangguh Pengging
  9. Tangguh Demak
  10. Tangguh Pajang
  11. Tangguh Mataram: Senapati, Sultan Agung, Amangkurat
  12. Tangguh Kartasura
  13. Tangguh Surakarta
  14. Tangguh Ngayogyokarto: Ngentho – entho/Jenggalan.
  15. Tangguh Kamardhikan

sejarah_keris.jpg
Dengan melihat ciri-ciri fisik pada keris maka akan dikenali tangguh jenis apakah keris tersebut.

Pamor Keris

Pamor Udan Mas

Pamor hujan mas adalah pamor yang sangat populer di masyarakat umum. pamor ini banyak dianggap memiliki daya atau kekuatan yang mampu membuat pemegang keris dengan pamor ini dimudahkan rizkinya. Sehingga keris ini banyak diburu dan dimiliki oleh para pebisnis di berbagai sektor perekonomian.
Keris berpamor udan mas ini pada dasarnya merupakan pamor rekan (sengaja dibuat), sedangkan tehnik yg digunakan untuk peletakan pamornya adalah Mlumah(tehnik satunya miring) Beras wutah adalah pamor yang mendasarinya.pembuatan pamor udan mas ini dengan cara pengedripan,ada yg didrip dalam kondisi besi panas tapi ada pula yang dalam kondisi besi dingin. akan tetapi banyak yang lebih mantap denganmemakai metode yang didrip dalam kondisi besi panas. Ada kasus lain bahwa wos wutah yang penuh kadang muncul banyak pamor bulat-bulat seperti pamor tetesing warih (air menetes), lalu di sebut dengan pamor udan mas tiban.
pamor ini sangat memiliki nilai ajaran yang luhur, hal ini tergambar dari bulatan-bulatan pamornya yang berlapis bagaikan obat nyamuk. di mana simbul tersebut bisa di baca atau dimaknai bahwa individu harus memiliki kepekaan terhadap sekitarnya. di sini ada ajaran bahwa manusia harus bisa berguna bagi mahluk-mahluk Tuhan lainnya. ada ajaran berbuat sedekah di dalam pamor udan mas ini, ini dapat dilihat dari namanya. sedekah itu bagaikan hujan emas bagi penerimanya maupun pemberinya. hujan itu mendinginkan seperti halnya shodaqoh yang bisa mendinginkan dan melembutkan hati. maka sangat tidak mengherankan jika pamor ini sangat bertuah kerejekian, asal sang pemegang keris mampu berbuat seperti uraian pemikiran dari kebodohan saya di atas.

hujan_emas_01

Tapi juga pernah saya dengar bahwa pamor merupakan bentuk-bentuk rajah yang bisa mendatangkan aura tertentu. munkin rajah dengan bentuk bulatan2 tersebut merupakan pemicu munculnya aura kerejekian. sehingga pamor udan mas baru pun bisa memancing keluarnya aura tersebut,tentu saja harus didasari dengan kemantapan hati.ada contoh seorang pengusaha toko mencoba mencari piandel untuk penglarisan tokonya,dan singkat cerita ia mendapatkan keris udan mas baru.singkat cerita dia sukses mampu membuat cabang,dan keris tersebut terus disimpanya.bahkan katanya ada yang mau memaharinya dengan nilai yang telah untung banyak,keris tersebut tidak dilepas.

Pamor Teja Kinurung

Pamor Teja Kinurung

Pamor Tejo Kinurung sering juga disebut juga dengan Pamor Adeg Wengkon. Pamor ini memiliki dua tehnik penempatan, yaitu Pamor miring dan mlumah. Pamor mlumah untuk wengkon dan pamor miring untuk adegnya. Akan tetapi ada juga pamor ini memakai teknik pamor miring semua.
Pamor Teja Kinurung telihat sangat minimalis, akan tetapi memiliki kesulitan penggarapan yang sangat tinggi. Kesederhanaan dari pamor Teja Kinurung memiki pancaran aura yang sangat misterius. Pamor ini banyak mengandung makna-makna yang masih sangat perlu dieksplor, dan pamor ini cukup banyak memiliki penggemar.
Pamor adeg memiliki makna akan harapan Sang Empu, bahwa Si Perawat keris akan diharapkan memiki keteguhan jiwa, mampu “Berdiri Tegak”. Si perawat keris diharapkan juga untuk memiliki jalan hidup yang lebih lurus, untuk kualitas kehidupan transendentalnya.
Secara psikologis orang yang menyukai garis lurus sering diartikan sebagai kemampuan individu untuk berfikir secara logis, juga dapat diartikan memiliki kematangan jiwa atau emosional, yang juga ditafsirkan bahwa individu tersebut memiliki kemampuan relationship yang baik.
Untuk pamor wengkon  sendiri  memiliki makna sebagai perlindungan, dari mara bahaya, secara kast mata maupun ghaib. Ada juga yang mengartikan sebagai harapan Sang Empu agar Si perawat keris akan mampu untuk hidup lebih hemat, berhati-hati untuk membelanjakan hartanya.
Dalam perkembanganya Keris pusaka berpamor teja kinurung bayak disukai oleh pejabat atau pegawai pada sektor-sektor formal, sabagai misal pegawai negeri. Akan tetapi menurut saya pamor adeg wengkon juga cocok dimiliki siapapun, tidak memiliki batasan sosial.
Hal ini dikarenakan pamor ini selain memiliki kekutan tolak, juga memiliki makna manfaat yang lebih luas lagi. Bukannya doa Sang Empu tidak cuma terbatas akan hal-hal tersebut? Masih banyak misteri yang perlu untuk diungkap lagi.

Pamor Keleng

Keris Pamor keleng biasa juga disebut dengan keris pangawak waja . Dalam keris keleng ini tidak nampak pamor putih seperti halnya keris-keris lain. keris ini jika diwarangi hanya terlihat hitam kehijauan, kebiruan atau keabu-abuan. Kadang dalam masih terlihat sedikit warna pamor sanak, akan tetapi banyak yang mengatakan warna tersebut muncul akibat dari lipatan besi. terlepas dari hal-hal tersebut, justru keris keleng ini banyak memiliki keistimewaan. Penempaan keris ini biasanya sangat matang, sehingga memiliki pesona tersendiri bagi penikmat tosan aji.

Keris brojol keleng

Keris keleng lebih mengutamakan kematangan tempa juga kesempurnaan garap. Garap di sini yang dimaksud adalah meliputi keindahan bentuk bilah, termasuk di dalamnya ricikan. Keris Keleng juga bisa menjadi bahasa untuk memahami tingkat kematangan Si Empu, secara  lahir maupun batin. Secara lahir bisa dilihat kesanggupan Si empu dalam mengolah besi untuk menjadi matang dan presisi. Dalam penggarapan keris tersebut juga dibutuhkan kecermatan dan kedalaman batin.
Kedalaman batin Empu diterjemahkan dalam pamor yang hitam polos tidak bergambar. Empu sudah menep (mengendap) dari keinginan nafsu duniawi. makna yang disampaikan harus diterjemahkan dengan kedalaman rasa yang bersahaja. Efek yang ditimbulkan dari sugesti terhadap keris keleng tersebut adalah, bahwa keris tersebut mampu menjadi tolak bala. Ada juga yang beranggapan bahwa keris keleng tersebut memiliki kekuatan secara isoteri lebih multifungsi, dibanding dengan keris yang berpamor. Terlepas dari itu semua keris tersebut adalah hasil karya, yang sangat sulit untuk dikesampingkan begitu saja.

Muatan Keris 

Keris Apa yang anda Harapkan Darinya

Apa yang sebenarnya diharapkan dari sebilah bahkan berbilah-bilah tosan aji? Entah itu keris,tombak,lameng wedung,patrem dan lain-lainya.Ada semacam piweling atau perkataan bijak para orang-orang tua terdahulu (leluhur),bahwa keris atau tosan aji lainya itu hidup dengan makna mampu menghidupi.dengan cara bagai mana?bagi sang empu dan panjak bahkan tukang ubub(memompa api)bisa menjadi sumber penghidupan, dengan menarik ongkos jasa pembuatan.bagi para pengrajin warangka,pendhok,mendhak,deder/ukiran, juga bisa menjadi sumber pendapatan.

keris 002

Dari sekelumit uraian di atas maka bisa kita sedikit simpulkan bahwa keris tidak bisa menjadikan kita kaya atau bahkan untuk hal yang ringan saja, yaitu menyediakan kita minum,pasti secara langsung tidak bisa.kecuali kita todongkan keris untuk menyuruh orang mengambilkan minum atau untuk menyerahkan sedikit uang.
Di jaman ini keris juga mampu menjadi sumber pendapatan.contoh untuk tukang marangi,penjual keris dari kalangan isoteri(mis:dukun) maupun eksoteri, dan juga yang disebutkan pada paragraf sebelumnya.bijaksana sekali seandainya kita tidak berharap lebih pada keampuhan keris.Karena keris akan menjadi ampuh itu tergantung pada siapa keris berada, di tangan kukuh prasetyo tentu akan lain kesaktianya dibanding  saat keris dipegang oleh para raja.bahkan disaat pemilik pusaka kepepetpun, keris tidak mampu berbuat banyak (mengeluarkan kedahsyatan magisnya).sekali lagi yang paling berperan da sakti adalah yang menciptakan si-pembuat keris.
Menurut saya keris merupakan kitab atau ajaran para leluhur yang bernilai ajaran hidup yang mulia, yang perlu dipelajari, dirasakan dan diamalkan.maka kita baru akan mampu memetik hasilnya.selamat mencoba!

Mantram Untuk Menayuh Keris
 
Mantra I
Bismilah…Galinggang jati wujudhing dhupa, winur jati kukusing dhupa, niat ingsun gugah daya panguwasane wesi aji. jim setan ana gedong wesi, den jaga para wali, kinunci para Nabi,kinacingan dening Alloh,wesi aji sira tangiyo, ingsun kongkon….iki pangandikaning Alloh. Innama amruhu idha arodha…..kun fayakun.

Mantra II
Keris Dikutugi menyan jam 12 malam,berdiri menghadap utara, MANTRANYA : yehohowa iman sari sukma mulya tinampananpadha sukma, telek erang araning wesi, tir putih putih araning waja, manirasa rasa araning cahya. Sira sapa lan duwe daya panguwasa apa. ingsun ngadeg tejane kuning.
Silakan dicoba dengankeyakinan dan niat yang baik juga kuat, seoga berhasil.

Pamor Keris, Intensi & Persepsi

keris blambangan 

Persepsi merupakan peristiwa Psikologi, dimana individu mengartikan stimulus yang diterima oleh indera. Intensi sendiri sapat diartikan sebagai niat, yang mana proses pemunculannya didahului oleh peristiwa – peristiwa psikologis. Sedangkan pamor merupakan bahan pembuat keris, yang pada akhirnya menjadi ornamen yang sangat indah pada  lapisan keris. pamor sendiri bisa menjadi sign akan manfaat atau kandungan makna sebuah keris, juga bahasa empu dalam mengekspresikan karyanya.
Hipotesa yang bisa diambil, ada hubungan antara persepsi terhadap pamor dengan intensi untuk memiliki keris. saat individu menstimulus keris yang dilihatnya maka akan timbul persepsi. Persepsi tersebut akan berbeda antara individu satu dengan lainnya. Hal ini mengarah pada kodrat manusia yaitu perbedaan individu (Individual Differences).

Garis – garis pamor akan dipersepsikan secara berbeda, antara pamor rekan (miring & mlumah) ataupun dengan pamor yang tiban. Garis – garis yang lurus dan tegas mengungkap kepribadian bahwa individu tersebut memiliki kematangan, ketegasan dan tidak mudah terpengaruh oleh orang lain, terkesan kaku. sedangkan untuk garis bergelombang, seperti pamor Beras Wutah atau ngulit semongko akan mengungkap kepribadian individu yang mudah bergaul, gampang terpengaruh dan kurang matang.
Persepsi yang berbeda terhadap pamor, akan memengaruhi tingkat kesenangan terhadap keris. Ini akan berpengaruh dalam pemilihan koleksi keris. Akan tetapi hal ini tidak akan berlaku jika dalam memilih keris berdasar pada koleksi yang belum dimiliki, atau pertimbangan – pertimbangan teknis non psikologis.

Kaitan Antara Keris dan Psikologis

Empu-empu kita ternyata juga ahli psikoanalisa.  Entah ini cuma suatu kebetulan, atau para empu kita dulu dalam berkarya memang telah memikirkan jauh, akan muatan-muatan kejiwaan di dalam karyanya.
psikoanalisa kerisPsikoanalisa yang memiliki teori, bahwa kejiwaan manusia terbagi menjadi tiga, yaitu id, ego dan super ego. Id yang berada di alam bawah sadar manusia, memberikan dorongan – dorongan nafsu liar. Nafsu primitif tersebut sangat explosif, selalu minta untuk tersalurkan, yang paling menonjol adalah libido seksual.

Ego sendiri merupakan sisi kejiwaan yang mampu mengerem laju nafsu liar tersebut. ego menjembatani antara id dan super ego. Super ego adalah sisi kejiwaan individu yang mana di dalamnya terkandung unsur-unsur moralitas. Unsur-unsur tersebut seperti halnya sopan santun, agama, aktualisai diri dan semu hal yang mengandung kebaikan secara sosial ataupun transendental.
Bahan keris yang terdiri baja, besi dan pamor dapat dibaca atau diterjemahkan seperti halnya id, ego dan super ego.  Baja yang memiliki karakter keras, tajam, mudah patah dan terletak paling dalam pada bilah keris mewakili sifat-sifat yang terkandung dalam id, yang terletak di alam bawah sadar manusia.  bahaya dan sangat mencelakakan akan ditimbulkan oleh id maupun baja.
Pada keris besi terletak di lapisan luar baja, besi memiliki kelenturan berfungsi sebagai tempat menempelnya baja dan pamor, dapat di artikan sebagai ego. Pamor yang bersifat lebih tahan dari karat, menancap pada lapisan besi, nampak di permukaan bilah memperindah tampilan sebuah keris. Sehingga pamor dapat di baca sebagai perwujudan super ego manusia.

Aneka Nama Jenis Keris

Dalam budaya perkerisan ada sejumlah istilah yang terdengar asing bagi orang awam.. Pemahaman akan istilah-istilah ini akan sangat berguna dalam proses mendalami pengetahuan mengenai keris. Istilah dalam dunia keris, khususnya di Pulau Jawa, yang sering dipakai: angsar, dapur, pamor, perabot, tangguh, tanjeg, dan lain sebagainya.
Di bawah ini adalah uraian singkat yang disusun secara alfabetik mengenai istilah perkerisan. Istilah ini lazim digunakan di Pulau Jawa dan Madura, tetapi dimengerti dan kadang kala juga digunakan di daerah lainnya, seperti Sulawesi, Sumatra, dan bahkan di Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam.

Keris Bima, Nusa Tenggara Barat. Keris ini diduga milik keluarga bangsawan tinggi, sarung dan hulunya berlapis emas.

Angsar
adalah daya kesaktian yang dipercaya oleh sebagian orang terdapat pada sebilah keris. Daya kesaktian atau daya gaib itu tidak terlihat, tetapi dapat dirasakan oleh orang yang percaya. Angsar dapat berpengaruh baik atau posistif, bisa pula sebaliknya.
Pada dasarnya, semua keris ber-angsar baik. Tetapi kadang-kadang, angsar yang baik itu belum tentu cocok bagi setiap orang. Misalnya, keris yang angsar-nya baik untuk seorang prajurit, hampir pasti tidak cocok bila dimiliki oleh seorang pedagang. Keris yang angsar-nya baik untuk seorang pemimpin yang punya banyak anak buah, tidak sesuai bagi pegawai berpangkat rendah.
Guna mengetahui angsar keris, diperlukan ilmu tanjeg. Sedangkan untuk mengetahui cocok dan tidaknya seseorang dengan angsar sebuah keris, diperlukan ilmu tayuh.

Dapur
Adalah istilah yang digunakan untuk menyebut nama bentuk atau type bilah keris. Dengan menyebut nama dapur keris, orang yang telah paham akan langsung tahu, bentuk keris yang seperti apa yang dimaksud. Misalnya, seseorang mengatakan: “Keris itu ber-dapur Tilam Upih”, maka yang mendengar langsung tahu, bahwa keris yang dimaksud adalah keris lurus, bukan keris yang memakai luk. Lain lagi kalau disebut dapur-nya Sabuk Inten, maka itu pasti keris yang ber-luk sebelas.
Dunia perkerisan di masyarakat suku bangsa Jawa mengenal lebih dari 145 macam dapur keris. Namun dari jumlah itu, yang dianggap sebagai dapur keris yang baku atau mengikuti pakem hanya sekitar 120 macam saja. Serat Centini, salah satu sumber tertulis, yang dapat dianggap sebagai pedoman dapur keris yang pakem memuat rincian jumlah dapur keris sbb:

Keris lurus ada 40 macam dapur. Keris luk tiga ada 11 macam. Keris luk lima ada 12 macam. Keris luk tujuh ada 8 macam. Keris luk sembilan ada 13 macam. Keris luk sebelas ada 10 macam. Keris luk tigabelas ada 11 macam. Keris luk limabelas ada 3 macam. Keris luk tujuhbelas ada 2 macam. Keris luk sembilan belas, sampai luk duapuluh sembilan masing-masing ada semacam.
Namun, menurut manuskrip Sejarah Empu, karya Pangeran Wijil, jumlah dapur yang dianggap pakem lebih banyak lagi. Catatan itu menunjukkan dapur keris lurus ada 44 macam, yang luk tiga ada 13 macam, luk sebelas ada 10 macam, luk tigabelas ada11 macam, luk limabelas ada 6 macam, luk tujuhbelas ada 2 macam, luk sembilanbelas sampai luk duapuluh sembilan ada dua macam, dan luk tigapuluh lima ada semacam.
Jumlah dapur yang dikenal sampai dengan dekade tahun 1990-an, lebih banyak lagi.

Luk
Istilah ini digunakan untuk bilah keris yang tidak lurus, tetapi berkelok atau berlekuk. Luk pada keris selalu gasal, tidak pernah genap. Hitungannya mulai dari luk tiga, sampai luk tigabelas. Itu keris yang normal. Jika luknya lebih dari 13, dianggap sebagai keris yang tidak normal, dan disebut keris kalawijan atau palawijan.
Jumlah luk pada keris selalu gasal, tidak pernah genap. Selain itu, irama luk keris dibagi menjadi tiga golongan. Pertama, luk yang kemba atau samar. Kedua, luk yang sedeng atau sedang. Dan ketiga, luk yang rengkol — yakni yang irama luknya tegas.

Luk keris. Angka-angka menunjukkan bilangan jumlah luknya.

Mas kawin
Dalam dunia perkerisan adalah pembayaran sejumlah uang atau barang lain, sebagai syarat transaksi atau pemindahan hak milik atas sebilah keris, pedang, atau tombak. Dengan kata yang sederhana, mas kawin atau mahar adalah harga.
Istilah mas kawin atau mahar ini timbul karena dalam masyarakat perkerisan terdapat kepercayaan bahwa isi sebilah keris harus cocok atau jodoh dengan pemiliknya. Jika isi keris itu jodoh, si pemilik akan mendapat keberuntungan, sedangkan kalau tidak maka kesialan yang akan diperoleh. Dunia perkerisan juga mengenal istilah melamar, bilamana seseorang berminat hendak membeli sebuah keris.

Mendak
adalah sebutan bagi cincin keris, yang berlaku di Pulau Jawa, Bali, dan Madura. Di daerah lain biasanya digunakan istilah cincin keris. Mendak hampir selalu dibuat dari bahan logam: emas, perak, kuningan, atau tembaga. Banyak di antaranya yang dipermewah dengan intan atau berlian. Pada zaman dulu ada juga mendak yang dibuat dari besi berpamor.
Selain sebagai hiasan kemewahan, mendak juga berfungsi sebagai pembatas antara bagian hulu keris atau ukiran dengan bagian warangka.

Pamor
Pamor dalam dunia perkerisan memiliki 3 (tiga) macam pengertian. Yang pertama menyangkut bahan pembuatannya; misalnya: pamor meteorit, pamor Luwu, pamor nikel, dan pamor sanak. Pengertian yang kedua menyangkut soal bentuk gambaran atau pola bentuknya. Misalnya: pamor Ngulit Semangka, Beras Wutah, Ri Wader, Adeg, dan sebagainya. Ketiga, menyangkut soal teknik pembuatannya, misalnya: pamor mlumah, pamor miring, dan pamor puntiran.

Dua macam pamor yang tergolong jenis pamor miring.

Selain itu, ditinjau dari niat sang empu, pola pamor yang terjadi masih dibagi lagi menjadi dua golongan. Kalau sang empu membuat pamor keris tanpa merekayasa polanya, maka pola pamor yang terjadi disebut pamor tiban. Orang akan menganggap bentuk pola pamor itu terjadi karena anugerah Tuhan. Sebaliknya, jika sang empu lebih dulu membuat rekayasa pla pamornya, disebut pamor rekan [rékan berasal dari kata réka = rekayasa]. Contoh pamor tiban, misalnya: Beras wutah, Ngulit Semangka, Pulo Tirta. Contoh pamor rekan, misalnya: Udan Mas, Ron Genduru, Blarak Sinered, dan Untu Walang.

Keris dapur Sepang. Pamornya Wos Wutah yang tergolong jenis pamor mlumah.

Ada lagi yang disebut pamor titipan atau pamor ceblokan, yakni pamor yang disusulkan pembuatannya, setelah bilah keris selesai 90 persen. Pola pamor itu disusulkan pada akhir proses pembuatan keris. Contohnya, pamor Kul Buntet, Batu Lapak, dll.

Pamor Kul Buntet yang tergolong pamor titipanPamor Batu Lapak

Pendok
berfungsi sebagai pelindung atau pelapis gandar, yaitu bagian warangka keris yang terbuat dari kayu lunak. Namun fungsi pelindung itu kemudian beralih menjadi sarana penampil kemewahan. Pendok yang sederhana biasanya terbuat dari kuningan atau tembaga, tetapi yang mewah terbuat dari perak atau emas bertatah intan berlian.
Bentuk pendok ada beberapa macam, yakni pendok bunton, blewehan, slorok, dan topengan.

Pendok keris: No 1 sampai 4 gaya Surakarta, no. 5 gaya Yogyakarta.

Perabot
Dalam dunia perkerisan, asesoris bilah keris disebut perabot keris. Perlengkapan atau asesoris itu meliputi warangka atau sarung keris, ukiran atau hulu keris, mendak atau cincin keris, selut atau pedongkok, dan pendok atau logam pelapis warangka.

Ricikan
Adalah bagian-bagian atau komponen bilah keris atau tombak. Masing-masing ricikan keris ada namanya. Dalam dunia perkerisan soal ricikan ini penting, karena sangat erat kaitannya dengan soal dapur dan tangguh keris.
Sebilah keris ber-dapur Jalak Sangu Tumpeng tanda-tandanya adalah berbilah lurus, memakai gandik polos, pejetan, sogokan rangkap, tikel alis, dan tingil. Gandik polos, pejetan, sogokan rangkap, tikel alis, dan tingil, adalah komponen keris yang disebut ricikan..

Selut
seperti mendak, terbuat dari emas atau perak, bertatahkan permata. Tetapi fungsi selut terbatas hanya sebagai hiasan yang menampilkan kemewahan. Dilihat dari bentuk dan ukurannya, selut terbagi menjadi dua jenis, yaitu selut njeruk pecel yang ukurannya kecil, dan selut njeruk keprok yang lebih besar.
Sebagai catatan; pada tahun 2001, selut nyeruk keprok yang bermata berlian harganya dapat mencapai lebih dari Rp. 20 juta!
Karena dianggap terlalu menampilkan kemewahan, tidak setiap orang mau mengenakan keris dengan hiasan selut.

Selut gaya Surakarta, jenis njeruk keprok

Tangguh
Tangguh arti harfiahnya adalah perkiraan atau taksiran. Dalam dunia perkerisan maksudnya adalah perkiraan zaman pembuatan bilah keris, perkiraan tempat pembuatan, atau gaya pembuatannya. Karena hanya merupakan perkiraan, me-nangguh keris bisa saja salah atau keliru. Kalau sebilah keris disebut tangguh Blambangan, padahal sebenarnya tangguh Majapahit, orang akan memaklumi kekeliruan tersebut, karena bentuk keris dari kedua tangguh itu memang mirip. Tetapi jika sebuah keris buatan baru di-tangguh keris Jenggala, maka jelas ia bukan seorang ahli tangguh yang baik.
Walaupun sebuah perkiraan, tidak sembarang orang bisa menentukan tangguh keris. Untuk itu ia perlu belajar dari seorang ahli tangguh, dan mengamati secara cermat ribuan bilah keris. Ia juga harus memiliki photographic memory yang kuat.

Bentuk keris tangguh Segaluh

Mas Ngabehi Wirasoekadga, abdidalem Keraton Kasunanan Surakarta, dalam bukunya Panangguhing Duwung (Sadubudi, Solo, 1955) membagi tangguh keris menjadi 20 tangguh. Ia tidak menyebut tentang tangguh Yogyakarta, melainkan tangguh Ngenta-enta, yang terletak di dekat Yogya. Keduapuluh tangguh itu adalah:

1. Pajajaran 2. Tuban 3. Madura 4. Blambangan 5. Majapahit
6. Sedayu 7. Jenu 8. Tiris-dayu 9. Setra-banyu 10. Madiun
11. Demak 12. Kudus 13. Cirebon 14. Pajang 15. Pajang
16. Mataram 17. Ngenta-enta,Yogyakarta 18. Kartasura 19. Surakarta

Keris Buda dan tangguh kabudan, walaupun di kenal masyarakat secara luas, tidak dimasukan dalam buku buku yang memuat soal tangguh. Mungkin, karena dapur keris yang di anggap masuk dalam tangguh Kabudan dan hanya sedikit, hanya dua macam bentuk, yakni jalak buda dan betok buda.

Sementara itu Bambang Harsrinuksmo dalam Ensiklopedi Keris (Gramedia, Jakarta 2004) membagi periodisasi keris menjadi 22 tangguh, yaitu:

1. Tangguh Segaluh 2. Tangguh Pajajaran
3. Tangguh Kahuripan 4. Tangguh Jenggala
5. Tangguh Singasari 6. Tangguh Majapahit
7. Tangguh Madura 8. Tangguh Blambangan
9. Tangguh Sedayu 10. Tangguh Tuban
11. Tangguh Sendang 12. Tangguh Pengging
13. Tangguh Demak 14. Tangguh Panjang
15. Tangguh Madiun 16. Tangguh Koripan
17. Tangguh Mataram Senopaten 18. Mataram Sultan Agung
19. Mataram Amangkuratan 20. Tangguh Cirebon
21. Tangguh Surakarta 22. Tangguh Yogyakarta

Ada lagi sebuah periode keris yang amat mudah di-tangguh, yakni tangguh Buda. Keris Buda mudah dikenali karena bilahnya selalu pendek, lebar, tebal, dan berat. Yang sulit membedakannya adalah antara yang aseli dan yang palsu.

Tanjeg
adalah perkiraan manfaat atau tuah keris, tombak, atau tosan aji lainnya. Sebagian pecinta keris percaya bahwa keris memiliki ‘isi’ yang disebut angsar. Kegunaan atau manfaat angsar keris ini banyak macamnya. Ada yang menambah rasa percaya diri, ada yang membuat lebih luwes dalam pergaulan, ada yang membuat nasihatnya di dengar orang. Untuk mengetahui segala manfaat angsar itu, diperlukan ilmu tanjeg. Dalam dunia perkerisan, ilmu tanjeg termasuk esoteri keris.

Tayuh
Merupakan perkiraan tentang cocok atau tidaknya, angsar sebilah keris dengan (calon) pemiliknya. Sebelum memutuskan, apakah keris itu akan dibeli (dibayar mas kawinnya), si peminat biasanya terlebih dulu akan me- tayuh atas keris itu. Tujuannya untuk mengetahui, apakah keris itu cocok atau berjodoh dengan dirinya.

Ukiran
Kata ukiran dalam dunia perkerisan adalah gagang atau hilt. Berbeda artinya dari kata ‘ukiran’ dalam bahasa Indonesia yang padanannya ialah carved atau engraved. Gagang keris di Bali disebut danganan, di Madura disebut landheyan, di Surakarta disebut jejeran, di Yogyakarta disebut deder. Sedangkan daerah lain di Indonesia dan Malaysia, Singapura, serta Brunei Darussalam disebut hulu keris.

Ukiran gaya Surakarta wanda Maraseba

Javakeris memakai istilah ukiran dan hulu keris mengingat semua daerah itu juga mengenal dan memahami arti kata ukiran dalam perkerisan. Bentuk ukiran atau hulu keris di setiap daerah berbeda satu sama lain.

Di bawah ini adalah contoh bentuk hulu keris dari beberapa daerah.

Warangka
Atau sarung keris kebanyakan terbuat dari kayu yang berserat dan bertekstur indah. Namun di beberapa daerah ada juga warangka keris yang dibuat dari gading, tanduk kerbau, dan bahkan dari fosil binatang purba. Warangka keris selalu dibuat indah dan sering kali juga mewah. Itulah sebabnya, warangka juga dapat digunakan untuk memperlihatkan status sosial ekonomi pemiliknya.
Bentuk warangka keris berbeda antara satu daerah dengan lainnya. Bahkan pada satu daerah seringkali terdapat beberapa macam bentuk warangka. Perbedaan bentuk warangka ini membuat orang mudah membedakan, sekaligus mengenali keris-keris yang berasal dari Bali, Palembang, Riau, Madura, Jawa, Bugis, Bima, atau Malaysia.

Berikut adalah jenis-jenis warangka dari berbagai daerah perkerisan:

Warangka Surakarta
Biasanya terbuat dari kayu cendana wangi atau cendana Sumbawa (sandalwood – Santalum Album L.) Pilihan kedua adalah kayu trembalo, setelah itu kayu timaha pelet.
Warangka ladrang terbagi menjadi empat wanda utama, yaitu Ladrang Kasatriyan, Ladrang Kadipaten, Ladrang Capu, dan Ladrang Kacir. Dua wanda yang terakhir sudah jarang dibuat, sehingga kini menjadi langka.
Warangka ladrang adalah jenis warangka yang dikenakan untuk menghadiri suatu upacara, pesta, dan si pemakai tidak sedang melaksanakan suatu tugas. Bila dibandingkan pada pakaian militer, warangka ladrang tergolong Pakaian Dinas Upacara (PDU).

Ladrang Kadipaten

Selain ladrang, di Surakarta juga ada warangka gayaman, yang dikenakan pada saat orang sedang melakukan suatu tugas. Misalnya, sedang menjadi panitia pernikahan, sedang menabuh gamelan, atau sedang mendalang. Prajurit keraton yang sedang bertugas selalu mengenakan keris dengan warangka gayaman.

Warangka gayaman Surakarta juga ada beberapa jenis, di antaranya: Gayaman Gandon, Gayaman Pelokan, Gayaman Ladrang, Gayaman Bancigan, Gayaman Wayang.

Jenis warangka yang ketiga adalah warangka Sandang Walikat. Bentuknya sederhana dan tidak gampang rusak. Warangka jenis inilah yang digunakan manakala seseorang membawa (bukan mengenakan) sebilah keris dalam perjalanan.

Warangka Sandang Walikat

Warangka Yogyakarta
Warangka branggah Yogyakarta terbuat dari kayu kemuning. Bentuk warangka di Yogyakarta mirip dengan Surakarta, hanya ukurannya agak lebih kecil, gayanya lebih singset. Yang bentuknya serupa dengan warangka ladrang, di Yogyakarta disebut branggah. Kayu pembuat warangka branggah di Yogyakarta adalah kayu trembalo dan timaha. Sebenarnya penggunaan warangka branggah di Yogyakarta sama dengan warangka ladrang di Surakarta, tetapi beberapa dekade ini norma itu sudah tidak terlalu ketat di masyarakat.
Jenis bentuk warangka Yogyakarta lainnya adalah gayaman. Dulu ada lebih kurang delapan jenis warangka gayaman, tetapi kini hanya dua jenis wanda warangka yang populer, yakni gayaman ngabehan dan gayaman banaran. Warangka gayaman dikenakan pada saat seseorang tidak sedang mengikuti suatu upacara.
Jenis bentuk warangka yang ketiga adalah sandang walikat, yang boleh dibilang sama bentuknya dengan sandang walikat gaya Surakarta.

Sampingan

ENSIKLOPEDIA TOSAN AJI

Ensiklopedia Tosan Aji

 
 

INDEX – A

ADEG IRAS, PAMOR, adalah nama pamor yang menyerupai garis lurus mulai dari ujung bilah sampai pangkalnya yang bersinggungan dengan bagian ganja. Pada bagian ganja, pamor ini seolah menyambung lagi sampai kebagian yang bersinggungan dengan pesi. Pamor ini dinilai baik tuahnya dan tergolong pamor langka.
 
ADEG SIJI, lihat SADA SA’LER.
 
ADEG WENGKON, lihat TEJA KINURUNG.
 
AENGTONG TONG, nama desa di Serunggi, Sumenep yang sampai kini masih membuat keris dan tombak. Desa ini dulu merupakan tempat tinggal para EMPU yang memenuhi kebutuhan kerajaan Sumenep dan kini masih ada beberapa orang yang bekerja sebagai pandai keris seperti Jaknal, Jembar, Jekri, Hoji dan lain lain.
 
AEROLIT, adalah batu pamor yang sangat keras dan berasal meteor, bila telah menjadi pamor akan berwarna kuning keabu-abuan. Gradasi warnanya tidak terlalu kontras dibandingkan dengan kehitaman warna besi dasar sehingga sulit dilihat mata, pamor dari bahan ini sering juga disebut Jalada.
 
AKHODIYAT, PAMOR, adalah bagian dari kelompok pamor yang memiliki kecemerlangan lebih gemerlap dari bagian pamor lainnya. Pada satu permukaan bilah keris, ada bagian yang kecemerlangan pamornya menonjol dibanding kecemerlangan pamor disekitarnya dan sepintas lalu mirip dengan lelehan logam keperakan yang putih mengkilap.
Menurut EMPU Fausan Pusposukadgo, ini terjadi karena suhu yang tepat pada saat penempaan dan bukan dibuat oleh logam perak seperti dugaan orang,
Pamor ini tidak dapat direncanakan dan tergolong pamor Tiban, pamor ini banyak disukai orang, di Madura dan Jawa Timur disebut Pamor Deling.
 
AKIM, nama seorang pembuat keris yang hidup diawal abad 20, dijaman penjajahan Belanda dan tinggal di kampung 21 Ilir, Palembang.
 
ALIAMAI, sebutan orang Serawak, Brunei, Sabah dan sebagian penduduk Mindanau Selatan untuk menyebut keris. Diperkirakan dari bahasa Sulu di Mindanau Selatan.
 
ALIP, nama pamor yang selalu menempati sor-soran, terutama pada sebilah keris, namun kadang ditemui juga di tombak. Termasuk pamor titipan dan pamor Rekan. Bentuknya hanya merupakan garis lurus, tebal sepanjang sekitar 4 sampai 6 cm dan kadangkala ujung garis itu membelok patah sedikit.
Pamor Alip bukan merupakan pamor Sada Saler terputus, tetapi sengaja dibuat begitu dan karena titipan kadangkala terdapat disela pamor lainnya yang lebih dominan.
Bagi sebagian orang, pamor ini mempunyai tuah baik yakni memperkuat iman, tahan godaan dan tidak tergolong pamor pemilih hanya pemiliknya harus berpantang terhadap beberapa hal. 
 
AMBANYU MILI, lihat ILINING WARIH.
 
AMBER, MINYAK, campuran minyak keris dengan bau yang keras memberi kesan sakral, ada yang menyebut minyak Misik
 
ANDA AGUNG, salah satu bentuk pamor berbentuk garis-garis menyudut, bersusun-susun, berjajar keatas dari pangkal keujung bilah, tergolong pamor tidak pemilih dan dipercaya dapat memperlancar karier. Termasuk pamor Miring.  
 

ANGGA CUWIRI, EMPU terkenal pada jaman kerajaan Majapahit sekitar abad 14, buatannya dikenali dengan tanda sebagai berikut :

Ganjanya relatif berukuran panjang dibanding dengan keris buatan jaman Majapahit lainnya. Gulu melednya berkesan kekar dan kokoh. Buntut cecaknya tergolong ngunceng mati. Bagian gendokannya montok, gembung. Bilah kerisnya berukuran sedang tetapi agak ramping dan agak tebal, besinya matang tempaan berwarna hitam kebiruan namun mempunyai kesan kering. Dibanding dengan bentuk keris secara menyeluruh, bagian sor-soran agak terlalu lebar, blumbangannya juga lebar dan luas. Pamornya sederhana, kebanyakan Wos Wutah atau Pulo Tirto.
Keris buatan EMPU Angga Cuwiri mempunyai kesan penampilan yang keras, berwibawa dan meyakinkan.
ANDORAN, salah satu cara mengenakan keris sebagai pakaian kelengkapan Adat Jawa Tengah terutama di Surakarta. Keris diselipkan di sela lipatan sabuk lontong, diantara lipatan kedua dan ketiga. Kedudukan keris tegak, ditengah punggung si pemakai sedangkan hulu dan warangka keris menghadap kekiri. Cara ini dipakai untuk menghadap orang yang dihormati, umpamanya Raja atau berada ditempat yang perlu dihormati seperti mesjid, makam dan sebagainya. 
ANGGABAH KOPONG,  salah satu dari 4 macambentuk ujung sebilah keris atau tombak, menyerupai sekam padi kopong biasanya buatan Pajajaran atau Tuban banyak yang berbentuk Anggabah Kopong. 
 
ANJANI, NI EMPU, EMPU wanita terkenal dijaman Pajajaran sekitar abad 11, umumnya bilahnya tipis, panjangnya cukup dan manis, besinya pilihan, tempaan matang dan berwarna hitam. Pamornya tergolong Mubyar, biasanya Udan Mas, Wos Wutah atau Pendaringan Kebak dan pamor sejenis itu.
 
  
ANGGREK KAMAROGAN, KINATAH, adalah hiasan berupa pahatan relief (gambar timbul) pada sebilah keris atau tombak. Bentuknya berupa rangkaian bunga anggrek.

Pahatan ini hampir selalu dilapisi dengan logam emas atau emas dan perak, paling sedikit hiasan ini memenuhi setengah bilah. Dahulu yang berhak memakai ini hanya kerabat Raja dan Patihnya saja. 

 
ANOMAN, Nama dapur keris Luk Lima. Ukuran panjang bilahnya sedang, memakai kembang kacang, lambe gajahnya hanya satu, pakai ri pandan, sogokannya rangkap dan panjang sampai kepucuk bilah, selain itu tidak ada ricikan lain. Keris ini gampang dikenali karena sogokannya yang panjang tersebut.

 
ANUKARTO, PAMOR, lihat pamor rekan. 
AREN, KAYU, jenis kayu biasanya untuk tangkai tombak (Landeyan, bahasa Jawa), karena cukup berat biasa dipakai prajurit berbadan cukup kuat.
 
ARJANATI, KANJENG KYAI, salah satu tombak pusaka Pura Pakualaman, Yogyakarta. Bentuknya tidak biasa termasuk Kalawija, bilah lurus, pipih dan dibagian pangkal seolah digigit moncong Naga bersayap. Sayap naga tersebut dua susun, depan dan belakang dan masing masing susun memiliki lima bulu. Tombak ini tergolong nom-noman.
 
ASIHAN, PAMOR, gambar motifnya seolah menyatu antara gambar yang ada di bilah keris dan pamor yang ada di bagian ganja nya, pamor ini tidak berdiri sendiri dan selalu digabingkan dengan pamor lain yang lebih dominan seperti Ngulit Semangka Asihan dan sebagainya.
 
AWAR-AWAR, KAYU, sering dipakai untuk rangka keris karena memiliki poleng hitam seperti kayu Timoho walau tidak seindah Timoho serta bahannya lunak.
INDEX – B
 
BADAELA, pamor yang dianggap kurang baik termasuk pamor tiban dan terletak di sor-soran, karena tuahnya buruk maka sering diberikan ke museum atau dilarung.
 
BAKUNG, nama dapur keris luk lima, ukuran panjang bilahnya sedang. Cekungan pejetannya dalam, tikel alis dan greneng, selain itu tidak ada ricikan lain.
BALEBANG, dapur keris luk lima, ukuran panjang bilah sedang, kembang kacang, lambe gajah satu, sogokan rangkap pakai sraweyan, tanpa greneng. Selain luk lima juga ada Balebang luk tujuh dengan kembang kacang, lambe gajah satu, sogokan rangkap dan sraweyan.
BALEWISA, KANJENG KYAI, pusaka Kraton Yogyakarta, berdapur Parungsari, wrangka dari kayu Timoho dengan pendok bunton terbuat dari suasa. Semula milik Tumenggung Sasranegara kemudian diberikan ke anaknya Tumenggung Sasradiningrat yang menjadi menantu Sri Sultan HAMENGKU BUWONO I, keris ini kembali ke Kraton dijaman Sri Sultan HAMENGKU BUWONO V.
 
 
BANGO DOLOG, Dapur keris luk tiga , ukuran bilah sedang, memakai kembang kacang, lambe gajah dua, pejetannya dangkal, memakai tikel alis. Bagian belakang bilah, dipangkal (sor-soran) tepinya tidak tajam sampai ke luk yang ke dua selain itu tidak ada ricikan lainnya.
BANCEAN, Wrangka kombinasi gaya Surakarta dan Yogyakarta  disebut juga Bincihan. 
BANDOTAN, Salah satu dapur tombak luk tujuh, sepertiga panjang tombak lurus sedangkan dua pertiga baru ada luk nya, sisi kiri/kanan bawah ada gandiknya berukir naga kadang dihias kinatah, badan kedua naga tersebut menyatu dan menghilang membentuk ada-ada yang besar dan menonjol mengikuti luk.
BANJURA, KI EMPU, seorang EMPU pada kerajaan Demak dan jarang tercatat dibuku, buatannya bentuk ganjanya datar, rata dan tipis, guru melednya kecil , sirah cicaknya panjang tetapi tidak sampai meruncing pada bagian ujung. Bilahnya sedang dan ramping seperti buatan EMPU Majapahit tetapi besinya memberi kesan “kering berpori dan kurang tempaan, pamornya sederhana, kembang kacangnya ramping tetapi lingkarannya besar, blumbangannya berukuran dalam tapi sempit, sogokannya dangkal dan panjangnya cukup, secara keseluruhan memberi kesan wingit.

BANYAK ANGREM, salah satu dapur tombak seperti angsa mengeram, tidak symetris, lebar bagian bawah, permukaan datar tetapi memakai ada-ada tipis ditengah bilah, ricikan lain tidak ada. Dapur ini banyak terdapat pada tombak lama dan dibuat bukan untuk berperang tetapi sebagai pusaka. 

BANYAK WIDE, EMPU, hidup jaman Pajajaran, ada yang menyebut namanya Ciung Wanara, hasil karyanya ganjanya tergolong panjang (ganja wuwung), guru meled juga panjang, sirah cecak membulat tetapi tepat bagian cocor meruncing kecil , besi keris hitam berkesan padat dan liat dan secara keseluruhan memberi kesan angker, wingit.
BARU, nama salah satu dapur tombak lurus, Bilahnya simetris. Bentuk menyerupai daun bambu dengan sedikit lekukan landai dibagian bawah pinggangnya. Lebar bilah bagian bawah sedikit lebih lebar daripada bagian atas pinggang. Tombak ini memakai bungkul dibagian sor-soran, bilah diatas sor-soran berbentuk ngadal meteng. Dapur Baru ini tergolong popular, banyak dijumpai terutama pada tombak buatan Majapahit dan Belambangan.
 
BARU CEKEL, nama salah satu dapur tombak lurus, bagian tengah bilah agak kebawah ada tekukan landai membentuk semacam pinggang yang cukup ramping, memakai ada-ada dan bungkul kecil. Sisi bilah paling bawah bentuknya menyudut, tetapi permukaan bilah yang menghadap kebawah bentuknya datar.
 
BARU GRONONG, nama salah satu dapur tombak lurus, bilahnya simetris, bentuknya pipih, tipis, mempunyai lekukan landai dibagian tengah bilah yang menyerupai pinggang. Lebar bilah bagian atas lebih sempit disbanding bagian bawah pinggang. Diatas metuk ada bungkul. Tombak ini memakai kruwingan dikiri kanan bagian bungkul tetapi permukaan bilahnya tidak memakai ada-ada.
 
BARU KALANTAKA, salah satu dapur tombak lurus, dibagian sisi tengah bilah ada lekukan landai membentuk semacam pinggang yang tidak begitu ramping. Bagian dibawah pinggang ini lebih besar daripada bagian diatasnya. Memakai ada-ada, dibawah ada-ada ada bungkul kecil. Sisi bilah yang menghadap kearah bawah membulat membentuk semacam separuh elips.
 
BARU KARNA, lihat BARU KUPING.
 
BARU, KANGJENG KYAI, tombak pusaka Kraton Yogyakarta, berdapur baru, semula milik Ki Sawunggaling dari Bagelen kemudian diberikan ke Pangeran Mangkubumi melawan penjajahan Belanda.
 
BARU KUPING, nama salah satu dapur tombak lurus, bilahnya simetris, menyerupai daun bambu, dengan sedikit lekukan landai pada bagian bawahnya. Hampir mirip bentuknya dengan tombak dapur Baru. Lebar bagian bawah pinggang sedikit lebih kecil dari atas pinggang, memakai bungkul diatas mentuk, permukaan bilah tombak diatas bagian bungkul berbentuk ngadal meteng.
 
BARU PENATAS, tombak salah satu dapur lurus, simetris, pipih dan tipis. Mempunyai lekukan seperti pinggang ditengah, lebar bagian bawah pinggang lebih besar daripada bagian atas, diatas bagian metuk ada bungkul besar, permukaan bilah tombak diatas bungkul berbentuk ngadal meteng.
 
BARU TEROPONG, salah satu dapur tombak lurus, bagian tengah ada tekukan landai seperti pinggang tetapi tidak begitu ramping. Bilahnya agak tebal, tidak memakai ada-ada tetapi memakai bungkul berukuran besar namun tipis dan tidak begitu menonjol. Permukaan bilah tombak berdapur umumnya nggigir sapi.
 
BASSI PAMARO, sebutan bagi pamor Luwu, biasa dipakai orang Malaysia, Singapore dan Brunei dan menjadi bahan dagangan semenjak jaman Majapahit.
BATANG GAJAH, KANGJENG KIAI, Keris pusaka Kraton Yogyakarta berdapur Carita Luk 11, wrangkanya kayu Trembalo, pendoknya emas blimbingan rinaja warna. 

BATU LAPAK, pamor yang selalu menempati bagian sor-soran sebuah keris, badik, pedang atau tombak. Bentuknya merupakan berkas garis yang melengkung setengah lingkaran atau menyudut dan tergolong pamor miring serta pamor rekan , tuahnya bisa melindungi dari bahaya tak terduga.

BAWANG SEBUNGKAL, pamor dengan bentuk mirip dengan irisan bawang, menempati sor-soran keris tergolong pamor miring dan rekan. Tuahnya memelihara ketenangan dan ketentraman rumah tangga.
BEKEL JATI, EMPU, hidup di Tuban pada jaman Majapahit, tanda kerisnya Panjang bilah sedang, condong kedepan sehingga berkesan menunduk, lebar bilah dan ketebalannya cukup, bagian ganja agak sempit dibandingkan buatan Tuban lainnya dan termasuk ganja wuwung. Jika kerisnya berluk, maka luk nya dangkal (kemba), kembang kacangnya bagus tetapi lambe gajahnya tergolong kecil. Sogokannya dangkal dan pendek, janurnya dibuat agak tumpul dan umumnya berpamor Wos Wutah, Bendo Segara, Udan Mas.
BENDO SAGODO, pamor yang gambarnya merupakan bentuk gumpalan yang mengelompok rapat, masing masing gumpalan terpisah jarak 0.5 cm – 1 cm dan tergolong pamor rekan. Tuahnya gampang mencari rezeki dan pamor ini tidak pemilih.
 
BERAS WUTAH, lihat WOS WUTAH.
 
BERAS WUTAH PELET, gambaran pada wrangka kayu Timoho yang berupa bintik besar dan kecil berwarna hitam tersebar tak beraturan, katanya mempunyai tuah yang baik untuk mencari rezeki.
 
BESI KUNING, atau wesi kuning sebutan senjata tradisional yang terbuat logam bewarna kuning biasa berbentuk bukan keris tetapi pangot, patrem, golok pendek dan orang orang tua mengatakan bahwa besi kuningan merupakan campuran unsure besi, timah putih, perak, seng, timbal, tembaga, emas. Dipercaya mempunyai kekuatan gaib menjadi orang kebal terhadap senjata lain.
 
BESUT, lihat MASUH.
BETOK, salah satu dapur keris berukuran bilahnya lebar dibandingkan bilah keris lainnya. Panjang bilahnya pendek lurus, gandiknya panjang, pejetannya dangkal, dan merupakan keris yang tua umurnya.
 
BIMA KURDA, salah satu dapur keris luk 13, memakai kembang kacang, jenggot susun, lambe gajah satu, tanpa sogokan, tanpa tikel alis. Selain itu memakai Sraweyan dan greneng lengkap. Selain luk 13 ada juga yang luk 23 dan ukuran kerisnya lebih panjang dari kalawija, ricikannya memakai kembang kacang, lambe gajah dua, sogokannya dua, ukurannya normal, memakai greneng lengkap atau hanya ri pandan.
 
BIRAWA, KANGJENG KYAI, keris pusaka Kraton Yogyakarta, berdapur Carita, luk 11. Wrangkanya terbuat dari kayu Timoho dengan pendok dari emas bertahta berlian. Semula ini punya Sultan HAMENGKU BUWONO I yang dianugrahkan ke Pangeran Hadikusuma, putranya, akhirnya setelah berganti ganti pemilik kembali lagi ke Kraton dengan harga 300 ripis.
 
BIRING DRAJIT, salah satu dapur tombak lurus, bilahnya simetris. Sisi bilah tombak di bagian tengah ada lekukan dalam,bentuknya menyerupai pinggang yang sempit dan ramping, bagian bawah pinggang ini lebih lebar dibandingkan bagian atas pinggang. Disisi paling bawah ada dua bagian yang menyudut.
Tombak ini memakai ada-ada tipis ditengah bilah mulai bawah sampai ke ujung. Separuh bilah tombak kebawah permukaannya berbentuk ngadal meteng tetapi selebihnya datar saja.
 
 

INDEX – C

CACAP, Suatu kebiasaan keliru yang dilakukan pemilik keris dimasa lampau yaitu merendam bilah kerisnya dengan bisa ular atau isi perut ketonggeng, hal ini bisa merusak bilah . 
 
CACING KANIL, nama salah satu dapur tombak luk 3, 5 atau 7, mirip cacing menggeliat dan berbentuk beda dengan luk keris biasa, pada cacing kanil maka luk mengarah kesegala arah. Tombak dengan motif cacing kanil tidak pipih tetapi bulat atau persegi, bisa segi 3, 4 atau berbentuk belimbing.
Tombak cacing kanil sekarang berubah fungsi bukan sebagai tombak tetapi banyak digunakan sebagai tongkat komando. 
CALURING, atau Cluring merupakan dapur keris luk 11, memakai kembang kacang dengan sogokan rangkap tanpa ricikan lain, bilah panjang dan tebal, luk nya makin keujung makin rapat, keris ini mudah dikenali dari luk nya.
Ada juga Caluring luk 13 dengan ricikan yang sama.
 CAMPUR BAWUR, keris luk 3, ukuran bilah sedang, luk ada di atas, bawah dan tengah keris sehingga keris cenderung lurus. sogokan  keris rangkap, memakai greneng dan pejetan. 
CANCINGAN, lihat KANCINGAN. 
CARANG MUSTOPO, EMPU, hidup dijaman PAKU BUWONO IV, dikenal juga sebagai EMPU Kyai Mustopo, kerisnya dikenali sebagai berikut , ganja model Sebit Ron Tal, gulu meled sempit, buntut cicak model buntut urang, ukuran ganja seimbang dan serasi dengan panjang bilah. Bilah ramping dengan posisi agak merunduk, matang tempaan dan rapih, keris yang lurus rata rata lebih tebal dibandingkan yang luk. Pamornya sederhana berpenampilan tampan, sopan dan rapi menyenangkan.
CARANG SOKA, Keris luk 9, memakai kembang kacang, lambe gajah satu, sraweyan, ri pandan.
CARITA, keris luk 13, ukuran bilah sedang memakai kembang kacang, lambe gajah satu, sogokan rangkap dan greneng. Ada juga Carita luk 11.
CARITA BUNTALA, keris luk 13, bilah sedang, kembang kacang, lambe gajah satu, sraweyan, ri pandan, kruwingan tidak melengkung landai tetapi berbentuk patah kaku. Ada juga luk 15, memakai kembang kacang, lambe gajah dua, memakai jalen, sraweyan, ri pandan.
CARITA BUNGKEM,  
CARITA DALEMAN, keris luk 11, panjang bilah sedang, kembang kacang bungkem, jenggot dan greneng serta lis-lisan dan gusen.
CARITA GANDU, keris luk 11, ukuran sedang, kembang kacang, jenggot, lambe gajah satu, sraweyan dan ri pandan.
CARITA GENENGAN,  keris luk 11, bilah sedang, luknya dalam, kembang kacang, jenggot dan lambe gajah satu, sogokan rangkap, sraweyan dan ri pandan. Dapur ini disebut juga Carita Gunungan.
CARITA KANAWA, keris luk 9, panjang bilah sedang, kembang kacang, lambe gajah dua, jalen dan jalu memet, dus sogokan normal, sraweyan, lis-lisan, gusen, kruwingan.
CARITA KAPRABON, keris luk 11, bilah sedang, gusen sampai keujung bilah, kembang kacang, tikel alis, jenggot, jalen, jalu memet, lambe gajah dua, sraweyan, ri pandan, greneng tanpa sogokan.
CARITA PRASAJA, keris luk 11, bilah sedang, kembang kacang dan lambe gajah dua.
CARUBUK, keris luk 7, panjang bilah normal, kembang kacang, lambe gajah dua, sraweyan dan greneng lengkap, ada yang mengatakan harus ditambahi dengan kruwingan.
CELURIT, senjata tradisional Madura, mirip arit, sabit tetapi bagian lengkung diujungnya lebih panjang dan runcing.
CENDANA KAYU, bahan pembuat wrangka yang banyak disukai terutama didaerah Surakarta sekitarnya. Pohonnya berkayu keras dengan tinggi bisa mencapai 15 m, kayu cendana dari Sumbawa terkenal harum baunya lebih dari cendana jawa. Urat kayu cendana yang bagus disebut ngulit urang, doreng, makin bagus makin mahal harganya.
CENGKRONG, salah satu dapur keris lurus, bilahnya sedang posisinya agak membungkuk, bagian gandik terletak dibelakang, panjang sampai lebih dari setengah bilah, tanpa ricikan apa apa, beberapa jenis dapur cengkrong ada yang luk 3, 5, 7, luk terletak diujung keris, dulu banyak dimiliki oleh alim ulama.
CENDANA MINYAK, untuk meminyaki keris, karena mudah menguap dan terlalu kental maka dicampur minyak klentik atau minyak mesin.
CEPLOK BANTENG, PELET, pelet kayu timoho yang bintik bintik besar rapat satu sama lainnya, kadang bersinggungan dan menyebar diseluruh permukaan kayu wrangka. Tuahnya baik untuk kewibawaan.
CEPLOK KELOR, PELET, pelet kayu timoho, bulatan bulatan sebesar daun kelor agak lonjong, menyeluruh di wrangka, tuahnya dapat menawarkan ilmu jahat.
CINCIN KERIS, lihat Mendak,
CITRO, salah satu dapur tombak luk 13 mempunyai semacam kembang kacang, dua lambe gajah ditepi bilah menghadap kebawah didekat bagian mentuk, selain itu memakai ada-ada tipis disepanjang bilah, kebanyakan buatan Mataram.
COCOR, bagian paling depan dari ganja dan merupakan bagian ujung dari sirah cicak. Cocor ada yang tumpul ada yang runcing, kadang disebut cucuk.
CONDONG CAMPUR, salah satu dapur keris lurus, panjang bilah sedang dengan kembang kacang, lambe gajah satu, sogokan hanya satu didepan dan ukuran panjang sampai ujung bilah, sogokan belakang tidak ada, selain itu juga memakai gusen dan lis-lisan.
CUNDRIK, salah satu dapur keris lurus berukuran kecil sekitar sejengkal bilahnya umumnya agak tebal dan membungkuk, gandik terletak dibelakang berukuran panjang dan terdapat kruwingan yang jelas dan tegas, sepintas seperti keris Cengkrong.
CUNDUK UKEL, keris yang diberikan mertua kepada menantu nya sebagai ikatan keluarganya, biasanya sebelum diberikan ke menantu terlebih dahulu diberikan kepada anak perempuannya. Bila suatu saat mereka bercerai maka keris itu dikembalikan kepada anak perempuan tersebut.

CURIGA, kata lain dari keris yang lebih halus dan sopan

 
 
 

INDEX – D

DADUNG MUNTIR, pamor yang hampir mirip pamor Sada Saler, bedanya garis yang menjulur sepanjamg bilah tidak berbentuk garis biasa tetapi lukisan pamor yang mirip dengan pintalan tambang atau pintalan tali. Tuahnya menambah kewibawaan dan keberanian serta keteguhan hati, tergolong pamor rekan dan banyak terdapat  pada keris dan tombak buatan Madura, termasuk pamor pemilih, tidak setiap orang bisa cocok.
DAMAR MURUB, lihat URUBING DILAH.
DAN RIRIS, lihat PANDAN IRIS.
DANUWARSA, KANGJENG KYAI, keris pusaka Kraton Yogyakarta berdapur Jalak Sangu Tumpeng, warangkanya dari kayu trembalo, pendoknya dari suasa, merupakan putran dari KKA KOPEK, buatan Empu Supo dibuat jaman HAMENGKU BUWONO V. 
DAPUR, adalah penamaan ragam bentuk atau tipe keris, sesuai dengan ricikan yang terdapat pada keris itu dan jumlah luk nya. Penamaan dapur keris ada patokannya, ada pembakuannya. Dalam dunia perkerisan, patokan dan pembakuan ini biasanya disebut pakem dapur keris.  
DARADASIH, nama salah satu dapur tombak luk 5, ditengah bilahnya memakai ada-ada yang ukurannya besar dan tebal sehingga terlihat jelas, bilahnya tebal dan ditepinya ada gusen serta lis-lisan, sisi bilah bagian bawah tombak ini berbentuk menyudut. Ricikan lainnya tidak ada.
DARADASIH MENGGAH, salah satu dapur tombak luk 5, pada luk pertama terdapat pudak sategal, serta kruwingan dibagian sor-soran, permukaan bilah pada separuh bagian atas cenderung datar tetapi bagian bawah berbentuk ngadal meteng. Sisi bilah yang menghadap terdapat semacam kembang kacang dan dua lambe gajah yang kecil kecil ukurannya. 
DEDER, bagian hulu keris terbuat dari kayu untuk pegangan keris itu, bentuk deder itu ada ratusan, tiap daerah punya ciri sendiri, di Yogyakarta dan surakarta disebut juga ukiran. Kayunya biasanya dipilih yang gampang diukir tetapi harus keras dan punya urat yang indah, kayu yang dianggap baik di Jawa adalah kayu Tayuman sedang di Malaysia, Riau, Brunei adalah kayu kemuning
DELING, PAMOR, nama lain dari Akhodiat di Madura, kalau menyebar dibilah keris disebut Delung Settong, kalau mengumpul diujung bilah disebut Deling Pucuk dan kalau dibagian pesi disebut Deling Paksi
DEWADARU, PELET, nama gambar pada warangka yang berupa garis garis tipis dan tebal berwarna hitam atau coklat tua berjajar dari atas kebawah atau miring, tuahnya bisa mendapat keberuntungan, karena indahnya maka timoho pelet dewadaru banyak dicari orang.
DORA MENGGALA, salah satu dapur tombak luk 5, memakai pudak sategal dan kruwingan , bilah bagian bwah sor-soran agal tebal, tetapi mulai tengah bilah sampai ujung tipis dan datar. Pada sisi bilah uang menghadap kebawah terdapat bentuk yang menyerupai kembang kacang dan satu lambe gajah berukuran kecil.
DORENG PELET, gamvaran warangka kayu timoho berupa jurai jurai berwarna hitam atau coklat pada permukaan kayu, sepintas mirip kulit harimau, gambaran ini selain di kayu timoho juga ada pada kayu cendana dan kayu yang lain.
DRAJIT, nama keris luk 21, tergolong kalawija, ukuran kerisnya sedikit lebih panjang daripada keris bukan kalawija. Mempunyai kembang kacang, lambe gajah dua dan sraweyan. Tergolong keris langka dan buatan lama.
DUNGKUL, lihat WUNGKUL.
DUWUNG, padanan kata keris, dianggap lebih halus dan biasa digunakan oleh priyayi Jawa.
DWISULA, tombak bercabang dua, ada yang lurus dan ada yang ber luk 3, 5 atau lebih, tidak terlalu populer dibandingkan tombak Trisula, kegunaannya lebih sebagai tombak pusaka yang tidak dipakai secara langsung dalam pertempuran, biasanya dibuat indah bahkan ada yang diberi kinatah.
 
INDEX – E

EKSOTERI KERIS, ilmu mengenai keris yang tampak dari luar  dan merupakan lawan dari esoteri keris.
ENDAS BAJA, pamor yang menurut banyak orang bertuah buruk, katanya pemiliknya akan sering mendapat musibah karena ulahnya sendiri. Apa yang dilakukan serba salah, sebaiknya dibuang atau dilarung , pamornya selalu terdapat pada bagian sor-soran.
ENTO-ENTO, atau ngento-ento merupakan nama desa di Sleman yang pada masa silam merupakan tempat Empu Supo Winangun. Menurunkan Empu Jeno Harumbrojo dan Empu Genyo.
ENTO WAYANG, Empu yang hidup zaman Kartasura, anak Empu Supanjang dan leluhur Empu Jeno. Tanda tanda kerisnya tidak tercatat hanya selalu membuat keris gaya Mataraman.
EPEK, semacam ikat pinggang tradisional dan merupakan kelengkapan pakaian Jawa, terbuat dari bludru dan kadang dihiah benang emas atau manik manik, lebar sekitar 6 cm dan panjang sekitar 95 cm sampai 140 cm.
Sebuah epek baru dapat dikenakan bila dilengkapi timang, semacam kepala ikat pinggang, pada umumnya berwarna dasar hitam, kadang ada yang berwarna dasar  merah, biru atau hijau. Disesuaikan dengan baju yang dipakai.
ERI CANGKRING, bagian yang menonjol pada sisi atas ditepi sebuah warangka gaya Surakarta, Yogyakarta, Madura atau Bali, berbentuk menyudut tajam menonjol sekitar 0.5 cm dan tempatnya sejajar dengan tengah lobang searah dengan garis pesi keris.
ERI WADER, pamor yang menyerupai tulang ikan, sepintas seperti pamor Ron Genduru, bedanya lebih kurus dan tergolong pamor miring. Pembuatannya tergolong sukar dan karena dapat dirancang maka termasuk pamor rekan. Pamor ini tergolong pemilih dan dipercaya dapat menambah wibawa pemiliknya.
ESOTERI KERIS, ilmu yang memusatkan pada apa yang tidak tampak dari luar, membicarakan mengenai tuah, tanjeg, tayuh, khasiat, daya magis, manfaat, pengaruh, penunggu dan semacamnya. Terlepas dari benar atau tidaknya maka esoteri ini merupakan salah satu budaya per-kerisan dan dibicarakan juga dinegara lain dan kadang sering dibicarakan dari sudut agama.
 

INDEX – G
 

GABILAHAN, sebutan orang Madura untuk warangka model Gayaman, khususnya bergaya Madura.
GADA TAPAN, KANGKENG KYAI, tombak pusaka Kraton Yogyakarta, berdapur Gada. Kini KK Gada Tapan dan KK Gada Wahana menjadi dua tombak pendamping pusaka KK Ageng Pleret.
GADA WAHANA, KANGJENG KYAI, puasa Kraton Jogya, berdapur Gada dengan hiasan sinarasah emas, berasal dari pemberian pendeta dari Pratiwagung pada Sri Sultan HAMENGKU BUWONO III.
GADING, bahan baku untuk warangka yang banyak jumlahnya, gading gajah afrika umumnya panjangnya mencapai 2 m  dengan berat rata-rata 21 kg sedang gajah asia beratnya sekitar 19 kg dengan panjang rata-rata 160 cm saja. Gajah Sumatra gadingnya termasuk paling mahal dengan warna lebih putih dan keretakan tidak banyak, gajah Thailand agak kekuningan warna gadingnya dan keretakan agak banyak, sedang gajah Afrika banyak retak gadingnya. Sebagian pecinta keris menolak menggunakan warangka gading ini karena kekerasannya dapat membuat aus bilah keris dan merusak pamor, itulah sebabnya keris pusaka tidak ada yang diberi warangka gading.
GAJAH MANGLAR, KANGJENG KYAI, keris pusaka Kraton Yogyakarta, berdapur Gajah Manglar, warangka dari kayu Timoho, pendoknya dari emas bertahtakan intan berlian. Semula milik Sri Sultan HAMENGKU BUWONO I, diserahkan kepada putranya Pangeran Demang dan pada zaman Sultan  HAMENGKU BUWONO V kembali ke Kraton.
GAJAH SINGA, nama salah satu jenis hiasan kinatah yang ditempatkan bagian bawah ganja. Permukaan yang tidak tertutup hiasan gajah singa dihiasi ornamen hiasan lain. Kinatah gajah singa diberikan karena keris tersebut telah berjasa membantu pemiliknya, terjadi pada pemerintahan Sultan Agung Anyokrokusumo. waktu itu didaerah Pati, Jawa Tengah bagian utara, terjadi pemberontakan yang dipimpin Adipati Pragola, sesudah pemberontakan berhasil dipadamkan maka Raja Mataram memberikan tanda kehormatan Kinatah Gajah Singa pada prajuritnya.
Semua keris para prajurit sampai perwira dikumpulkan dan diberi hiasan kinatah Gajah Singa kemudian dikembalikan lagi kepada yang punya, ini untuk peringatan Mataram memadamkan pemberontakan Pati karena Gajah Singa artinya perlambang angka tahun sesuai dengan candra sengkala, Gajah melambangkan angka 8 sedangkan Singa angka 5, curiga (keris) angka 5 dan tunggal melambangkan angka 1 dan karena candra sengkala (lambang angka tahun) selalu dibaca dari belakang maka yang dimaksud adalah 1558 kalender Jawa. Walau penghargaan kinatah Gajah Singa diberikan pada zaman Mataram tetapi ada juga keris buatan Majapahit, Tuban, Jenggala dan Singasari menggunakan hiasan itu.
GANA KIKIK, salah satu dapur keris lurus yang panjang bilahnya berukuran sedang, keris ini memakai gusen, ada-adanya tebal dan nyata, gandik keris ini diukir dengan bentuk srigala sedang melolong, kaki depan tegak sedang kaki belakang ditekuk. Ada yang menyebutnya dapur Kikik saja atau Naga Kikik, dapur ini tergolong populer dan banyak penggemarnya karena indah bentuknya dan tinggi mutunya.
GANDAR, adalah salah satu bagian dari warangka keris, dibuat dari kayu yang tidak terlalu kerasbentuknya bulat panjang dan pipih, kegunaannya untuk melindungi bilah keris, banyak gandar dilapisi selongsong logam berukir indah dan disebut pendok.
GANDAR IRAS, warangka yang menyatu dengan gandar , jadi seluruhnya dibuat dari satu bongkah kayu tanpa sambungan apapun. Warangka Gandar Iras selalu lebih mahal dari warangka biasa karena bahan kayu yang utuh dan cukup untuk membuat warangka ini sulit dicari dan banyak bahan terbuang dalam proses pembuatannya.
GANDAWISESA, KANGJENG KYAI, keris pusaka Kraton Yogyakarta, berdapur Naga Siluman, warangka dari kayu Trembalo dan pendok bertahta rajawarna. Keris ini buatan Penembahan Mangkurat dizaman pemerintahan Sri Sultan HAMENGKU BUWONO V.
GANDIK,  adalah bagian “raut muka” dari sebilah keris. Ada gandik polos, ada yang dilengkapi racikan lain. Letaknya tepat diatas sirah cecak. Bagian gandik ini hampir selalu berada dibagian depan keris, hanya pada beberapa dapur keris antara lain dapur “cengkrong” yang letaknya dibelakang dari bilah keris. Kata “gandik” dalam bahasa Jawa berarti batu penggilas yang bentuknya bulat panjang. Ukuran dan ketebalannya bermacam-macam.

GANJA, bagian bawah dari sebilah keris, seolah-olah merupakan alas atau dasar keris tersebut, pada bagian tengahnya ada lobang untuk memasukan bagian pesi. Bagian bilah dan bagian ganja dari sebilah keris merupakan kesatuan yang tak terpisahkan  melambangkan kesatuan lingga dan yoni, ganja mewakili lambang yoni sedang bilahnya melambangkan lingga. Bentuknya sepintas mirip buntut cecak tanpa kaki, bagian depanya mirip kepala cecak disebut sirah cecak, begitu pula bagian perut dan ekornya , bagian “perut” ganja disebut Wetengan atau Gendok, sedang bagian “ekor” disebut buntut cecak. Ragam bentuk ganja ada beberapa macam, ganja Sebit Ron Tal, Wulung, Wilut, Dungkul, Kelap Lintah. Disemenanjung  Melayu, Brunei, Serawak dan Sabah serta Riau disebut juga Aring, namun sering disebut ganja saja.

GANJA WULUNG,  Ganja yang tidak berpamor, banyak pendapat emngapa kerisnya berpamor bagus sedangkan ganjanya tidak berpamor. Pertama, keris itu adalah keris yang bagus kemudian dibuatkan putran-nya (duplikat), bagian ganja keris yang bagus itu dilepas lalu dijadikan campuran bahan baku pembuatan keris duplikat, sedangkan keris aslinya dibuatkan ganja wulung. Kedua, pada jaman dulu banyak orang yang memahami ilmu keris terutama isoterinya, dengan hanya melihat bagian ganjanya yang tampak orang akan menduga keris itu berdapur apa, pamornya apa, dan apa tuahnya dengan demikian apabila orang tersebut telah tertebak apa tuah kerisnya dia merasa seperti “ditelanjangi” sehingga untuk menutupinya dia memesan ganja wulung. Ketiga karena ganjanya rusak dan diganti.
GANDRUNG, PELET, gambaran pada warangka kayu Timoho berupa bulatan besar tidak teratur  dipermukaan, selain indah bertuah baik dan disenangi orang sekeliling, banyak dicari oleh Dalang.
GAYAMAN, nama salah satu bentuk warangka didaerah Surakarta dan Yogyakarta, mirip bentuk buah gayam, makanya disebut gayaman. Bentuk gayaman Yogyakarta agak beda dengan gayaman Surakarta, begitu pula gayaman Madura (gabilahan), warangka ini paling banyak dipakai orang karena lebih sederhana , ringkas ukurannya dan tidak mudah patah dan umum digunakan sehari-hari sebagai kelengkapan pakaian daerah.
 
GEDONG PUSAKA, bangunan khusus di keratom tempat penyimpan pusaka, hanya petugas khusus dan kerabat raja tertentu yang boleh masuk.
GENDOK, atau wetengan atau waduk adalah nama bagian tengah ganja, bentuknya menggembung bagaikan perut kenyang. Ditengah bagian gendok terdapat lubang untuk memasukan pesi. Sebagian orang menyebutnya wadukan.
GENYODIHARDJO, pandai keris dari Yogyakarta, kakak empu Jeno walau garapannya masih kalah dari empu Genyo.
GIRIREJO, KANGJENG KYAI, keris pusaka Kraton Yogyakarta, berdapur Carita luk 11, warangka dari kayu Timoho, pendok dari pendok slorok terbuat dari suasa, sedang seloroknya dari emas murni. Keris ini dibeli Sri Sultan HAMENGKU BUWONO V dari abdi dalem bernama Bekel Wasadikara.
GRENENG, salah satu bagian keris yang merupakan bagian tepi dari punggung keris sebelah pangkal, bagian tepi bilah ini bentuknya menyerupai gerigi dengan ujung-ujung runcing. Bentuk variasi dari gerigi ini berbeda dari daerah satu ke yang lain tetapi bentuk dasarnya sama. Ada yang mengatakan bahwa bentuk greneng merupakan tandatangan sang empu karena setiap empu terutama bagian Ron Da selalu berbeda satu dengan lainnya.

GODONG ANDONG, salah satu dapur tombak bilah lurus dan bilahnya simetris, bentuknya mirip gadong andong, ditengah memakai ada-ada dari pangkal hingga ujung bilah, ricikan lain tidak ada , dapur ini banyak terdapat pada tombak kuno terutama buatan zaman Pajajaran dan Segaluh.

GODONG DADAP, salah satu dapur tombak lurus seperti daun dadap, lebar, simetris dan tipis. Ditengah bilah dari bawah sampai atas memakai ada-ada tipis, ricikannya yang lain tidak ada. Biasanya tombak ini berukuran kecil kadang disebut dapur Ron Dadap.
GODONG SEDAH, salah satu dapur tombak lurus berukuran kecil, menyerupai daun sirih, lebar ditengah pipih, simetris dan tipis, bagian tengah dari bawah ke ujung terdapat ada-ada, biasa disebut Ron Sedah.
GODONG PRING, salah satu dapur tombak lurus seperti daun bamby, simetris kiri dan kanan, bilahnya tipis, hampir tak ada ada-ada, pada bagian bawah ada lekukan landai yang berbentuk semacam pinggang, pamor ini tergolong populer dan banyak dijumpai.
GOLOK, salah satu jenis pedang sabet dan berat bobotnya, bentuknya agak beragam umumnya berbentuk lameng pendek bagian punggungnya cembung  pada ujungnya, sedang bagian depannya lurus. Yang tajam hanya sisi depannya.
GOTHITE, mineral besi terdiri dari trioksida besi yang terikat air berwarna kekuningan, merah dan kecoklatan, rumus kimianya Fe2O3.H2O. besi ini kurang baik untuk bahan keris karena mudah keropos dan berpori.
GUMBOLO GENI, pamor yang menyerupai binatang kala atau ketonggeng dengan ekor mencuat keatas, pamor ini tergolong baik untuk menolak sesuatu yang tidak dikehendaki dan tergolong pemilih. Pamor ini selalu terletak di sor-soran.
GULING, EMPU, empu terkenal di zaman Mataram. Karya karyanya demikian indah. Tanda tandanya adalah, ukuran bilah lebih besar dari rata rata buatan Majapahit tapi lebih ramping, ganjanya melengkung, gulu melednya sempit sirah cecak berbentuk lonjong dan meruncing pada ujungnya, buntut urangnya berbentuk nguceng mati dan tidak pakai tunggakan, banyak keris karya Ki Empu Guling memakai Ganja Wulung.
Besi yang dipakai 2 rupa, yaitu hitam keabu-abuan dibagian tengah dan hitam legam dibagian pinggir bilah. Pamornya rumit dan halus, lembut dan padat. Penampilan keris secara keseluruhan memberi kesan gagah, berwibawa dan anggun. Kalau membuat kembang kacang bentuknya melingkar sekali, jalennya pendek tapi lambe gajahnya menonjol panjang. Sogokannya dangkal tapi panjang, janurnya berbentuk mirip lidi, terus tetap kecil sampai kebawah. Kalau membuat bagian Dha pada Ron Dha, lekukannya tergolong dangkal . jika tidak memakai kembang kacang maka gandiknya agak panjang dan tidak begitu miring.
GULU MELED, salah satu bagian dari ganja yang letaknya dibelakang sirah cecak, dibagian gulu meled ini, ukuran ganjanya menyempit dibandingkan dengan bagian depannya. Jadi mirip bagian leher seekor cicak.
GUNAWISESA, KANGJENG KYAI, pusaka Keraton Yogyakarta, berdapur Carita dengan bagian ganja bertahtakan intan. Warangkanya dari kayu Timoho dengan pendok emas rajawarna. Keris ini buatan empu keraton pada jaman pemerintahan Sri Sultan HAMENGKU BUWONO V.
GUNUNGAN, nama salah satu dapur tombak yang bentuknya menyerupai gunungan wayang kulit. Tombak ini umumnya menyerupai gunungan wayang kulit, berbilah tipis dan lebar, selain ada-ada pada bagian sor-soran tombak ini tidak punya ricikan apapun.
GUTUK API, KANGJENG KYAI, keris pusaka keraton Yogyakarta, berdapur Jalak, warangkanya dari kayu Timaha, pendoknya jenis blewahan terbuat dari emas bertahtakan intan permata raja warna. semula milik Sri Sultan HAMENGKU BUWONO I diberikan ke Pangeran Adinegara, putranya, selanjutnya jatuh ketangan Temenggung Mertadiningrat dan dikembalikan ke keraton pada mas Sri Sultan HAMENGKU BUWONO V.
GUSEN, adalah daerah sempit sepanjang tepi bilah keris atau tombak, daerah sempit itu yang dibatasi oleh tepi bilah yang tajam dengan garis lis-lisan.
GUNA, KYAI, empu terkenal yang hidup dijaman penjajahan Belanda, tinggal di Magetan, Madiun. Kerisnya berukuran panjang dan besar dan pada umumnya berdapur lurus. Karena dari bahan baja maka keris Kyai Guna terkenal amat kuat dan dapat melubangi kepingan logam, sampai saat ini keris buatan Kyai Guna masih populer didaerah Madiun dan Ponorogo dan sekitarnya. Banyak diantaranya tidak memakai bahan pamor, orang Madiun dan Jawa Timur menyebutnya keris pamor waja.

INDEX – H

HARJAMULYA, KANGJENG KYAI, salah satu keris pusaka Kraton Yogyakarta berdapur Cengkrong, warangka dari kayu Timoho, pendok blewahan terbuat dari emas, dengan ukiran bahan gading. Keris ini didapat Sri Sultan Hamengku Buwono II dari “Kangjeng Gubermen” sewaktu Sultan ditawan di Penang.
HULU  PEKAKAK, nama hulu keris terkenal disemenanjung Malaka, Riau, Jambi, Serawak, Brunei dan Sabah, terbuat dari kayu keras, gading atau perak. Bentuknya menyerupai kepala raksasa dengan mata besar dan hidung panjang yang distilir. Dipulau Jawa bentuk ini dijumpai juga didaerah Surakarta dan disebut Rajamala.
HULU BURUNG, nama salah satu jenis hulu keris berbentuk burung, bentuk ini sudah jarang dipakai namun dulu banyak dibuat orang di Jambi, Bangkinang, Riau dan Semenanjung Melayu serta Pathani (Thailand Selatan), terbuat dari bahan kayu yang keras, gading atau gigi ikan duyung, bahkan ada pula yang dari perak.

INDEX – I

ILAT-ILATAN, KENDIT, nama gambar pelet pada kayu Timoho, gambarnya mirip gambar pelet kendit biasa tetapi tidak menyambung dan agak bergelombang, lagipula garis tepi pelet itu tidak rata lurus melainkan seperti sobek sobek, sepintas lalu seperti lidah api yang menjulur, oleh karena itu dinamakan kendit ilat-ilatan., tuah pelet ini baik, pemiliknya mudah “mengikat” pengikut dan orang dibawah pengaruhnya sehingga banyak dicari mereka yang ingin menjadi pemimpin.
ILINING WARIH, nama pamor yang bentuk gambarannya menyerupai garis-garis membujur dari pangkal keujung bilah. Garis-garis ini ada yang utuh dan ada yang putus-putus, tetapi banyak yang bercabang. Pamor ini tergolong pamor rekan, tuahnya memperluas pergaulan dengan lapisan  masyarakat, pamor ini tidak memilih, ada yang menyebutnya banyu mili atau toya mili.
Sepintas pamor ini mirip pamor Adeg, bedanya pamor ini tidak sehalus pamor Adeg, lagipula garis-garis tersebut menampilkan kesan seperti air yang mengalir.
ILMENIT, jenis material besi terdiri dari trioksida besi-titanium, berwarna hitam metalik atau setengah metalik, banyak dijumpai dalam pasir besi, terkenal dengan nama pasir Ilmenit. Rumus kimianya Fe2O.TiO2. keris keris buatan pulau Jawa diduga banyak menggunakan bahan mineral ini.
INDARTO, MRANGGI, ahli pembuat Warangka dari Surakarta. Alamatnya , jalan Nirbitan no 3, Tipes, Surakarta.
INLAY, salah satu cara menghias tosan aji, caranya dengan membuat guratan dipermukaan bilah, alur yang terjadi kemudian diisi dengan cairan emas atau perak. Teknik ini banyak digunakan untuk membuat pedang di Iran terutama dikota Isfahan dan Shiraz, di Jawa disebut teknik Sinarasah, dalam pembuatannya teknik Inlay lebih mudah daripada pembuatan kinatah.

INDEX – J

JAKA LOLA, lihat KALOLA
 
JAKA PRATAMA, KANGJENG KYAI, nama salah satu pusaka Kraton Yogyakarta, berdapur Sengkelat Luk 13, warangkanya dari kayu Timoho dengan pendok emas bertahtakan Raja Werdi. Keris ini merupakan duplikat (putran) dari KK Sengkelat yang dibuat dihalaman Kraton, tadinya milik Penembahan Mangkurat, kemudian ditarik ke Kraton dimasa Sri Sultan HAMENGKU BUWONO V.
JAKA SURA, EMPU, EMPU yang hidup dijaman Majapahit, tinggal dikabupaten Jenu, Majapahit, sehingga dikenal juga dengan nama EMPU Adipati Jenu. Keris buatannya mempunyai ciri, Garis Ganjanya datar termasuk Ganja Wuwung, bagian sirah cecak meruncing dibagian ujungnya, ganja ini berukuran “agak gemuk” disbanding dengan ukuran bilah kerisnya. Ukuran bilahnya sedang, pamornya rumit dan halus. Besi yang digunakan hitam legam berserat halus, bilah keris tidak terlalu menunduk dibanding dengan keris buatan Majapahit lainnya. Kalau membuat kembang kacang selalu berbentuk Nguku Bima, lambe gajahnya panjang, blumbangannya agak dalam, begitu pula sogokannya dalam dan panjang, bagian janurnya dibuat tajam. Tikel alisnya juga dalam, secara keseluruhan keris buatan Empu ini berpenampilan keras gagah walau ukuran bilahnya tergolong kecil.
JAKA TUWA, nama salah satu dapur keris, panjang bilahnya sedang, lurus, gandiknya polos, pakai tikel alis, pejetan dan sogokan rangkap tapi pendek, panjang sogokannya hanya separuh dari ukuran normal, ricikan lain tidak ada, kadang disebut juga JAKA UPA.
JAKA TUWA, KANGJENG KYAI, keris pusaka kraton Yogyakarta, berdapur Pandawa Paniwen Panji Sekar, warangka dari kayu Timoho Bosokan Kendit Putih, pendoknya blewahan terbuat dari suasa. Semula milik Adipati Purwadiningrat dari Magetan diberikan ke putrinya Kangjang Ratu Kedaton, kemudian menjadi permaisuri Sri Sultan HAMENGKU BUWONO II sehingga kerisnya juga menjadi pusaka kraton.
JAKA UPA, lihat JAKA TUWA.
JALAK, nama salah satu dapur keris lurus ukuran bilah lebar, panjangnya sedang, sor-soran agak tebal, gandiknya polos pejetannya dangkal, memiliki sogokan rangkap.  Dibanding sogokan keris lain maka sogokan keris ini tergolong sempit.
JALAK DINDING, atau JALAK DINGIN, keris bilah lurus, ukuran panjang bilahnya sedang, memakai gusen, pejetan dan pakai tingil.  Sepintas mirip sekali dengan keris Tilam Sari, bedanya terletak pada gusen.
JALAK BUDA, keris yang bilahnya lebar, pendek dan lurus. Gandiknya polos, pejetannya dangkal, sogokan rangkap dan tipis, kadang pakai tinggil. Permukaan keris ini tidak rata melainkan kropos bopeng. Besinya mempunyai kesan ngelempung bagai tanah liat.
JALAK MAKARA,  seperti pamor JALAK hanya bagian bawah gandinya diukir timbul MAKARA.
JALAK NGORE, adalah salah satu dapur keris lurus, panjang bilah sedang, ada-adanya terlihat jelas dan tebal sampai keujung bilah, gandik polos, pakai pejetan, sraweyan dan greneng.
JALAK PITURUN, atau disebut juga JAKA PITURUN, keris lurus dengan panjang sedang dan gandik polos, memakai pejetan, tingil, ada-adanya jelas dan sogokannya rangkap. Bentuknya mirip Jalak Sangu Tumpeng, bedanya Jalak Piturun tidak pakai tikel alis dan ada-adanya tidak jelas.
JALAK NGUWUH, keris lurus dengan panjang sedang, gandik polos, memakai pejetan dan tingil. Ada-ada terlihat jelas dan tebal, sampai keujung bilah. Bentuknya mirip Tilam Sari, kadang dinamakan Jalak Nguwoh.
JALAK NYUCUP MADU, keris lurus, panjang normal, pejetan, gandik polos, greneng dan sogokan berukuran pendek didepan. Umumnya sogokan sempit dan dalam, memakai tikel alis.
JALAK SANGU TUMPENG, salah satu dapur keris bilah lurus, ukurannya sedang, gandiknya polos memakai tikel alis, pejetan, sogokan rangkap, sraweyan dan tingil. Ricikan lain tak ada. Tuahnya memudahkan mencari rejeki dan pamornya tidak pemilih. Biasanya dipunyai pedagang, pegawai Bank, pengusaha.
JALEN, bagian keris yang berbentuk tonjolan runcing, hanya satu buah, letaknya persis diketiak kembang kacang.
JALAK SUMELANG GANDRING,  keris dapur lurus, bilah sedang, gandik polos, pejetan dan sogokan satu didepan. Sogokan belakang tidak ada, memakai tikel alai, kruwingan dan tingil. Bagian ada-adanya cukup jelas.
JALU MEMET, nama bagian keris yang berupa tonjolan runcing, kecil, pada bagian paling bawah dari gandik. Diatas bagian Jalu Memet ini hampir selalu ada Lambe Gajah.
JAMANG MURUB, keris dapur lurus, panjang bilah sedang, bentuknya khas, karena gandiknya polos lebih miring disbanding gandik keris lain, memakai blumbangan, sogokan rangkap berukuran pendek, memakai lis-lisan dan gusen, ada-adanya cukup jelas.
JANGKUNG MANGKUNEGORO, lihat Segoro Winotan.
JANGKUNG, keris luk 3 ukurannya panjang, bilahnya sedang, kembang kacang berbentuk gula milir, sogokan rangkap dengan ri pandan.
JANGKUNG PACAR, Luk 3 panjang bilahnya sedang, kembang kacang, jenggot, lambe gajah dua, sogokan depan berukuran panjang, ada yang sampai tengah bilah dan ada yang sampai pucuk.
JAPAN, EMPU,  terkenal dijaman Surakarta Hadiningrat, keris buatannya berciri ganjanya agak melengkung, gulu melednya agak gemuk, sirah cicak meruncing pada bagian ujungnya, wetengannya meramping, buntut urangnya melebar. Bilahnya berukuran sedang , besi tempaannya matang, pamornya menancap lumer pandes pada permukaan bilahnya, motif pamor sederhana, Wos Wutah, Pendaringan Kebak dan pamor sejenis. Bilahnya tidak begitu condong kedepan disbanding dengan keris buatan Surakarta lainnya. Kalau membuat kembang kacang mirip gelung wayang, sogokan agak dalam dan makin meruncing keujung, blumbangannya lebar, dalamnya cukup. Kalau tanpa kembang kacang, gandiknya miring, secara keseluruhan berpenampilan berani dan berwibawa.
JARAN GUYANG, keris dengan Luk 7, gandiknya polos, pakai blumbangan, tingil atau tidak ada tingil melainkan greneng wuwung.
JAKASUKADGA, EMPU, terkenal dijaman PAKU BUWONO IX di Surakarta, buatannya banyak dicintai penggemar keris karena apik dan rapi. Pamornya nginden, ukurannya sedang, tidak terlalu tebal, besinya matang tempaan dan berwarna kebiruan, biasanya berpamor wos wutah, Pendaringan Kebak, Bendo Segoro, Buntut pari dan sejenisnya. Bagian ganja mendatar, sirah cicak berukuran sedang, guru meled dan wetengannya juga sedang, buntut urang melebar diujungnya, kembang kacangnya dibuat menyerupai gelung wayang, lambe gajahnya manis, sogokannya dalam, makin keujung makin sempit, bagian Dha pada Ron Dha dibuat rapi dan jelas. Jika mempunyai luk maka luknya mempunyai lekukan yang dalam sehingga secara keseluruhan berpenampilan menarik hati, tampan dan anggun.
JARUDEH, keris luk 9, ukuran sedang, kembang kacang dan lambe gajah satu, memakai jenggot dan sogokan.
JARUMAN, keris luk 9, ukuran bilah sedang, sogokan rangkap dan memakai sraweyan, gandiknya polos.
 
JAWA DEMAM, hulu keris yang dikenal di Semenanjung Malaysia, Jambi, Riau, Brunei, Sabah, berbentuk manusia dengan ikat kapala. Sedang melipat tangan didepan, bentuk distilir dengan indah terkadang masih dihiasi dengan ukiran halus dan rumit. Umumnya dari kayu keras, gading atau perak.
JAROT ASEM, nama pamor keris atau tombak yang tergolong langka, gambarnya menyerupai serabut kasar saling menyilang tetapi tidak saling tindih, tergolong pamor sukar pembuatannya dan masuk pamor rekan. Tidak memilih dan juga bertuah pemiliknya lebih teguh  hatinya dan besar tekadnya.
 
JENO HARUMBROJO, EMPU,  Kalangan pakar dan penggemar mengakui bahwa EMPU yang ada di Jawa saat ini tinggal satu, yaitu EMPU Djeno Harumbrodjo yang tinggal di desa Gatak, Sleman Yogyakarta (15 km barat Yogya) dari silsilahnya EMPU ini memang keturunan ke 15 dari EMPU Supo pada jaman kerajaan majapahit (abad 13).
JENGGOT, atau JANGGUT, nama bagian keris yang bentuknya berupa tonjolan runcing yang terletak di “dahi” kembang kacang. Jumlah tonjolan ini pada umumnya tiga buah berderetan.
JERUK NIPIS, lihat NIPIS, JERUK.
JIMAT, KANGJENG KYAI, salah satu Tombak Pusaka Kraton Yogyakarta, berdapur KUDUP GAMBIR, dimiliki Sri Sultan HAMENGKU BUWONO I sejak masih menjadi Pangeran Mangkubumi.
JIRAK, EMPU, terkenal didaerah Tuban jaman akhir Majapahit sekitar abad 12, keris buatannya bertanda khusus, besinya keras, kering tapi padat. Pamornya lembut menggerombol rapat, kebanyakan Wos Wutah atau Ngulit Semangka. Bentuk bilah manis menyenangkan, bagian “pinggang” bilahnya menyempit ramping, panjang bilah sedang, tebal tipisnya cukup. Kalau pakai sogokan dibuat dangkal, gandiknya pendek ganjanya tergolong ganja wuwung, guru meled dan bagian ganjanya sempit, secara keseluruhan keris ini berpenampilan ayu, cantik dan anggun.
JOHAN MANGANKALA, salah satu dapur keris luk 13, panjang normal, gandik polos, dua sogokan normal, sraweyan dan greneng lengkap.
JWALANA, lihat Pamor Tiban. 
 
 
 

INDEX – K

KACANG, EMPU KI, terkenal didaerah Madura pada jaman Majapahit mulai berdiri, tandanya bilah lebar, ukurannya  agak lebih panjang dari keris lainnya, besinya keras berpori halus namuk karena mengelompok ada kesan kasar. Ganjanya menampilkan kesan miring, kedudukan keris pada ganja miring kedepan sehingga ada kesan menunduk sopan, bagian gandiknya miring, kalau memakai kembang kacang maka bagian itu relatip besar tetapi ramping, kesannya keris keras, kasar tapi tidak sombong.
KAGOK, model warangka atau ukiran hulu keris yang tidak bergaya Yogyakarta atau Surakarta. Warangka gaya Surakarta mengikuti gaya pesisiran dengan sedikit pembaharuan pada bentuknya sedang warangka gaya Yogyakarta mengikuti gaya Tunggaksemi dengan sedikit pembaharuan pula.
Warangka model kagok dibuat didaerah yang tidak fanatik model Surakarta atau Yogya misalkan Kedu, Banyumas, Bagelen, Jepara tetapi masing masing daerah juga punya cirri khas daerah masing masing.
KALA CAKRA, Kitanah, hiasan berupa pahatan atau relief pada bilah keris atau tombak. Bentuknya berupa binatang Kala dan sebuah lingkaran Cakra. Penambahan ini dimaksudkan sebagai rajah, yakni gambar yang dianggap mempunyai tuah tertentu. Kinatah ini ada yang dilapis emas atau perak.
KALA LUNGA, keris Luk 23, ukuran panjang lebih panjang dari keris biasa memakai kembang kacang, jenggot, lambe gajah dua, jalen dan jalu memet. Memakai sogokan rangkap ukuran normal, sraweyan dan greneng lengkap, termasuk keris langka, seandainya ada biasanya keris lama.
 
KALA NADAH, keris luk 5, memakai pejetan dan sraweyan, ada sogokan rangkap tetapi hanya pada satu sisi, sisi lain polos tanpa sogokan, ukuran panjang bilah sedang dan termasuk keris langka.
KALA TINANTANG, keris luk 21, ukuran lebih panjang, memakai kembang kacang, lambe gajah satu, sogokan rangkap, ukuran normal, memakai sraweyan dan greneng lengkap, tergolong keris langka dan buatan lama.
KALAWIJA, keris yang luknya lebih besar dari 13, menurut berita, semua keris yang dibuat lebih dari luk 13 diperuntukan khusus untuk mereka yang dinilai masyarakat mempunyai penampilan atau pribadi yang lain umpamanya cacat badan, ahli sastra, tari dan sebagainya.
KANCINGAN, keris dengan Luk 17, ricikannya sederhana, hanya kembang kacang, lambe gajah satu dan tingil saja.
KANDA BASUKI, keris lurus, ukuran bilah sedang, memakai kembang kacang, lambe gajah satu, tetapi memakai Jalu Memet dan greneng lengkap.
KALIANJIR EMPU, hidup dijaman Panembahan Senopati, Mataram, tanda tanda kerisnya, Ganja model Sebit Ron Tal ukuran sedang, sirah cecak agak kecil, gulu melednya sempit, yang terbanyak memakai ganja wuwung, tidak memakai pamor. Bilahnya berukuran sedang, baik panjang, lebar maupun tebalnya, kalau membuat luk maka terlihat menyenangkan, kembang kacang seperti gelung wayang, sogokan serasi dan berukuran dalam, jika membuat pejetan atau blumbangan agak sempit dan dalam ukurannya, pamornya tidak tergolong meriah dan biasanya Pulo Tirto. Keris buatannya berkesan luwes menyenangkan tetapi wingit dan angker. Katanya baik untuk pegawai negeri untuk mengangkat derajatnya.
KAMALAN, ramuan dari campuran bubuk belerang, garam dapur dan kadang air jeruk nipis (jeruk pecel), gunanya untuk menuakan keris, tombak dan barang pusaka lainnya, keris yang sudah dikamal maka permukaannya akan terkikis sehingga tidak tampak bekas gerinda, kikir atau asahan.
KANDANGAN, desa dikawasan Sumenep, Madura bekas tempat tinggal EMPU Keleng.
KANTAR, keris luk 13, ukuran bilah sedang memakai kembang kacang, lambe gajah satu, sogokan rangkap dan sraweyan.
KANYUT, bagian keris letaknya diujung belakang ganja, dibagian buntuk cecak yang berbentuk buntut urang, bentuknya menyerupai duri pipih yang melengkung runcing, jadi seakan akan buntut urang itu dilengkungkan keatas, sebuah kanyut tidak mungkin dimiliki oleh ganja yang buntut cecaknya berbentuk nguceng mati.
KARACAN, salah satu dapur tombak luk 7, sisi bilah paling bawah berbentuk menyudut, permukaan bilahnya ngadal meteng dengan ada-ada yang hampir tak terlihat karena tipis, tombak ini juga memakai bungkul tetapi kecil dan tipis.Ukuran lebar tombak ini dibagian bawah agak jauh lebih lebar disbanding bagian tengahnya. Karacan termasuk dapur tombak yang langka.
KARANG KIJANG, BESI, penamaan atas salah satu jenis besi, menurut Ronggowarsito, besi Karang Kijang adalah besi yang berurat, uratnya seperti air laut, warnya hitam kebiruan.  
KARA WELANG, salah satu dapur keris Luk 13, ukuran sedang, memakai kembang kacang, lambe gajah hanya satu dan ri pandan.
KARIMO, pembuat keris yang hidup di   Bangil, Jawa Timur. Hidup dijaman Belanda, keris dan tombaknya biasanya berukuran kecil dan sederhana garapannya.
KARNA TANDING, lihat KARNA TINANDING,
KARNA TINANDING, nama salah satu dapur keris lurus, ukuran bilah sedang, bentuknya ada dua macam. Pertama keris dengan bilah simetris, memakai sogokan rangkap, sraweyan, greneng didepan dan belakang. Ada yang mengatakan tidak pakai greneng melainkan kembang kacang dan satu lambe gajah didepan dan belakang.
KASA, EMPU, terkenal didaerah Madura dan hidup dijaman awal Majapahit. Kerisnya dinilai indah dan ampuh, ukuran bilah sedang,bagian “pinggang” bilah agak ramping, kedudukan bilah condong kedepan.  Bagian sor-soran dibuat agak tebal. Bagian ganjanya manis bentuknya dan tergolong Sebit Ron , sirah cicaknya membulat seperti irisan buah melinjo, pamornya lembut tapi meriah, kalau pakai sogokan, maka sogokannya dalam. Kembang kacang, jalen dan lambe gajahnya biasanya kecil. Penampilan keris secara keseluruhan menarik hati, memikat namun anggun. 
KATUB, jenis besi pembuat keris, berwarna hitam kehijauan, hijau seperti rumput layu.
KEBO DENGEN, atau MAHESA DENGEN, keris luk 5, keris ini memakai kembang kacang, lambe gajah satu, gandiknya panjang.
KELAP LINTAH, salah satu dapur keris lurus, ukurannya sedang, bilahnya simetris, mempunyai 2 buah gandik, gandik ini polos didepan dan belakang, tanpa ricikan apa-apa. Ganjanya iras dan bentuknya kelap lintah.
KELEM, penamaan jenis pamor melalui kesan penglihatan dan rabaan, jika dilihat pamor itu kurang jelas, kalau diraba terasa nyekrak, tidak halus dan lumer. Ini terjadi karena bahan pamor bukan dari mutu yang baik. 
KEBO DENGDENG, atau MAHISA DENGDENG, keris luk 5, mempunyai sogokan rangkap dan tembus dari satu sisi ke sisi yang lain. Ricikan lain tidak ada dan tergolong langka.
KELENG, EMPU, hidup jaman Pajajaran, tanda kerisnya, ganjanya agak panjang, bagian bawah cenderung merupakan garis lurus, tergolong ganja wuwung, sirah cicak tidak lancip, buntut urangnya ada yang papak dan ada yang ngunceng mati. Gandiknya tidak terlalu miring, bulat dan kokoh agak panjang. Kalau memakai kembang kacang, bentuknya bagai tunas tumbuh, bentuk Dha pada Ron Dha tidak tegas. Tikel alis agak pendek, sogokannya dalam dan panjang, bagian janurnya dibuat tajam sampai puyuhan. Empu Keleng menggunakan besi yang madas dan mentah. Besi itu berkesan kering tapi montok. Pamornya lembut, tapi tidak ruwet. Penempatan pamor pada bilah tidak menentu, pada umumnya jenisnya pamor mlumah, antara lain beras wutah, jung isi dunya dan lain lain. Empu ini jarang membuat keris luk, biasanya keris lurus.
KEMBANG KACANG, atau Tlale Gajah, atau Sekar Kacang, adalah nama bagian keris yang bentuknya mirip namanya. Di Semenanjung Malaysia, Riau, Brunei, Sabah disebut Belalai Gajah.. Kembang Kacang ini selalu menempel pada bagian atas dari bagian gandik. Walau secara umum bentuknya sama tetapi kembang kacang ada beberapa variasi bentuk yaitu Nguku Bima, Pogok, Gula Milir dan Nyunti selain itu walau bentuk dasarnya sama tetapi ada beda antara daerah satu dan lainnya.
KERIS TAYUHAN, keris yang dalam pembuatannya lebih mementingkan tuah dari pada keindahan garapannya, pemilihan besi atau keindahan pamor sehingga berkesan wingit, angker. Tetapi karena yang membuat seorang Empu maka factor keindahan tetap ada pada keris tersebut.
KERIS TINDIH, dianggap mempunyai tuah yang baik bagi penggemar tosan aji untuk menetralkan pengaruh yang kurang baik dari keris lainnya. Keris keris yang masuk jenis ini antara lain berdapur Jalak Budo, Betok, Semar Tinandu dan Semar Betak.
KERIS PUSAKA KANGJENG KYAI AGENG KOPEK, keris Pusaka Kraton Yogyakarta yang dianggap PUSAKA UTAMA. Berdapur Jalak Sangu Tumpeng dengan warangka kayu Cendana wangi, pamor tidak diketahui tetapi pendoknya suasa bentuknya blewahan. KKA KOPEK dulu tanda mata Susuhunan PAKU BUWONO III kepada Pangeran Mangkubumi melalui Gubernur dan Direktur Pesisir Utara Pulau Jawa, Nicolaas Hartingh, sewaktu beliau dinobatkan sebagai Sultan Yogyakarta pada tanggal 13 februari 1755.
KERIS PUSAKA KANGJENG KYAI AGENG JAKA PITURUN, dianggap keris jabatan Raja Yogyakarta, berdapur Jalak Dinding, wrangka kayu Timoho denganpendok Suasa dihias batu permata. KKA JAKA PITURUN selalu dipakai Pangeran Mangkubumi semasa berperang melawan Belanda.
KEWAL, atau KEWALAN, cara memakai keris di Jawa Tengah, keris diselipkan disela sabuk lonthong, dipunggung, diantara lipatan kedua dan ketiga, kedudukan keris condong ke arah tangan kiri, hulu keris dan warangkanya tetap menghadap kearah kiri. Cara ini hanya boleh dipakai para prajurit dalam situasi darurat, dalam keadaan aman dilarang. Demikian pula orang biasa dilarang menggunakan cara ini.
KIDANG MILAR, keris luk 9, bentuknya sederhana sekali, ukuran bilah panjang, pakai greneng, ricikan lain tidak ada, biasanya hanya ada pada keris tangguh Madura.
KIDANG SOKA, keris luk 9, Ukuran panjangnya sedang, kembang kacang dengan lambe gajah satu, sraweyan dan greneng. Ada pula yang pakai ri pandan. 
KI NOM, EMPU, terkenal di akhir Kerajaan Majapahit sampai ke jaman pemerintahan Sultan Agung di Mataram, beberapa ahli keris memperkirakan bahwa usia Ki Nom memang panjang sekali, oleh karena itu dinamakan Ki NOM oleh Sultan Agung karena kekagumannya terhadap Ki Nom. Tetapi sebagian ahli mengatakan bahwa terdapat beberapa empu dengan nama Supo Anom yang merupakan turunan Empu tersebut. Keris keris dan tombak Ki Supo Anom memang indah sekali, banyak diantaranya diberi kinatah baik yang jenis Anggrek Kamoragan atau kenis yang lain. Sampai sekarang keris nya selalu dicari dan harganya mahal, tanda tanda utama memberi penampilan anggun. Mewah dan berwibawa.
Ganja buatan Ki Nom, kebanyakan merupakan ganja wilut dan kelap lintah, sirah cecaknya montok dan meruncing ujungnya, gulu melednya besar dan kokoh, ukuran panjang bilah sedang, lebarnya juga sedang, tetapi tebalnya lebih disbanding keris buatan Mataram lainnya. Bilah buatannya selalu berbentuk nggigir lembu. Pamornya rumit, halus dan padat serta rapi penempatannya, besi yang digunakan 2 rupa, bagian tengah yang bercampur pamor warna besinya hitam keabu-abuan atau hitam keunguan tetapi dibagian pinggir hitam legam.
Bagian kembang kacang dibuat seperti gelung wayang, tetapi berkesan kokoh, dan bila diamati dari sisi atas akan berkesan ramping, jalennya kecil dan lambe gajahnya pendek. Blumbangannya dangkal dan menyempit kearah ujung. Janurnya menyerupai batang lidi.
KIKIK, lihat GANA KIKIK.
KLENTIK, MINYAK, dari buah kelapa digunakan untuk mengolesi tombak, keris, pedang dan lainnya. Agar tidak berbau tengik biasanya dicampur minyak cendana, kenanga atau melati.
KENANGA GINUBAH, pamor yang tergolong pemilih, bisa membuat pemiliknya mempunyai kepribadian menarik dan menonjol dilingkungannya, bentuk menyerupai untaian bunga kenanga.
KENDIT PELET, gambar pada warangka kayu Timoho berupa garis hitam atau coklat melingkar sempurna mendatar ditengah warangka keris atau tombak. Pellet kendit ada beberapa antara lain Kendit Putih, Kendit Simbar dan Kendit Rante. Gambaran kendit ini tidak hanya pada kayu Timoho saja tetapi juga pada kayu Elo Wana serta beberapa kayu lainnya.
KENDIT ILAT-ILATAN, lihat KENDIT SIMBAR
KENDIT PUTIH, PELET,  gambaran pada kayu Timoho berupa garis putih melingkar pada warna dasar kayu yang coklat kehitaman, tuahnya dipercaya disegani orang.
KENDIT RANTE, gambaran pada kayu Timoho berupa garis hitam atau coklat tua yang terputus-putus tetapi saling rapat satu sama lainnya, sering dicari polisi atau jaksa untuk “mengikat” terdakwa agar tidak lari.
KENDIT SIMBAR, gambar di warangka timoho berupa garis hitam atau coklat tua tetapi garis itu tidak rata melainkan robek-robek seperti nyala lidah api sehingga disebut  juga  Kendit Ilat-ilatan.
KERIS AGEMAN, keris yang dalam pembuatannya lebih mementingkan keindahannya daripada tuahnya, keris jenis ini biasanya dipesan untuk diberikan sebagai kenang-kenangan atau tanda mata.
KERIS MAJAPAHIT, lihat KERIS SAJEN.
KERIS PICHIT, istilah yang dipakai di Semenanjung Malaysia, Brunei, Sabah, Riau untuk keris yang permukaan bilahnya terdapat lekukan lekukan yang menyerupai bekas pijitan. Di Jawa dinamakan keris Pejetan.
Dalam kerisologi, keris Pejetan termasuk dalam golongan keris Tayuhan yang lebih mementingkan kekuatan gaibnya dibandingkan penampilan luar.
KERIS SAJEN, penamaan terhadap keris yang sederhana, kecil dan hulunya menyatu dengan bilahnya, hulu yang terbuat dari logam ini biasanya berupa gambaran manusia yang distilir. Keris saja kebanyakan berpamor sanak. Keris sajen dibuat khusus untuk keperluan sesaji tetapi ada yang menyebutnya keris Majapahit padahal keris Majapahit sebenarnya bentuknya indah dan mutunya tinggi, tidak sesederhana keris sajen.
Banyak keris sajen ditemui di ladang, ditengah sawah atau sungai dan banyak yang sudah tidak utuh karena karat namun karena itulah sering dibayangkan keris tersebut bertuah dan ampuh.
KLEREK, KANGJENG KYAI, nama tombak pusaka Kraton Yogyakarta, berdapur Bandotan Luk 9, semula milik Prawirarana, prajurit Pangeran Mangkubumi. Prajurit ini berhasil membunuh Mayor Clereq sehingga tombaknya dinamakan Klerek dan diminta Pangeran Mangkubumi sebagai pusaka Kraton.
KLIKABENDA, atau Kalika Benda, nama salah satu keris luk 9, memakai gandik polos, pakai pijetan, sraweyan, ri pandan serta greneng. Ada yang menyebut keris Kala Bendu.
KODOK, EMPU, terkenal dijaman Mataram dan hidup di Madiun,  ada yang menyebutkan EMPU KODOK nama lain dari EMPU SUPO ANOM, tapi buku yang lain tidak menyebut demikian apalagi ada perbedaan diantara karya keduanya.
Ciri-cirinya, ganjanya mendatar, sirah cecak meruncing pada ujungnya gulu melednya berukuran sedang, kesan keseluruhan galak tapi menyenangkan (sumingit), besinya halus nglugut (berbulu bisa-miang), pamornya rumit, alur garis pamor agak kaku dan tidak begitu halus. Kalau membuat kembang kacang, bagian ini seolah membengkak bagian pangkalnya, pejetannya dibuat dalam, jalennya pendek, sogokan berukuran panjang, janurnya dibuat tajam. Bilahnya tidak begitu lebar sehingga memberi kesan ramping. Kedudukan bilahnya begitu condong kedepan memberi kesan membungkuk.
KORO WELANG, pamor yang menyerupai kulit ular belang, menambah kewibawaan pemiliknya. Termasuk pamor miring dan sukar dibuat serta pemilih.
KUDI, senjata mirip kujang, banyak terdapat di Jawa dan Madura, kalau kujang adalah senjata genggam maka Kudi termasuk tombak tangkai pendek sepanjang sekitar 65 – 80 cm. Ada yang berpamor dan kinatah emas, warangkanya agak aneh sehingga memasukan kudi dari samping bilah bukan dari atas.
KUJANG, senjata khas Parahiyangan, sebenarnya khusus dipakai petani, mulai dibuat sekitar abad 8 atau 9, terbuat dari besi, baja dan bahan pamor, panjangnya sekitar 20 sampai 25 cm dan beratnya sekitar 300 gram. Banyak yang percaya kujang bisa mengusir hama tanaman, menyuburkan tanah dan lainnya.
KUL BUNTET, nama bentuk pamor yang menyerupai bentuk obat nyamuk melingkar, biasanya terletak dibagian sor-soran. Merupakan pamor titpan yang bisa dibuat kemudian, tergolong pamor pemilih dan tergolong pamor miring, keris yang memakai pamor ini biasanya keris Tayuhan.
KUMAMBANG, istilah yang digunakan untuk menilai keadaan “tertanamnya” pamor pada besi bilah keris. Bila hanya menempel saja dan tidak tertanam kuat maka disebut pamor kumambang (mengambang).
KUWUNG, EMPU, Hidup dijaman Pajajaran sekitar abad 11, karyanya kebanyakan berdapur lurus. Tandanya bagian bawah ganjanya cenderung lurus, gandiknya agak tegak, panjang dan membulat bagian depan, memberi kesan kokoh, bentuk huruf Dha pada Ron Dha tidak jelas, sogokannya panjang dan dalam, janurnya dibuat tajam sampai ke pujuhan, kembang kacangnya seperti tunas tumbuh. Empu ini menggunakan besi padat, kedudukan bilah pada ganjanya agak miring, sehingga keris buatannya mempunyai kesan menunduk, sopan. Kerisnya agak lebih besar dan panjang.
 
 

INDEX – L

LAKEN MANIK, KANGJENG KYAI, keris pusaka Kraton Yogyakarta, berdapur Sangkelat luk 13, warangkanya dari kayu cendana, pendoknya suasa blewahan. Milik Pangeran Hadiwinata yang diberikan ke Sri Sultan HAMENGKU BUWONO V. 
                                               
LALER MENGENG, nama salah satu dapur keris, bilahnya sedang dan lurus, gandiknya panjang, kembang kacang terbalik, dan tidak terlalu menonjol keluar. Dapur ini tergolong langka dan hanya pada keris keris tua.
LAMENG, salah satu dapur pedang yang tergolong pedang sabet, panjangnya lebih dari 1 meter, tiga perempat punggung bilahnya lurus selebihnya sampai keujung melengkung seperti garis cembung, bagian dibagian ujung lebih lebar disbanding pangkalnya. Seluruh isi punggung pedang majal, sejajar dengan isi punggung terdapat kruwingan, seluruh sisi yang tajam lurus datar. Karena titik beratnya mengarah keujung, maka penggunaannya tidak gampang, kalau salah menggunakan tangan bisa terkilir, oleh karena itu hanya prajurit kraton yang berbadan tegap yang menggunakannya. 
LAR BANGO,  selain nama dapur keris juga nama dapur pedang, yang berupa pedang panjangnya sekitar 85 – 95 cm ujungnya runcing. Dua pertiga bagian punggung merupakan garis lurus, selebihnya lengkung yang cekung. Bagian yang lurus majal sedang yang cekung makin keujung makin tajam. Sejajar dengan sisi lurus punggung terdapat kruwingan, sisi tajam didepan yang dibawah membentuk garis cekung kemudian berubah cembung sepintas seperti huruf S. walau tergolong pedang suduk tetapi sering menjadi pedang sabet. Titik berat tidak begitu mengarah keujung sehingga enak digunakan. Banyak yang digarap apik dan dihias dengan pamor yang indah.
Sementara yang keris tergolong keris lurus, ukuran panjang bilahnya sedang pipih, ricikannya kembang kacang (biasanya kecil), pejetan, tikel alis dan tingil.

LAR NGATAP, atau LAR NGANTAP adalah salah satu dapur keris bilah lurus, bentuknya agak aneh, gandiknya polos, memakai pejetan, sogokannya rangkap memanjang hingga pucuk bilah, keris ini tergolong langka.

LARUNG, dibuang, biasanya untuk yang bertuah buruk, biasanya keris dibersihkan dulu, dibungkus kain putih dengan bunga dan sedikit kemenyan setelah itu dilarung ditengah kali yang dalam atau laut.
LEGI, EMPU, terkenal pada jaman Mataram, karyanya ditandai dengan ganja melengkung, gulu meled dan sirah cicaknya besar, buntuk urang melebar pada ujungnya, bilah berukuran sedang dan besi berwarna hitam keabu-abuan, tempaannya padat dan matang, pamor rumit dan padat, penampilan memberi kesan lembut dan tampan. Kalau membuat kembang kacang mirip gelung wayang, lambe gajah kecil runcing, sogokannya berukuran pendek, alurnya agak lebar, bagian blumbangan atau pejetan biasanya dangkal dan penuh dengan pamor. Gandiknya miring dan tikel alisnya pendek.
LENGIS, KAYU, kayu yang biasa digunakan sebagai tangkai tombak (landeyan), kayu ini dengan olahan yang baik tidak mudah patah dan ringan serta tetap lurus. 
LIMAN LUK TIGA, salah satu dapur keris luk 3, ukuran panjangnya normal, bentuknya hampir sama dengan keris Naga Siluman luk 3, pada bagian gandik sor-soran terdapat gambar timbul berupa gajah utuh, mulai kepala, badan, kaki sampai ekor, ricikan lain hanyalah greneng dan ada-ada. Pada umumnya dilapisi dengan kinatah emas.
LIMARAN, salah satu motif hiasan kinatah dan sinarasah, khusus dibagian metuk pada sebilah tombak. Bentuk hiasan mirip dengan motif batik, limaran merupakan deretan pola segitiga melingkar penuh (tepung gelang – bhs Jawa) pada metuk, dengan posisi saling menyilang.
LIMONIT, salah satu mineral besi terikat air, warnanya kuning, kelabu gelap atau coklat tua, biasanya dari eropa, Jerman, Perancis. Ada juga keris Jawa menggunakan besi in kemungkinan menggunakan sisa dari kereta kerajaan yang berasal dari Eropa.
LINDRI, KANGJENG KYAI, salah satu keris pusaka Kraton Yogyakarta, dapur Pasopati, Warangka dari kayu Timoho dan pendoknya emas murni bertahtakan rajawarna. Dibuat pada Pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono II dan diberikan ke putrinya Kangjeng Ratu Maduretno dan kembali ke Kraton di jaman Sri Sultan Hamengku Buwono V.
LINGIRAN, salah satu dapur tombak lurus, potongan melintang tombak biasanya berbentuk segitiga dan tombak ini berukuran panjang.
LINTANG MAS, pamor yang bentuknya berupa bulatan berlapis seperti  pamor Udan Mas, tetapi lapisan bulatannya lebih banyak sehingga garis tengah bulatan mencapai 1 cm atau lebih. Tergolong pamor pemilih cocok untuk pedagang permata, kain. 
LIS LISAN,  garis batas sepanjang tepi bilah keris sejak dari atas kembang kacang keujung bilah terus kebawah lagi sampai mendekati greneng.
LONING, EMPU, terkenal pada jaman Pajajaran. Tandanya buntut urangnya selalu nguceng mati, ganjanya tergolong ganja wuwung, guru melegnya panjang dan sirah cecaknya membulat, bagai irisan buah melinjo. Ukuran gandik dan bentuknya sedang sedang saja, kembang kacang memberi kesan manis tapi kokoh, lambe gajahnya pendek, sederhana, bagian yang menyerupai Dha pada RON DHA kurang jelas, jika memakai luk tergolong rengkol, besinya berkesan padas mentah, bilahnya lebar dibagian tengah, dan sedang dibagian atas gandik. Apabila ada sogokan biasanya dalam dan panjang, janurnya dibuat tajam sampai ke puyuhan.
LUJUGUNA, EMPU, terkenal pada jaman Kerajaan Kartasura, ada yang mengatakan beliau berasal dari Madura, tanda kerisnya adalah : ganjanya berbentuk garis datar, sirah cecak lonjong dan meruncing pada ujungnya, gulu melednya panjang sehingga terkesan kurus. Kalau membuat kembang kacang bentuknya Nguku Bimo, jalennya berukuran besar, lambe gajahnya panjang menonjol, sogokannya pendek, jika tanpa kembang kacang, gandiknya panjang dan tidak begitu miring. Blumbangannya dibuat dalam, bilahnya berukuran agak panjang dibandingkan buatan Mataram pada umumnya. Pamornya banyak, kurang halus dan tidak nyekrak, yakni tidak perih kalau diraba, penampilannya gagah, kasar dan tegas.
LUK, bagian kelok keris, jumlahnya selalu GANJIL tidak pernah genap, jumlah terbanyak biasanya 13 tetapi ada yang lebih dari itu sampai 29 dinamakan KALAWIJA, sedang jumlah terkecil adalah 3 walau ada yang menyebutkan bahwa keris luk 1 itu ada.
LUMER PANDES, pamor yang tertanam kuat dibilah, menyembul keluar halus tapi jelas. 
LUNG GANDU, nama salah satu dapur keris / tombak, jika tombak ber luk 9, seluruh permukaan bilah tertutup kinatah Lung-lungan bentuknya nggigir sapi dengan ada-ada tipis disepanjang bilah, sisi ujung bawah tombak berbentuk menyudut. Karena susah dibuatnya kini dapur ini langka dan jarang ditemui.
LUNG KAMAROGAN, KINATAH, hiasan berupa relief (gambar timbul) di sebilah keris atau tombak, pahatan relief biasanya dilapisi emas, dulu yang berhak memakainya adalah abdi dalem berpangkat  Wedana Kliwon, hiasan ini ada yang sepertiga keris, ada yang setengahnya dan ada pula yang sampai ujung bilah.
LUWU, PAMOR, biji besi berasal dari pegunungan Torongku dan Ussu diwilayah Luwu, Sulawesi Selatan. Walau bukan batu meteor  tetapi bersipat seperti batu meteor sehingga bisa sebagai bahan pamor.
 

INDEX – M

MACAN, EMPU KI, terkenal di daerah Madura pada awal kerajaan Majapahit. Tanda tanda keirnya, bilah berbadan lebar, keris itu agak tipis dibandingkan buatan Tuban, besinya halus keras tapi berpori, warna besi hitam kehijauan, jika bilah itu dicuci dalam keadaan putih bersih seakan mengeluarkan bau rempah, pamor keris umumnya lembut dan mubyar. Ganjanya berukuran normal, bagian bawahnya rata. Ganja ini tergolong ganja wuwung, gandiknya miring, kalau memakai kembang kacang maka kembang kacangnya besar dan ramping. Jalennya juga berukuran besar. Sogokannya berukuran dalam, tetapi kaku. Keris kerisnya berpenampilan keras, berwibawa dan tegas.
MAHESA DENDENG, lihat Kebo Dendeng.
MAHESA LANANG, lihat Kebo Lajer.
MAHESA GENDARI, KANGJENG KYAI, pusaka Kraton Yogyakarta, berdapur kebo Lajer, warangka dari kayu Timoho. Pendoknya dari suasa. Semula milik Adipati Danurejo yang bergelar KPH Kusumoyudo. Kemudian diserahkan ke Kraton pada masa pemerintahan Sri Sultan HAMENGKU BUWONO V.
MAESALENGI, KANGJENG KYAI, Pusaka kraton Yogyakarta, dapur tidak diketahui pasti, ada yang mengatakan dapur Paniwen ada yang mengatakan Sengkelat, dihias kinarasah emas permata hingga pucuk. Warangka dari kayu Trembalo dengan pendok dari emas Rajawarna, buatan Penembahan Mangkurat dimasa Sri Sultan HAMENGKU BUWONO V dan merupakan putran dari keris milik Tumenggung Sastranegara, bupati Mancanegara.
MAHESA LAJER, lihat Kebo Lajer.
MAHESA NABRANG, dapur keris luk 15, gandiknya polos, lis-lisannya melingkar seluruh bilah. Mulai dari atas gandik sampai kebagian buntut cecak.
MAHESA NEMPUH, dapur Luk 3, ukuran bilah sedang, gadik polos, memakai pejetan dan tikel alis, greneng lengkap.
MAHESA SOKA, dapur Luk 3, ukuran bilah sedang, memakai kembang kacang, jenggot, lambe gajahnya dua, tikel alis dan greneng. Sogokannya rangkap sampai ketengah bialah atau kepucuk. 
 
MAHESA TEKI, lihat Kebo Teki.
MALELA KENDAGA, penamaan jenis besi bahan keris atau tosan aji lainnya yang pada permukaan eolah bertaburan kristal kecil yang mengkilap. Keristal keristal yang berkerlip akan tampak terang jika bilah keris itu akan tampak terang bila bilah keris itu dalam keadaan putih bersih. Sebagian pecinta keris membedakan Malela menjadi Pasir Malela dan Malela Kendaga, yang Pasir Malela maka kerlipnya membiaskan warna putih keperakan sedang Malale Kendaga berwarna kuning emas. Keris dengan besi ini biasanya keris lama karena pengolahan bahan pasir besi menjadi besi tidak sempurna.
MALIK,  nama jenis besi bahan pembuatan tosan aji, permukaannya kasar dan warnanya hitam keabu-abuan, jika dijentik dengungnya sember, menurut para ahli  tuah besi ini buruk sehingga pemiliknya sukar mencari rejeki.
MANCUNGAN, bentuk pamor yang serupa dengan Ujung Gunung hanya letaknya terbalik. Bagian yang lancip justru menghadap ke pangkal. Pamor ini pamor rekan dan pemilih, tuahnya menambah wibawa pemiliknya.
MENGKON, nama salah satu dapur tombak luk 9, tepi bilah tombak bagian bawah membentuk sudut dengan tepi menghadap kebawah, diatas bagian mentuk terdapat bungkul dan diatas bungkul terdapat ada-ada sepanjang bilah, permukaan bilah seluruhnya berbentuk nggigir sapi.
MANGKURAT (1), nama salah satu dapur lurus yang ukuran bilahnya sedang, bagian gandiknya polos, memakai pijetan, tikel alis, sogokan rangkap ukuran normal, gusen dan ri pandan.
MANGKURAT (2), salah satu dapur keris Luk 3, panjang bilahnya sedang, memakai kembang kacang, jenggot, lambe gajah satu, pakai tikel alis, pejetannya dangkal, pakai greneng.
MANGKURAT, UKIRAN, ukiran gaya Yogyakarta, berpenampilan sedang, sesuai untuk orang baik tinggi atau pendek, juga cocok untuk orang yang lemah lembut atau kasar.
MANGLAR  MUNGA, salah satu dapur luk 3 dengan panjang bilahnya sedang, gandiknya diukir dengan gajah bersayap berbadan naga dan badan ini meliuk ditengah bilah sampai keatas. Ada pula yang badannya “menghilang” ditengah bilah. Ricikan lainnya adalah ri pandan susun.
MANGUN ONENG, KANGJENG KYAI, pedang pusaka milik Kraton Yogyakarta, berdapur lameng, dibawa selalu oleh abdi dalem wanita yang senantiasa berada dibelakang raja dalam setiap upacara besar di kraton.
Kisahnya saat Pangeran Mangkubumi menjadi Sri Sultan HAMENGKU BUWONO I, saat itu banyak bupati kraton Surakarta ingin bergabung antara lain Mangun Oneng dari Pati, karena dicurigai akan berkhianat maka Mangkubumi memerintahkan orang menghukum mati Mangun Oneng dengan Pedang dan kemudian menjadikan pedang tersebut pusaka kraton.
MANDRABAHNING, KANGJENG KYAI, keris pusaka kraton Yogyakarta, berdapur jangkung mayat, warangka Timoho dengan pendok emas, merupakan putran dari keris KK TOYATINABAN, dibuat oleh Empu Lurah Mangkudahana dijaman Sri Sultan HAMENGKU BUWONO V.
MANGGAR, merupakan nama pamor keris, tombak atau pedang yang bentuknya menyerupai bunga kelapa dalam untaian. Pamor ini merupakan kumpulan  dari bulatan lonjong kecil yang mirip dengan bulatan pamor Wiji Timun yang letaknya berserakan saling menyudut. Pamor Manggar tersusun dari pangkal sampai ujung bilah. Tergolong pamor rekan, tuahnya mudah mencari rejeki dan menonjol dipergaulan, tidak memilih dan tergolong langka, banyak dijumpai di keris buatan Madura.
MANIKEM, pamor yang gambarnya merupakan bulatan bulatan berlapis, berjajar berderetan dari pangkal sampai ujung bilah, garis tengah bulatan mencapai 1.5 – 2 cm dan tiap bulatan terdiri lebih dari 8 lapis. Bulatan satu dengan lainnya dihubungkan dengan garis garis pamor. Disukai pedagang  dan pengusaha karena tuahnya gampang mencari rejeki.
MARANGI, atau mewarangi adalah pekerjaan membersihkan dan memberi warangan pada bilah keris atau tosan aji lainnya. Tujuannya untuk menampilkan gambaran pamor sekaligus menambah keawetan keris tersebut. Jika proses ini berjalan baik maka pamor akan tampak maksimal dan indah. Sebelum diwarangi, keris harus lebih dahulu dibersihkan sampai putih, disebut mutih, ini membersihkan bilah dari sisa minyak, warangan atau karat. Cara mewarangi ditiap daerah berbeda walau tujuannya sama. Sisa warangan lama dan karat dibersihkan dengan cara merendam dalam air kelapa basi (setelah disimpan sekitar 2 minggu), bisa juga dengan memakai buah mengkudu masak sekitar 15 buah. Setelah direndam, tergantung dengan tebal karat atau banyak kotoran, seringkali rendaman ini memakan waktu 1 minggu atau lebih, maka bilah dicuci dengan air jeruk nipis dicampur buah klerak atau bisa juga dengan sabun colek, dibilas, digosok dengan sikat gigi secara perlahan agar tidak merusak pamor. Proses ini diulang sampai bilah berwarna putih dan tidak ada lagi minyak atau kotoran lain menempel di bilah. Warangan yang baik adalah berupa kristal warangan alam yang berwarna jingga kemerahan, setelah dihancurkan menjadi bubuk, dicampur dengan air perasan jeruk nipis. Sering karena mendapatkan warangan susah, maka orang menggunakan arsenikum, tetapi hasilnya kurang baik.
MARAK, adalah salah satu dapur keris lurus berukuran sedang, gandik polos. Memakai sogokan didepan, greneng lengkap. Kadang disebut dapur Merak.
MARA SEBA, salah satu dapur keris lurus ukuran sedang. Gandik polos dengan pejetan, tanpa tikel alis. Memakai greneng, sogokan rangkap, ukuran normal tetapi bagian janurnya tebal sehingga jarak sogokan depan dan belakang terkesan jauh.
MASUH, tahap awal pembuatan tombak, keris dan lainnya. Bagian besi ditempa berulang kali sehingga kotoran dan kandungan karbon keluar sebagai percikan bunga api, jika sudah selesai maka besi ini menjadi besi wasuhan yang bersifat ulet, liat dan mudah dibentuk.
MAYANG MEKAR, nama pamor yang tergolong langka, tergolong pamor rekan dan bertuah dikasihi rekan sekelilingnya tetapi teramasuk pamor pemilih.
MAYAT MIRING, dapur keris lurus berukuran sedang, ganjanya agak membungkuk dan bagian gandiknya polos. Memakai gusen, sogokan belakang dan pejetan. Bila posisi bilah tidak membungkuk biasa disebut dapur MAYAT saja.
MBATOK MENGKUREB, sebutan model ganja keris yang bentuknya melengkung, dilihat dari samping seperti garis cekung. Mirip ganja sebit ron tal, bedanya pada Mbatok Mengkureb garis dibawah sirah cicak den gulu meled juga cekung.
MBUGISAN, penamaan pamor berdasarkan kesan penglihatan terhadap pamor tersebut. Pamor apapun yang ada degradasi warna antara besi dan pamor tidak jelas disebut mbugisan, ini terjadi saat dibuat suhu terlalu tinggi sehingga bahan pamor luluh kedalam bahan besinya.
MBUNTUT TUMA, salah satu dari 4 macam bentuk ujung bilah keris atau tombak, menyerupai bentuk ekor kutu rambut. Keris buatan Surakarta banyak yang ujungnya berbentuk mbuntut tuma, lagi pula bentuk ini kebanyakan hanya disukai oleh pecinta keris di daerah Surakarta.
MBUNTUT URANG, lihat buntut urang.
MEGANTARA, nama salah satu dapur keris Luk 7, model luknya menyerupai dapur Murma Malela, jarak antara luk pada bagian dekat dengan ujung bilah lebih rapat satu sama lain disbanding dengan bawahannya. Ricikan kembang kacang, lambe gajah satu, jalen dan greneng.
MEKANGKANG, nama jenis bahan besi untuk membuat keris, ada dua macam yaitu Mekangkang Lanang dan Wadon, tuah dari Mekangkang Lanang baik untuk prajurit, bisa menambah waibawa, warnanya hitam keunguan dan jika diamati teliti seakan mempunyai semacam urat urat halus tetapi kalau diraba permukaannya halus lumer dan kalu dijentik berbunyi dengung yang panjang. Untuk Mekangkang Wadon warnanya ungu tua kebiruan, pada permukaannya seolah tersebar kristal kecil yang membiaskan warna kebiruan, jika dijentik berbunyi dengung pendek. Konon baik untuk pegawai agar disayang atasan.
MELATI RINONCE, pamor yang bentuknya mirip untaian bunga melati yang diuntai dengan benang mulai ujung pangkal sampai ujung bilah, tergolong pamor rekan dan tidak memilih. Dipercaya baik untuk mencari rejaki.
MELATI RINENTENG, sebutan lain melati rinonce.
MELATI SINEBAR, pamor berbentuk kumpulan bulatan menyebar berurutan dari ujung bilah sampai pangkal, penampang bulatan terluar sekitar 1 cm, biasanya ada 6 atau 8 lapis bulatan. Bukan pamor pemilih, disukai pengusaha dan pedagang, termasuk pamor rekan.
MENDAK,  perlengkapan hiasan pada sebilah keris, bentuknya seperti cincin melingkar pada pangkal pesi sebilah keris. Terbuat dari logam perak, emas atau suasa/kuningan. Seringkali ditambah permata, intan berlian atau batu mulia lainnya, harganya bisa bervariasi dan menentukan status social pemakainya.
MENDARANG, atau Mundarang, dapur keris lurus berukuran sedang. Memakai kembang kacang, lambe gajah satu, sogokan rangkap, sraweyan dan greneng lengkap.
MENDUNG, EMPU, empu yang hidup didaerah Blambangan pada jaman Majapahit. Tanda keris buatannya, bentuknya sedang, kesannya ramping dan manis namun keras berwibawa, besinya umumnya hitam dengan tempaan matang namun ada kesan glugut seperti berbulu halus. Jika memakai sogokan biasanya dangkal dan agak pendek. Kalau memakai luk biasanya dalam dan rengkol memberi kesan padat. Pamornya umumnya merata penuh tetapi tidak mubyar.
MESEM, keris lurus dengan panjang bilah sedang. Memakai kembang kacang, lambe gajah satu.
METUK, merupakan bagian tombak yang bentuknya seperti cincin. Letaknya tepat dibawah sor-soran. Kegunaannya untuk menahan bilah tombak apabila ada benturan masuk kedalam tangkainya. Sering dihias dengan ukiran berbagai motif seperti limaran, teratai.
MIJI TIMUN keras diujungnya, maka bilah tombak tidak, lihat Wiji Timun.
MINETTE, jenis mineral besi berwarna coklat terdiri dari trioksida besi terikat air dengan rumus kimia Fe2O3H2O.
MINYAK KERIS, campuran beberapa jenis minyak digunakan untuk pewangi dan pengawet tosan aji, umumnya campuran minyak cendana, melati, kenanga dan lainnya, sebagai pencampur umumnya minyak klentik atau sekarang banyak dipakai minyak Singer. Minyak yang kurang baik akan menyebabkan bau tengik, mengakibatkan jamur dan merusak bilah.
MLOYOGATI, EMPU, nama empu yang kurang terkenal dari Blambangan dijaman Majapahit. Kerisnya berbilah kecil agak tebal tetapi ramping. Besinya seringkali berwarna hitam kelam pada tempaannya. Banyak membuat pamor miring. Ganjanya sering model Mbatok Mengkurep, secara keseluruhan kerisnya memberi kesan tangkas, terpercaya dan manis dipandang.
MINYAK RASE, bahan pembuat minyak keris dari binatang Rase, sejenis Musang, didekat alat kelaminnya. Sudah jarang dipakai karena populasi Rase yang tinggal sedikit.
MRANGGI, orang yang punya keahlian membuat warangka keris, tombak atau sarung pedang. Biasanya juga sebagai tukang mewarangi. Ia harus bisa memahami watak pemesannya agar bentuk warangkanya sesuai dengan sifat orang tersebut. Selain itu mengetahui sifat kayu dan jenisnya agar menghasilkan bentuk warangka yang artistic, baik dan tahan lama.
MRAMBUT,  bentuk pamor menyerupai garis yang membujur dari pangkal keujung bilah. Garis ini bukan garis yang utuh melainkan terputus-putus, sepintas lalu seperti pamor Adeg, bedanya pamor Adeg garisnya tidak terputus. Tuahnya menangkal segala sesuatu yang tidak diingini, pamor ini pemilih.
MRUTUSEWU, salah satu bentuk pamor dengan gambaran merupakan kumpulan garis-garis dan bulatan yang saling berdekatan sehingga tampak ruwet, sepintas mirip pamor Sisik Sewu. Tersebar dari pangkal sampai ujung bilah. Termasuk pamor mlumah, tidak pemilih dan tuahnya untuk pergaulan.
MULYAKUSUMA, KANGJENG KYAI, salah satu keris pusaka Kraton Yogyakarta, dapur Pendawa Cinarita, luk 5 dengan warangka dari Cendana. Pendoknya jenis blewahan serta dari suasa. Keris ini didapat sebagai hadiah untuk Sri Sultan Hamengku Buwono II ketika ditawan di Pulau Penang.
MURMA MALELA, Salah satu keris dapur luk 7 dengan luk makin kearah pucuk makin rapat. Ricikannya, kembang kacang dan lambe gajah dua, tergolong dapur langka.
MUNGGUL, PAMOR, bentuknya seperti bisul, menonjol dari permukaan bilah sebesar biji kacang hijau atau lebih besar sedikit. Pamor ini sangat keras dan tidak hilang dikikir dengan kikir baja karena terbuat dari bahan titanium yang keras. Dianggap pamor yang baik dan sukar dicari, sering selain pada keris Jawa , pamor ini terdapat di badik badik buatan Bugis dan Luwu.
MUTIH KERIS, satu tahapan dari membersihkan serta mewarangi keris. Biasanya direndam air kelapa basi baru disikat perlahan lahan dilarutan jeruk nipis berkali-kali sampai sisa warangan dan minyak hilang sama sekali dan keris tampak putih seperti pisau dapur yang baru diasah.
 
 

INDEX – N

NABI SULAIMAN, nama pamor yang letaknya didaerah sor-soran, merupakan pamor titipan, pamor yang dibentuk kemudian setelah bilah keris selesai dikerjakan. Bentuk pamor menyerupai bintang segi enam, tuahnya baik terutama dalam keadaan darurat tetapi pamor ini pemilih dan katanya hanya raja atau keturunannya yang bisa memilikinya.
NAGA GAJAH, keris luk 7, gandik keris diukir kepala gajah lengkap dengan telinga dan belalai tetapi tanpa badan. Ricikan lain adalah sraweyan, ri pandan  dan greneng. Kadang memakai gusen, selain itu tak ada ricikan lain. Keris ini tergolong langka, seandainya ada kemungkinan bikinan baru atau tangguh muda, adapun pecinta keris menyebutnya Naga Liman.
NAGA KIKIK, lihat GANA KIKIK.
NAGA KIKIK LUK LIMA, liaht Naga Salira.
NAGA LIMAN, lihat NAGA GAJAH.
NAGA PASA, lihat NAGA TAPA.
NAGA PENGANTEN, salah satu dapur luk 9, keris ini gandiknya kembar depan belakang dan diukir kepala Naga dengan badan saling membelit mengikuti kelokan luk pada bilah keris. Bagian ganja memakai greneng, pada umumnya dihiasi kinatah emas. Seringkali pada moncong dua Naga tersebut dijejali dengan butiran emas atau berlian. Tujuannya untuk meredam sifat galak  dari penampilan Naganya. 
NAGA KERAS, salah satu dapur keris luk 7, ukuran bilah sedang, memakai kembang kacang, lambe gajah satu, sogokan rangkap dan sraweyan. Ada yang mengatakan gandiknya dibuat dengan bentuk kepala Naga dengan ekornya meliuk mengikuti belokan luk sampai keujung. Keris ini memakai greneng, tetapi menurut buku lama keris ini dinamakan Naga Sasra luk 7.
NAGA PUSPITA, KANGJENG KYAI, pusaka kraton Yogyakarta, dapurnya tidak jelas, ada yang mengatakan berdapur Sengkelat tetapi ada yang mengatakan berdapur Naga Sastra. Warangkanya kayu Trembalo, pendok dari emas bertahta intan permata, dibuat di jaman Sri Sultan HAMENGKU BUWONO II, tempat pembuatannya di Pulo Gedong, Taman Sari. Setelah selasai diberikan pada Gusti Raden Mas Surojo yang kemudian menjadi  Sri Sultan HAMENGKU BUWONO III.
NAGA, KANGJENG KYAI, salah satu Pusaka Kraton Yogyakarta, berdapur Pasopati, pamor Kembang Pala, warangka kayu Timoho jenis bosokan, dengan pendok Emas Rajawarna.
Dibuat di Tamanan Kraton, dimasa pemerintahan Sri Sunan HAMENGKU BUWONO I.
NAGA RANGSANG, bentuk pamor yang mirip dengan Blarak Ngirid, perbedaan hanya pada arah garis yang menyerupai daun kelapa, pada Blarak Ngirid arahnya keujung sedang Naga Rangsang sebaliknya. Tuahnya menambah wibawa, tetapi pamornya pemilih.
NAGA RANGSANG, KANGJENG KYAI, pusaka kraton Yogyakarta, berdapur Jalak dengan Gandik Naga, keterangannya tidak jelas, mungkin dapurnya Naga Tapa, Warangkanya kayu Cendana, pendok dari emas bertahtakan permata, semula milik Sri Sunan HAMENGKU BUWONO I.
NAGA SALIRA, salah satu dapur keris luk 5, bentuknya ada 2 macam.
Yang pertama : Gandik keris ini diukir dengan bentuk Serigala duduk, kadang dinamakan Naga Kikik luk 5, sumber lain mengatakan mirip dengan Naga Siluman, jadi pada gandik diukir kepala Naga bukan Srigala, bedanya pada bagian badan lengkap dengan sisiknya sedang Naga Siluman tidak.
NAGASASTRA, salah satu dapur luk 13, bagian gandik diukir dengan kepala Naga sedang badan mengikuti luk ditengah bilah sampai keujung, ricikan lain kruwingan, ri pandan dan greneng, pada dapur Nagasastra yang baik biasanya dilapisi dengan logam emas (Kinatah mas), dapur Nagasastra ada yang luk nya 9 dan 11 sehingga harus disebut luknya.
NAGA SILUMAN (1), salah satu dapur keris luk 7, bagian gandik ada ukiran Naga dengan mulut menganga lalu badan naga menghilang dibagian bilah, selain itu terdapat sraweyan, ri pandan dan greneng. Dapur ini tergolong popular.
NAGA SILUMAN (2), salah satu dapur keris luk 13, ukuran bilah sedang, bagian gandik diukir kepala Naga dan badan menghilang menyatu dengan bilah, ganja nya biasanya Kelap Lintah.
NAGA SINGA, lihat Singa Barong.
NAGA TAPA, salah satu dapur keris lurus dengan bilah sedang, gandik diukir Kepala Naga sedang badan Naga ditengah bilah sampai ujung. Biasanya memakai greneng lengkap, sebagian menyebutkan keris ini berdapur Naga Pasa.
NEM-NEMAN, sebutan untuk keris atau tombak yang belum lama dibuatnya, berlaku di Surakarta, Yogyakarta dan sekitar dijaman Sunan Pakubuwono IX dan X serta Sri Sultan Hamengku Buwono VII dan VIII.
NGADAL METENG, penamaan terhadap bentuk permukaan bilah keris atau tombak jika permukaan itu cembung dan menyerupai punggung binatang kadal yang sedang mengandung sehingga disebut Ngadal Meteng.
NGAMAL, Pelet, lihat Nyamel, Pelet.
NGAMPER BUTA, keris luk 17, tergolong Kalawija, ukuran panjang bilahnya sedang, kembang kacang, lambe gajah satu, jalen blumbangan dan greneng lengkap. Dapur Ngamper Buto tergolong langka.
NGERON TEBU, penamaan tepi bilah yang tidak rata dan menggerigi karena penempatan bahan pamor ditepi bilah, sebagian orang mengatakan ini kurang baik karena tepinya tidak rata tapi sebgian lagi mengatakan baik. Keris ini menggunakan bahan pamor lebih banyak dibandingkan keris biasa.
NGGAJIH, penamaan pamor berdasarkan kesan penglihatan, pamor yang tampak berlemak disebut Nggajih. Jadi pamor jenis apapun kalau tampaknya berlemak disebut Nggajih seperti Ngulit Semangka Nggajih dan sebagainya.
NGGIGIR LEMBU, atau Nggigir Sapi, penamaan bentuk permukaan bilah keris atau tombak. Memakai ada-ada jelas dan disisi kiri kanan bagian ada-ada itu memberi kesan “montok”, maka permukaan bilah seperti itu dinamakan Nggigir Lembu.
NGINDEN, penampilan pamor yang seolah dapat membiaskan cahaya berkilau seperti akik.banyak dijumpai keris nem-neman buatan Surakarta.
NGINGRIM, salah satu ragam pelet pada kayu Timoho, gambaran itu berupa garis-garis pendek dan panjang bercampur sejajar tak beraturan. Warna garis itu hitam dan coklat tua diatas kayu berwarna coklat keputihan atau abu-abu, kayu ini biasanya mahal harganya.
NGLEMPUNG, jenis besi yang penampilannya mempunyai kesan padat dan matang tempaan. Besi yang nglempung seolah tidak berpori sehingga tidak gampang kropos.
NGLOLOS PUSAKA, salah satu cara melepaskan keris dari warangka dengan cara menggerakan warangka tersebut, sehingga bilah keris keluar dari warangka. Caranya dengan memegang ukiran (hulu keris) dengan tangan kanan. Tangan kiri memegang bagian pendok atau gandar keris kemudian bergerak menjauhi badan sedangkan tangan kanan tetap.
NGRING HESTI, salah satu dapur tombak lurus, bilah simetris, menyerupai dapur Baru, bagian tengah sisi bilah ada lekukan landai menyerupai pinggang,lebar bilah bagian atas pinggang lebih sempit dibandingkan bawahnya, sedikit dibagian bawah ada pudak sategal simetris di kiri, kanan sisi bilah.
NGRING SEMBEN, salah satu dapur tombak lurus, symetris, bagian atas menyerupai bentuk Daun Andong, bagian diatas mentuk ada bungkul tipis, diteruskan ada-ada sampai ujung bilah dan permukaannya berbentuk Nggigir Sapi.
 
NGUCENG MATI, salah satu bentuk ujung dari buntut cecak pada sebuah ganja. Ujungnya meruncing seolah merupakan ujung sumbu lilin atau lampu minyak, ganja ini banyak terdapat pada keris buatan Pajajaran, Tuban dan Madura tua.
 
NGUDUP GAMBIR, salah satu dari 4 macam bentuk ujung sebilah keris atau tombak, menyerupai kuncup Bunga Gambir yang belum mekar, banyak terdapat pada ujung tombak.
 
NGUKU BIMA, salah satu bentuk Kembang kacang, menyerupai kuku Bima dalam Wayang, bagian pangkal besar dan lebar sehingga menimbulkan kesan kokoh, sedang ujungnya meruncing tetapi tidak melingkar seperti gelung wayang.
 
NGULIT SEMANGKA, nama pamor yang mirip kulit semangka. Tergolong pamor tiban, tuahnya memperluas pergaulan, tergolong pamor mlumah dan cocok dipakai siapapun.
 
NUR, nama pamor yang berbentuk mirip hurup S terletak dibagian sor-soran. Tuahnya baik sebagai tempat bertanya, cocok untuk guru, tergolong pamor pemilih.
 
NGUNUS PUSAKA, salah satu cara melepas keris dari Warangkanya. Tangan kanan memegang hulu keris, tangan kiri memegang pendok atau gandarnya, kemudian tangan kanan bergerak keluar manjauhi badan  sedangkan tangan kiri tetap pada tempatnya, cara ini hanya dilakukan bila akan digunakan untuk maksud yang kurang baik.
 
NIPIS, JERUK, jeruk yang digunakan untuk mencuci dan pembersih keris, tombak dll, ilmiahnya bernama Citrus Aurantifiola, di Jawa Tengah dan Timur disebut Jeruk Pecel.
 
NYAMBA, hulu keris berbentuk kepala dan tubuh tokoh wayang, kebanyakan berbahan kayu dan diukir lalu disungging. Ada juga yang berhulu tanduk, gading atau bahan logam.
 
NYAMEL, bentuk gambaran pellet kayu Timoho, berupa noda hitam besar (ceplok-ceplok, bhs Jawa), bentuk tak menentu tetapi mendekati bulat. Disukai walau sederhana tetapi indah.
 
NYEPUHI, cara yang digunakan empu agar kerisnya tidak mudah bengkok dan tidak gampang majal, keris yang sudah selesai penggarapannya dibakar lagi sampai sekitar 500 derajat C, segera dimasukan kedalam air dingin atau air ramuan atau air kembang setaman, atau dimasukan kedalam minyak baru ke air. Nyepuhi pekerjaan yang paling banyak resikonya jika gagal maka keris yang telah 99% selesai akan gagal, langsung rusak tidak bisa diperbaiki lagi.
 
NYUJEN, salah satu dari 4 bentuk ujung keris atau tombak, menyerupai tusukan sate, keris buatan luar Jawa banyak yang Nyujen Sate, selain Nyujen ada yang berbentuk Gabah Kopong atau Mbuntut Tuma.
 

INDEX – O

OGLENG, salah satu cara pemakaian keris di Jawa Tengah khususnya di daerah Surakarta. Keris diselipkan disela sabuk lontong dilipatan kedua dan ketiga dari atas, yang umum keris dicondongkan kearah tangan kanan dengan hulu dan warangka menghadap ke kiri.
 
 
 

INDEX – P

PAGELEN, EMPU, Empu yang hidup dijaman Pajajaran, walau karyanya indah namun disbanding empu yang lain dia kurang terkenal, mungkin karena karyanya tidak banyak. Ukuran bilahnya panjang lebar dan besar, memberi kesan gagah. Ganjanya panjang dan lurus berbentuk Ganja Wuwung, guru melednya panjang, sirah cecak agak membulat dan blumbangannya berukuran luas. Umumnya keris buatan empu ini berwarna hitam padat liat dan berkesan kering, pamornya lembut dan pandes, seolah tertancap kuat di bilah, gambar pamor sederhana, terbanyak Wos Wutah, kedudukan keris pada ganjanya tidak terlalu membungkuk. Penampilannya memberikan kesan tenang, berwibawa dan menarik hati.
 
PAKEM KERIS, panutan, pegangan dan rujukan segala sesuatu mengenai yang berkaitan dengan eksoteri keris, tetapi kadang ada perbedaan sedikit dari apa yang dianut oleh satu dengan yang lain.
 
PAKUBUWANAN, UKIRAN, model hulu keris gaya Yogyakarta, ukirannya berpenampilan “kendo” sesuai dengan orang yang berwatak sabar, lembut dan sedang tingginya.
 
PAMENGKANG JAGAD, adalah bilah keris yang retak terbelah dibagian tengah atau bawah, ini karena sewaktu penempaan suhunya kurang tinggi sehingga satu saat penempelan besi dan pamor akan lepas dan retak. Walau termasuk keris cacat, tetapi banyak juga yang menyukainya.
 
PAMETRI WIJI, organisasi pecinta budaya keris dan senjata traditional Indonesia. Di Yogya didirikan sekitar tahun 1982, di Jakarta tahun 1983 didirikan juga organisasi serupa.
 
PAMOR AKHODIYAT, adalah bagian kelompok pamor yang mempunyai kecerahan lebih dari yang lain, sepintas seperti lelehan putih keperakan. Ini yang terjadi karena suhu yang tepat saat penempaan.
 
PAMOR LULUHAN, terjadi karena proses pemanasan yang suhunya terlalu tinggi, bahan besi dan pamor menyatu terlalu erat sehingga batas besi dan pamor susah dilihat dengan mata. Yang banyak memakai pamor ini adalah keris buatan Blambangan.
 
PAMOR  MAS KEMAMBANG, pamor yang letaknya dibagian Ganja. Bentuknya merupakan garis mendatar yang berlapis-lapis, termasuk baik tuahnya.
 
PAMOR MUNGGUL, pamor yang bentuknya seperti bisul, menonjol dari permukaan bilah sebesar biji kacang hijau atau lebih besar sedikit. Pamor ini sangat keras dan tidak bisa hilang walau dikikir dengan baja karena sifat bahannya sangat keras (Titanium).
 
PAMOR REKAN, pamor yang gambar motifnya sudah dirancang terlebih dahulu dan biasanya berdasarkan pesenan calon pemilik keris.
PAMOR SUMBER, pamor yang letaknya dibagian ganja, bentuknya bulatan berlapis-lapis, paling sedikit ada 3 lapisan. Dalam sebuah ganja, jumlah bulatan yang menyerupai “mata-kayu” itu paling sedikit 6 buah, pamor ini tergolong baik dan dicari orang.
 
PAMOR TIBAN, tidak direncanakan terlebih dulu, si empu hanya menempa sambil berdoa, contohnya Wos Wutah, Pandaringan Kebak, Pulo Tirto, Tunggak Semi dll.
 
PAMOR WINIH, pamor yang terletak dibagian ganja bentuknya berupa bulatan berlapis-lapis, paling sedikit tiga lapisan, semacam “mata-kayu”. Pamor ini tergolong baik dan dicari orang.
 
PANAH, senjata traditional yang dijumpai disemua daerah. Terdiri dari dua bagian yaitu busur dan anak panah. Di Indonesia biasanya busar dibuat dari kayu atau bambu sedang anak panah dari bambu, kayu atau rotan.
 
PANCURAN MAS, PAMOR, pamor yang gambar motifnya menempati dua pertiga bagian keris, yaitu bagian bilah dan ganja. Gambarnya berupa garis lurus mulai ujung bilah sampai pangkal yang bersinggungan dengan bagian ganja. Kemudian dibagian ganja, garis itu pecah menjadi dua, secara menyeluruh seperti lidah ular bercabang. Pamor ini dinilai baik untuk pedagang dan pengusaha.
 
PANDES, istilah untuk menyatakan “tertanamnya” pamor pada wilah besi. Pamor ini tampaknya seolah tertanam kuat pada bilah besi dan menyembul keluar kepermukaan dengan jelas dan tegas. Penyebutan pamor pandes biasanya hanya digunakan untuk mengamati tangguh keris, misalnya salah satu tanda keris buatan empu Ki Nom adalah, pamornya Pandes.
 
PANDU NAGA, nama salah satu dapur tombak luk 3. memakai gandik yang dibentuk menyerupai kepala Naga dikedua sisi didaerah sor-soran. Badan Naga mengikuti lekukan tepi bilah sesuai dengan luknya, sedang ditengah bilah diantara badan Naga tersebut berbentuk ngadal meteng. Tombak ini tergolong langka dan biasanya dari jaman Mataram Sultanagungan.
PANGERAN SEDAYU, atau PANGERAN SENDANG SEDAYU, nama seorang empu terkenal dijaman Majapahit. Kerisnya dapat ditandai dengan cirri sebagai berikut, Ganjanya tergolong Ganja Wuwung, yakni datar, namun dibagian ujung dekat buntut cecak agak melengkung kebawah. Ukuran ganja sedang, demikian pula ukuran bagian bagian ganja semua serba serasi, bagian buntut cecaknya berbentuk buntut urang. Bilahnya berukuran sedang, baik panjangnya, lebar maupun tebalnya, pendek kata semua dibuat serasi. Seluruh bagian keris, termasuk ricikannya digarap dengan cermat, rapi, ayu dan sempurna. Begitu rapinya sampai-sampai tepi bagian sogokannya mempunyai kesan tajam. Oleh kebanyakan pecinta keris, buatan Pangeran Sedayu dianggap sebagai keris yang paling sempurna dari semua keris yang ada.
Salah satu tanda paling menyolok, besinya selalu dari bahan pilihan, hitam, halus dan lumer matang tempaan. Kesannya seolah-olah besi itu selalu basah bahkan menurut pecinta keris cukup diberi minyak dua tahun sekali dan dibersihkan serta diwarangi tiap 5 tahun sekali. Pendapat ini didasarkan karena memang besi itu benar-benar tahan karat. Pamor keris ini tergolong pamor luluhan yang lembut sekali, pamor yang muncul ke permukaan bilah sedikit sekali, bahkan tidak ada yang nyata nyata muncul. Keris buatannya mempunyai penampilan tampan, tangkas, berwibawa oleh karena itu banyak diminati pejabat negara atau mereka yang tergolong pemimpin. Dan karena keindahan serta kesempurnaan garapannya maka nilai dan mas kawin keris buatan Pangeran Sedayu tergolong yang tertinggi dibandingkan yang lain.
 
PANGOT, salah satu senjata tradisional di Jawa dan Bali, bentuknya menyerupai pisau dapur tetapi dibentuk rapi dan indah. Punggung bilah tumpul. Pada ujung bilah bentuknya agak mencuat kebelakang. Walau dibuat dari besi baja, kadang diberi pamor. Pangot memang dibuat untuk keperluan praktis.
 
PANGGANG LELE, nama salah satu dapur tombak luk 3, disisi bilah yang menghadap kebawah terdapat semacam bentuk yang menyerupai jenggot. Diatas bagian mentuk terdapat bungkul yang diteruskan dengan ada-ada yang terlihat jelas sampai keujung bilah. Seluruh permukaan bilah berbentuk nggigir sapi.
 
PANGGANG WELUT, salah satu dapur tombak luk 5 atau 7, disisi bilah yang menghadap kebawah ada semacam bentuk yang menyerupai jenggot. Diatas begian mentuk terdapat bungkul yang dilanjutkan dengan ada-ada sampai keujung bilah. Separuh panjang tombak bagian bawah permukaannya berbentuk ngadal meteng, sedang diatasnya pipih datar saja.
 
PANIMBAL, salah satu dapur keris luk 9, ukuran sedang memakai kembang kacang, lambe gajah ada dua, memakai sogokan rangkap, sraweyan dan greneng. Ricikan lain tidak ada.
 
PANINGSET, KANGJENG KYAI, keris pusaka kraton Yogya, luk 13 dan berdapur Parungsari, warangka dari kayu Trembalo dengan pendok dari emas murni bertahta emas permata dikelilingi manik manik. Semula keris ini milik Pangeran Mangkukusuma yang kemudian dipersembahkan ke Sri Sultan HAMENGKU BUWONO V.
 
PANIWEN, nama salah satu dapur keris luk 9, ukuran bilah sedang, memakai kembang kacang, kadang-kadang kembang kacangnya pogok, lambe gajahnya satu, selain itu sogokan nya rangkap, sraweyan dan greneng.
 
PANJAK, sebutan orang yang bekerja pada seorang empu. Ia merupakan tenaga kasar yang kerjanya menempa, menangani ububan dan menambah arang di perapian serta kerja kasar lainnya. Seorang panjak yang menyerap ilmu sang empu suatu saat bisa juga menjadi empu.
 
PANJAK SEDAYU, sebutan bagi kelompok pembantu empu Pangeran Sedayu yang juga membuat keris mirip dengan karya empu Pangeran Sedayu pada jaman Majapahit, walau belum punya nama sendiri tetapi keris buatannya cukup indah.
Keris ini berukuran bilah sedang, besinya hitam berserat, pamor sederhana, umunya Pulo Tirto atau Wos Wutah, tanda tanda lainya bagian ganja mempunyai sirah cecak yang meruncing ujungnya. Guru melednya sedang, wetengannya juga sedang. Sogokannya dalam, ujungnya agak melengkung, janurnya dibuat tajam. Kalau membuat Dha pada bagian Ron Dha, jelas dan manis sekali. Kruwingannya jelas, begitu juga kalau membuat gusen dan lis-lisan. Bagian ada-ada dibuat rapi sehingga ujung bilah. Keris buatan Panjak Sedayu mempunyai penampilan manis berwibawa tetapi tidak seanggun buatan Pangeran Sedayu.
 
PANJIANOM, atau Panji Nom, salah satu dapur keris lurus. Bilahnya berukuran sedang, bentuknya berkesan agak membungkuk mamakai sogokan rangkap, sraweyan dan greneng.
 
PANJI HARJAMANIK, KANGJENG KYAI, salah satu pusaka kraton Yogya, berdapur Pendawa Paniwen walau nama ini tidak ada dalam Pakem Dapur Keris. Warangka dari kayu Timoho dengan pendok dari emas. Merupakan putran KK. JAKATUWA, dibuat oleh empu Lurah Mangkudahana dijaman Sri Sultan HAMENGKU BUWONO V.
 
PANJI WILIS, jenis hiasan emas yang ditempelkan pada bagian depan gandik keris atau sirah cecak ganja. Hiasan emas itu diukir indah, teknik pemasangan bisa kinatah atau sinarasah.
 
PANUNGKUP, KANGJENG KYAI, keris pusaka kraton Yogya, berdapur Sempana dengan luk sinarasah, warangka dari kayu Timaha, pendok emas Rajawarna, keris ini buatan Empu Lurah Supa dijaman Sri Sultan HAMENGKU BUWONO V dan merupakan putran KKA Panungkup.
 
PARANG ILANG, sejenis senjata tajam tradisional berbentuk pedang. Pembuatannya sederhana tanpa pamor, tandanya punggung bilah tumpul merupakan garis cekung. Bagian sisi yang depan membentuk garis cembung dan tajam seluruhnya, mulai bagian pangkal sampai ujung. Kegunaan untuk berburu dan merambah hutan.
 
PARANG LANDUNG, tergolong pedang tanpa pamor, panjang sekali sekitar 125 cm atau lebih, bagian dekat ujungnya agak lebih lebar disbanding pangkalnya. Sisi punggungnya tumpul, sedang sisi yang didepan tajam seluruhnya, biasanya untuk berburu, mencari rotan dan kadar bajanya lebih banyak dibandingkan pedang sejenis.
 
PARI SAWULI, pamor yang gambarnya menyerupai untaian bulir padi, tergolong tidak memilih, cocok bagi semua orang, tetapi tergolong sulit dan banyak hambatan pembuatannya.
 
PARUNG SARI, salah satu dapur keris luk 13, ukuran bilahnya sedang, memakai kembang kacang, jenggot, sraweyan, sogokan rangkap, pejetan dan greneng, tetapi ada yang mengatakan ini dapur Sengkelat.
 
PASIKUTAN, atau sikutan, istilah untuk menilai gaya irama bentuk dan kesan perwatakan tosan aji, khususnya keris, biasanya sebelum ahli tangguh menentukan tangguh sebilah keris, terlebih dahulu ditentukan pasikutannya. Apakah pasikutan itu kau (janggal), wingit (angker), prigel (tangkas), sedeng (sedang), demes (rapi menyenangkan), wagu (kurang serasi), odol (kasar), kemba (hambar), tanpa semu (tidak berkesan), sereng (keras,galak), dan bagus (tampan).
Contohnya : Keris tangguh Majapahit, pasikutannya angker tapi tangkas, tangguh Blambangan, pasikutannya rapi mengesankan , tangguh Tuban pasikutannya sedang, tangguh Mataram Senapaten pasikutannya tangkas, keras tapi tampan dan sebagainya.
 
PASOPATI, nama salah satu dapur keris lurus, ukuran bilahnya sedang dan menampilkan kesan ramping, ricikannya memakai kembang kacang pogok, lambe gajahnya satu, sogokan dua, ukuran normal serta ri pandan. Kadangkala Pasopati juga memakai gusen dan lis-lisan. Nama Pasopati ini berlainan dengan senjata pusaka Arjuna.
PEDANG, Senjata tajam berbentuk pisau panjang, hampir seluruh suku bangsa mempunyai jenis pedang. Ditinjau dari bentuk mata bilahnya, ada dua macam pedang yaitu : Petama, Pedang Suduk, yaitu pedang yang memakainya dengan cara menusuk tubuh lawan. Kedua, Pedang Sabet, yaitu pedang yang memakainya dengan cara membabat tubuh lawan. Pedang di Indonesia bentuknya hampir menyerupai pedang dari daratan China dibandingakn dengan yang dari Eropa atau Arab.
PEGAT WAJA, istilah yang digunakan untuk menyatakan keadaan keris yang retak pada sisi tajam bilahnya. Keris ini tergolong cacat dan tidak begitu disukai orang karena retaknya disebabkan tidak menempel dengan sempurna saton dengan lapisan bajanya sewaktu penempaan karena suhu kurang tinggi.
 
PEJETAN, lih Blumbangan.
 
PEMAOS, LANDEYAN, tangkai tombak yang panjangnya sekitar 2.5 m, biasa digunakan prajurit jaga kraton.
 
PENDAWA, keris luk 5, sepintas mirip dapur keris Pulanggeni. Ukurannya sedang, gandiknya polos, memakai sogokan dua, sraweyan dan greneng lengkap.
 
PENDAWA CINARITA, atau Pendawa Carita nama salah satu dapur keris luk 5 memakai kembang kacang, lambe gajah satu, sogokan rangkap, sraweyan, greneng, ada-ada nya jelas. Keris ini banyak dipunyai dalang dan tergolong dapur popular.
 
PENDAWA LARE, keris luk 5, memakai kembang kacang, lambe gajah satu, sogokan rangkap, bagian ada-adanya tebal dan tampak jelas.
 
PENDAWA PRASAJA, nama keris luk 5, ukuran panjang bilah sedang, memakai kembang kacang, lambe gajahnya satu, sogokan rangkap, sraweyan dan ri pandan.
 
PENDOK, lapisan pelindung bagian gandar dari warangka keris, biasanya terbuat dari logam perak, kuningn, tembaga, emas. Pendok dibuat dengan rapi dan ukiran lembut dan kadangkala diberi hiasan intan berlian atau batu mulia. Ragam ukirannya bermacam-macam, alas-alasan, semen, tamansari dsb.
 
PENDOK BUNTON, jenis pendok yang menutupi seluruh bagian gandar dari warangka keris. Pendok ini ada yang tanpa hiasan sama sekali, ada pula yang dihiasi ukiran dan pahatan. Pendok jenis ini disukai di Surakarta dan Yogyakarta.
 
PENDOK CUKITAN, pendok yang dihiasi dengan ukiran cukitan, bukan dipahat melainkan “dicukit” dengan alat yang tajam sehingga terjadi alur-alur indah seperti yang dikehendaki. Selain dipakai di Surakarta, Yogyakarta dan Madura juga di Bali.
 
PENDOK KEMALO, atau Kemalon, adalah pendok yang diberi warna. Bahan pendok umumnya logam murah seperti kuningan atau tembaga, warna kemalo lazim yang dipakai adalah hijau, merah, hitam dan coklat.warna itu mempunyai arti dan kedudukan si pemakai di lingkungan kraton. Pewarnaan pendok bukan dengan cat tetapi biasanya dengan bahan tradisional.
 
PENDOK KRAWANGAN, menyerupai pendok Buton, tetapi bagian depannya dihias dengan ukiran pahatan yang berlubang-lubang, banyak dipakai warangka dari Surakarta dan Yogya.
 
PENDOK SLOROK, pendok yang hanya menutup sebagian gandar dari sebuah Warangka keris. Bagian depan pendok dibuat semacam sobekan/celah selebar 1 – 2 cm untuk memperlihatkan keindahan urat kayu bahan gandarnya. Pendok Slorok disebut juga pendok Blewahan, biasa dipakai di Yogya dan Surakarta.
 
PENDOK TOPENGAN, pendok yang hanya menutupi sebagian dari gandar sebuah warangka keris. Bagian tengah depan dibuat celah memanjang yang gunanya memperlihatkan keindahan urat kayu gandar, banyak dipakai warangka gaya Madura.
 
PENDOK TRETES, pendok yang dihiasi dengan permata. Bisa Intan, Mirah, Jamrut dan dijaman dulu hanya kalangan bangsawan saja yang boleh menggunakan pendok ini.
 
PENGARAB-ARAB, KANGJENG KYAI, nama salah satu pedang pusaka kraton Yogyakarta. Berdapur Lameng, digunakan khusus untuk menghukum mati yang dilakukan oleh petugas disebut Abdidalem Singoranu.
 
PENGGING WITORADYO, nama salah satu tangguh didunia perkerisan atau tombak, biasanya berupa keris luk, bagian luknya amat rengkol, yakni lekukannya amat dalam dibanding keris biasa. Umumnya besinya matang tempaan dan mempunyai kesan lumer pandes pamornya.
 
PENUKUP, LANDEYAN, jenis tangkai tombak dengan panjang 195 – 225 cm, tombak dengan landeyan penukup ini dulu digunakan untuk pertempuran jarak dekat sehingga harus dilatih secara khusus untuk bisa menggunakannya.
 
PESI, bagian bawah yang merupakan tangkai keris. Bagian inilah yang masuk kedalam hulu dengan panjang sekitar 5 – 7 cm dengan penampang 5 – 7 mm. Di Jawa Timur disebut dengan istilah Paksi.
 
PINARAK, nama salah satu dapur keris lurus, bilahnya sedang dengan posisi agak membungkuk, gandiknya panjang dibelakang. Bagian depan justru tajam, menggunakan sogokan rangkap. Ricikan lain tidak ada.
 
PINARAN MENDANG, salah satu dapur keris lurus, sebagian menyebut Mendang Pinaran. Bilahnya berukuran sedang, gandik panjang dan polos. Sogokannya rangkap sepintas seperti Kebo Lajer.
 
PITRANG, PANGERAN EMPU,
 
PLERET, KANGJENG KYAI, Pusaka kraton Yogya berupa tombak serta dianggap paling tinggi kedudukannya, berdapur Pleret. Hanya Raja atau Pangeran Sepuh yang diijinkan mencuci atau menjamah tombak ini.
 
PRAMBANAN. PAMOR, batu meteor yang jatuh didaerah Prambanan pertengahan abad 18, terdiri atas dua bagian, meteor pertama diambil atas perintah Sri Paku Buwono III tanggal 13 februari 1784 dan kedua lebih besar lagi diambil atas perintah PAKU BUWONO IV pada tanggal 12 februari 1797. setelah sampai di keraton Surakarta dinamakan Kangjeng Kyai Pamor dan dipakai sebagai cadangan pembuat pamor keris/tombak.
 
PUCUKAN, atau Pucuk adalah bagian paling ujung atas dari sebilah keris atau tombak. Ujung itu selalu runcing, ragam bentuknya ada ngudup gambir, mbuntut tuma, anggabah kopong dan nyujen.
 
PUDAK SATEGAL, adalah nama salah satu bagian keris yang terletak diatas sor-soran, ditepi bilah. Terdiri dari dua bagian, didepan dan dibelakang. Pudak sategal yang ada dibagian depan bertengger diatas gandik sekitar 3,5 cm sedang dibelakang menempel di tepi bilah sekitar 6,5 cm dari ujung ganja, bentuk ricikannya menyerupai kelopak bunga dengan ujung ujung yang runcing. Selain itu Pudak sategal juga merupakan nama keris berdapur lurus dengan kembang kacang, lambe gajah satu, pejetan, kruwingan , greneng dan pudak sategal.
 
PUDAK SINUMPET, Pelet, gambaran pada Warangka kayu Timoho yang menyerupai pelet Tulak. Hanya garis hitam tebal ditengah, tidak hitam legam tetapi berwarna lebih muda.
 
 PULANGGENI, dapur keris luk 5, ukurannya sedang, gandiknya polos, mempunyai sraweyan dan greneng lengkap.
 
PULANGGENI, KANGJENG KYAI, keris pusaka kraton Yogya berdapur Tilam Upih, warangkanya Kayu Trembalo, pendok dari emas dihias rinaja werdi. Dibeli Sri Sultan HAMENGKU BUWONO V dari mranggi bernama Mas Darmapanembung.
 
PULAS, Pelet, nama gambar warangka kayu Timoho berupa bintik atau garis tebal berwarna hitam atau coklat tua atau hitam pucat. Gradasi warnanya tidak begitu kontras seperti lukisan awan atau mendung.
 
PULO TIRTA, nama pamor yang mirip Wos Wutah, hanya menghiasi sebagian kecil dari bilah tombak, keris. Penempatan menyebar tidak merata, mirip pulau-pulau, merupakan pamor tiban dan bertuah menambah ketrentaman dan rejeki serta baik untuk pergaulan.
 
PUNTING, Keris, lih Pesi.
 
PURBANIYAT, KANGJENG KYAI, pusaka kraton Yogyakarta, merupakan pegangan jabatan Patih kraton, semula dimiliki Kangjeng Pangeran Ageng Ario Danurejo I, setelah meninggal maka keris tersebut dikembalikan ke kraton kemudian diberikan sebagai tanda jabatan ke Patih yang baru, demikian seterusnya.
 
PURNAMA DADARI, lihat Wulan-wulan.
 
PURNAMA SADHA, lih TIMOHO.
 
PUSAKA, benda peninggalan nenek moyang, bisa berupa rumah, benda lainnya seperti pusaka, sehingga walau sebenarnya nilai pusaka itu biasa tetapi bagi pemiliknya nilainya tinggi sekali.
 
PUTRI KINURUNG, nama pamor yang bentuk gambarnya merupakan sebuah danau dengan beberapa pulau ditengahnya, banyak yang menyukainya terutama bagi pemegang uang seperti bendahara, kasir dsb, tergolong pamor tiban dan tidak pemilih.
 
PUTRI KINURUNG, Ukiran, model ukiran gaya Yogya sepintas seperti ukiran lainnya tetapi di bonggol dihias dengan ukiran pahat. Ukiran Putri Kinurung ini sesuai dikenakan oleh orang yang pesolek, suka mengenakan pakaian rapi dan mewah.
 
PUTING KERIS, lih PESI.
 
PUTUT, merupakan nama dapur keris lurus yang ukuran panjang bilahnya agak pendek, lebar, gandiknya diukir seperti orang duduk atau monyet duduk tanpa ricikan lain, pamornya umumnya sederhana.
 
PUTUT KEMBAR, salah satu dapur keris lurus, bentuk serupa dapur putut tetapi gandiknya ada dua, bentuknya agak simetris dengan kedua gandik dihias bentuk manusia atau monyet. Biasanya berpamor sederhana. Ada yang menyebut ini keris Umyang walaupun ini salah kaprah karena Empu Umyang hidup pada jaman kerajaan Pajang.
 
 

INDEX – R

 
RANGGA PASUNG, salah satu dapur keris yang tergolong Kalawija, luk 15, gandik polos, tikel alis dan greneng, tetapi ada yang bukan greneng melainkan tingil, keris ini tergolong langka.
 
RANGGA WILAH, salah satu dapur keris luk 15, memakai kembang kacang, lambe gajah satu dan greneng.
 
RAHTAMA, pamor yang terletak di sor-soran, tergolong pamor tiban, pada umumnya pamor ini terselip di pamor wos wutah atau ngulit semangka, tuahnya baik dimiliki oleh pengantin baru atau pasangan yang menghendaki anak yang baik berbudi luhur dan mulia.
 
RAJA WERDI, hiasan yang biasa diberikan pada sebuah pendok dengan cara menempelkan warna warni manik manik dan batu mulia, penempelan ini diatur rapi dan cantik disekitar tepi bagian mlewahan pendok. Pendok Raja Werdi disebut juga pendok Rinaja Warna atau Rinarja Werdi.
 
RAMBUT DARADAH, pamor yang hampir mirip dengan Adeg, tetapi pada jarak tertentu terdapat lekukan pinggir pamor, ia tergolong pamor miring, biasanya pamor rekan, tuahnya baik dan berjiwa kepemimpinan, pamor ini termasuk pemilih.
 
RANDA BESER, sebutan keris yang cacat berlobang pada bagian sor-soran nya, lubang ini terjadi bukan karena aus tetapi karena pembuatan nya ada kekeliruan. Pada umumnya lubang itu berupa celah yang terdapat pada pertemuan antara bagian bawah keris dengan bagian atas ganja. Tuahnya buruk, bisa boros, tetapi keris ini masih bisa diperbaiki oleh empu atau pengrajin keris.
 
RANTE,  pamor yang gambarannya mirip dengan rante, berupa sederet bulatan yang berlubang ditengahnya, bulatan itu dihubungkan dengan pamor yang menyerupai garis. Tergolong pamor rekan, tidak pemilih dan tuahnya baik untuk mencari kekayaan dan tidak bersipat boros.
 
RARA SIDUWA, salah satu dapur keris luk 5, bentuknya khas, bagian bawah lurus dan luk nya mulai dari tengah bilah, rickan hanya pejetan serta tingil saja, dapur ini tergolong langka dan hanya terdapat pada keris tua saja.
 
REGOL, salah satu dapur keris lurus, panjang bilahnya sedang, mempunyai 2 buah gandik didepan dan belakang, pijetan juga dua didepan dan belakang, biasanya tidak begitu condong kedepan melainkan cenderung tegak. Keris ini mempunyai bentuk ganja yang khas.
 
REGOL, KANGJENG KYAI, pusaka kraton Yogyakarta, berdapur Bondan, mungkin termasuk Kalawija, warangkanya dari kayu trembalo dengan pendok blewahan dari emas, keris ini duplikat K.K.A. REGOL, dibuat Empu Lurah Ngabehi Supo dijaman Sri Sultan HAMENGKU BUWONO V.
 
REJENG, EMPU, hidup di Surakarta dijaman Sunan Paku Buwono V, kerisnya ditandai dengan : Ganja nya Sebit Ron Tal, sirah cicaknya meruncing bagian ujungnya, bagian gendok tidak begitu cembung dan buntut cecak tergolong model buntut urang. Ukurannya sedang tetapi agak tipis dibandingkan keris sejamannya, besi berwarna hitam dan keabu-abuan, pamornya tergolong mubyar, secara keseluruhan penampilannya kalem, sopan tapi cukup berwibawa.
 
REKAN, PAMOR, pamor yang sudah dirancang terlebih dahulu seperti Blarak Ngirid, Ron Genduru, Udan Mas, Kupu Tarung dlsb.
 
REMPELAS, DAUN, daun dari jenis pohon Ficus sp, atau dari jenis pohon Celtis rigescens Planch. Daun amplas yang telah kering digunakan untuk menghaluskan permukaan kayu warangka, ukiran, semua peralatan dari kayu.
 
RENCONG, senjata traditional dari ACEH.
 
RENGGO, salah satu dapur tombak luk 5, tombak ini memakai sapit abon dan semacam alur serupa sogokan yang mengelilingi sapit abon itu. Bilahnya tebal tetapi datar saja tanpa ada–ada, ditepi bilah yang menghadap kebawah terdapat dua tonjolan menyudut serupa lambe gajah.
 
RENGKOL, penamaan bagi luk keris atau tombak oleh pecinta keris di Jawa, luk yang “rengkol” artinya luk yang lekukannya amat dalam. Lawannya adalah KEMBA artinya luk nya tidak begitu nyata, kedalamannya dangkal.
 
RI CANGKRING, nama bagian dari warangka keris gaya Solo, Yogyakarta atau Madura. Terletak ditepi kira dan kanan bagian atas warangka baik model gayaman, branggah, ladrang atau daunan. Jadi ri cangkring merupakan bagian yang berpasangan, bentuknya merupakan tonjolan landai yang arahnya sejajar dengan letak lubang tempat pesi keris masuk warangka.
 
RICIKAN, adalah nama dari bagian keris, tombak atau pedang. Secara garis besar sebilah keris dapat dibagi menjadi 3 bagian, yakni bagian wilahan atau bilah, ganja dan pesi. Bagian wilahan atau bilah juga dibagi 3 bagian utama, sor-soran, tengah dan pucukan. Pada bagian sor-soran inilah ricikan keris banyak ditemukan.
 
RINAJA WARNA, lihat RAJA WERDI.
 
RI PANDAN, pamor yang gambarnya menyerupai duri ikan, sepintas seperti pamor Ron Genduru tetapi daunnya lebih jarang dan tipis sehingga menimbulkan kesan kurus. Tergolong pamor miring dan termasuk pamor rekan. Tuahnya menambah kewibawaan dan baik bagi prajurit tetapi pamor ini tergolong pemilih.
 
RONGGOWARSITO, RADEN NGABEHI, Pujangga Jawa terkenal dari kraton Surakarta, menulis buku tentang keris yang berjugul PAKEM PUSAKA.
 
RON DADAP, lihat GODONG DADAP.
 
RON GENDURU, pamor popular dan mahal harganya. Bentuknya menyerupai daun genduru, tuahnya menjadikan pemiliknya terpandang, wibawa dan pandai memimpin orang.  Pamor ini tergolong pemilih dan kadang disebut juga Pamor Bulu Ayam.
 
RON SEDAH, lihat GODONG SEDAH.
 
RON TEKI, salah satu dapur keris lurus, panjang bilah sedang, memakai kembang kacang, lambe gajah ada dua, gandiknya panjang, selain itu memakai pejetan, sogokannya satu didepan.
 
RON PAKIS, pamor yang menyerupai daun Pakis, tergolong pamor miring dan rekan, juga termasuk pamor popular dan mahal harganya dan sering dikacaukan namanya dengan pamor Bulu Ayam.
 
ROS-ROSAN TEBU, pamor yang berbentuk batang tebu yang beruas pendek. Tergolong pamor mlumah, tuahnya mudah mencari rejeki dan disegani orang, tergolong pamor rekan dan tidak memilih.
 
RUAS BAMBU, nama salah satu dapur keris lurus yang tepinya mempunyai ketiak-ketiak seperti pudak sategal yang bersusun dari atas kebawah. Jarak antar ruas bekisar 2.5 – 4.5 cm, biasanya jaran ruas dibagian pangkal lebih rapat dibandingkan dibagian ujung. Keris ini hanya terdapat di Bangkinang, Riau dan pada umumnya tidak berpamor serta besinya halus sekali.
 
RUDUS, sebutan bagi Badik di Kalimantan Timur dan Sabah, sebagian menyebut Badik Rudus.
 
 
 

INDEX – S

 
SABET PEDANG, lihat PEDANG SABET.
 
SABUK INTEN, salah satu dapur keris luk 11, ukuran panjang bilah sedang, memakai kembang kacang, lambe gajah dua, sogokan rangkap, sraweyan dan ri pandan. Kadang ada yang luk 13, namun ada yang mengatakan itu adalah dapur Sengkelat.
 
SABUK TALI, salah satu keris luk 11, panjang bilahnya sedang, gandik polos, ricikan sederhana, sogokan hanya satu, dibagian depan saja, ukuran sogokan tidak begitu panjang , memakai tingil.
 
SABUK TAMPAR, salah satu keris luk 9, panjang keris sedang, memakai kembang kacang, lambe gajah satu, sogokan hanya satu didepan, sraweyan dan ri pandan. Sabuk Tampar juga ada yang luk 11, luknya rengkol (dalam), gandik polos, pejetan, sogokan satu didepan dan sraweyan.
 
SADA LANANG, lih SADA SALER.
 
SADAK, merupaka salah satu dapur tombak lurus, bilahnya simetris dan tebal. Bentuk atas menyerupai Godong Andong, bagian tengah menyempit menyerupai pinggang. Memakai ada-ada sampai ketengah bilah, dibawah ada-ada ada bungkul, disis bilah bagian bawah disamping bungkul ada bentuk menyudut. Selain itu Sadak juga merupakan nama sejenis tosan aji berpamor yang bentuknya mirip dengan pinsil. Sebenarnya Sadak yang ini merupakan bentuk tombak pendek dengan pegangan (hulu) hanya sejengkal, dewasa ini sering dipakai sebagai isi dari tongkat komando.
 
SADA SALER, salah satu bentuk pamor yang berbentuk garis memujur dari pangkal keujung bilah keris. Pamor ini tidak memilih, dibeberapa tempat disebut Sada Lanang, Adeg Siji atau Sada Siji.
 
SALAHITA, EMPU, sering dipanggil Empu Salaita atau Empu Galaita, hidup di Tuban pada awal Kerajaan Majapahit. Kerisnya berukuran besar, panjang dan tebal memberi kesan gagah , ganjanya datar dan tergolong ganja wuwung, gandiknya membulat tebal, blumbangannya berukuran lebar, sirah cecak berbentuk membulat, mirip potongan buah Melinjo, gulu melednya jenjang dan ujung ganja berbentuk nguceng mati. Empu ini menyusun pamor dengan rumit, menyebar dipermukaan bilah, besi yang digunakan bersifat liat, padat dan memberi kesan kering. Kesannya gagah, tegas, tangguh dan meyakinkan.
 
SALA KETINGAL, salah satu dapur pedang yang tergolong Pedang Suduk. Panjang sekitar 85 – 95 Cm, sisi punggung terdiri dari 2 bagian, yang bawah lurus sampai dua pertiga panjang majal, kemudian sisi itu berubah bentuk cekung yang makin keujung makin tajam, pada sisi punggung yang lurus didekatnya ada kruwingan, sejajar dengan sisi pedang. Bagian ujungnya runcing, sisi pedang yang tajam, didepan, merupakan sisi lengkung yang cembung. Pedang ini sering digunakan secara praktis di pertempuran dan juga banyak yang dijadikan pusaka, hanya bentuknya lebih tipis dan berpamor yang apik. 
 
SAMPUR, salah satu dapur keris lurus, ukuran panjang bilahnya sedang, memakai kembang kacang, jenggot, jalen, lambe gajahnya dua, tikel alis, ada-ada dan sogokannya rangkap. Selain itu memakai pudak sategal, kruwingan, sraweyan, greneng susun. Ada yang menamakan juga dapur Sinom Pudak Sategal.
 
SATRIYA PINAYUNGAN, nama pamor yang serupa pamor Kudung tetapi dibawahnya ada pamor lain. Pamor yang dibawah dibagian sor-soran bisa berupa Wos Wutah, Bawang Sebungkal dll. Tetapi ada yang mengatakan Pamor ini bentuknya berupa bulatan-bulatan berlapis, jumlahnya 3 buah. Letaknya berjajar dibagian sor-soran. Diatas jajaran bulatan itu ada lagi beberapa bulatan berjajar keatas. Menurut pecinta keris, kedua versi itu benar semua, pamor ini dapat menjauhkan rasa iri, dengki dari orang lain terhadap dirinya, tergolong popular dan dicari Pejabat.
 
SANGA-SANGA, salah satu dapur tombak luk 9, permukaan bilahnya nggigir sapi dengan ada-ada tipis sepanjang bilah. Sisi bilah diujung bawah tombak berbentuk menyudut, seluruh permukaan bilah tertutup kinatah lung-lungan. Tombak ini termasuk langka karena mungkin terlalu indah dan mahal bila diproduksi kebanyakan.
 
SANTAN, salah satu dapur keris luk 11, ukuran panjang bilahnya sedang, memakai pejetan, tikel alis, kembang kacang, jenggot, lambe gajahnya satu, greneng dan Ron Dha nunut.
 
SAPIT ABON, nama salah satu dapur tombak lurus, bilahnya simetris, pipih, tipis dan tidak memakai ada-ada. Sisi bagian tengah bilah ada lekukan dangkal dan landai menyerupai bentuk pinggang, tetapi tidak begitu ramping.ukuran bilah bagian atas pinggang lebih sempit disbanding bagian bawah. Dibagian sor-soran ada bentuk sapit abon, yaitu bentuk semacam penjepit bilah, menyerupai ada-ada besar yang terputus.
 
SEBIT RON, nama bagian yang permukaannya melandai dibagian belakang bagian gendok dari sebuah ganja. Sebit Ron berbeda dengan Sebit Ron Tal.
 
SEBIT RON TAL, salah satu bentuk ganja keris, bentuknya agak lengkung melandai. Disbanding bagian Wetengan maka bagian Sirah Cicak dan bagian Buntut Urang kedudukannya agak turun. Keris-keris buatan Mataram banyak yang memakai ganja Sebit Ron Tal.
 
SEDET, keris dengan luk 15, panjang bilah sedang, memakai kembang kacang, lambe gajahnya satu, pakai jalen, sogokan rangkap ukuran normal, ricikan lain greneng, ada yang memakai tikel alis, adapula yang tidak.
 
SEGARA MUNCAR, keris luk 9, panjang bilah sedang, kembang kacang, lambe gajah dua, jalen, jalu memet dan sogokan rangkap yang ukurannya panjang sampai sekitar pertengahan bilah, tidak memakai greneng maupun tingil tetapi memakai sraweyan.
 
SEGARA WEDI, nama pamor berbentuk bulatan bulatan kecil, sebgian berlapis sebagian tidak, menyebar keseluruh permukaan bilah, pamor ini menyebabkan yang punya mudah mencari rejaki dan bukan pamor pemilih.
 
SEGARA WINOTAN, biasa disebut juga Jangkung Mangku Negoro, nama salah satu dapur keris.ukuran bilah sedang, luk 3, memakai kembang kacang, jenggot, sogokannya rangkap ukuran normal tetapi sogokan tersebut menyatu sampai keujung bilah. Memakai kruwingan dan greneng lengkap. Di Sabah dan Serawak disebut Aliamai Lok Tiga.
 
SEGARA WINOTAN, PELET, gambar pada warangka Timoho, pada permukaannya tergambar dua atu tiga bintik besar berwarna hitam atau coklat tua, letaknya tidak teratur, tuahnya menambah kebijaksanaan pemiliknya.
 
SEKAR ANGGREK, pamor yang menyerupai untaian bungan anggrek, sepintas mirip Pamor Bunga Pala.bedanya pada Sekar Anggrek, bagian ujung bunga lebih berkembang (mekrok – jawa), tergolong pamor rekan, tuahnya mudah mencari keberuntungan.
 
SEKAR JANTUNG, salah satu dapur tombak lurus, bilahnya simetris, sisi bilah bagian tengah melebar. Memakai pudak sategal, dan kruwingan, biasanya pudak sategalnya lebih besar dari pudak sategal keris, seluruh tepi bilah diatas pudak sategal memakai gusen dan lis-lisan. Disisi bilah bagian bawah ada bentuk menyudut, dapur ini tergolong langka.
 
SEKAR KOPI, pamor seperti buah buah kopi dalam untaian ranting, ditengah ada pamir yang menyerupai garis tebal dari pangkal bilah keujung, dikiri kanan garis itu ada bulatan bulatan kecil yang menggerombol terpisah pisah, setiap gerombol terdiri dari dua, tiga atau empat bulatan kecil. Tuahnya memudahkan pemiliknya mencari rejeki, sehingga banyak dicari pedagang dan pengusaha, tergolong pamor rekan. 
 
SEKAR GLAGAH, lih Sekar Tebu.
 
SEKAR LAMPES, pamor keris dengan gambar menyerupai untaian bunga, mirip Sekar Anggrek dan Sekar Pala. Pamor ini tergolong rekan dan pemilih.
 
SEKAR MANGGAR, nama pamor yang gambarannya menyerupai untaian bunga kelapa, sepintas seperti pamor Mangar tetapi pada pamor Mangar maka “bunga kelapa” nya lebih besar  dan lebih jelas, sedang pada pamor Sekar Mangar yang lebih jelas adalah gambar “untaian dan tangkainya”. Pamor ini menyebabkan terkenal dalam pergaulan, merupakan pamor tidak pemilih dan tergolong pamor rekan.
 
SELEH, EMPU, KI, hidup dijaman kerajaan Demak. Tanda tanda kerisnya ialah Ganjanya tipis, datar dan tergolong ganja wuwung. Gulu melednya sempit, sirah cicaknya panjang. Wetengannya ramping sekali, buntut cicaknya meruncing. Ukuran bilah kerisnya hampir serupa dengan buatan Majapahit tetapi besinya tampak seperti kurang tempaan, berpori dan agak kekuningan. Pamornya seolah hanya mengambang dipermukaan bilah, motif pamornya sederhana seperti Wos Wutah, kembang kacangnya agak kurus tetapi lingkarannya agak lebar, sogokannya biasa tetapi blumbangannya agak sempit dan dalam. Secara keseluruhan keris buatannya berkesan sederhana tapi berwibawa.
 
SEKAR PALA, pamor keris atau tombak, menyerupai bentuk untaian bunga pala , ia hampir mirip dengan pamor Sekar Anggrek. Tuahnya dapat menjadikan pemiliknya terkenal,  biasanya dimiliki Dalang atau Pesinden.
 
SEKAR SUSUN, pamor yang mirip Melati Rinonce, bedanya pada Pamor Sekar Susun gambar bunganya lebih besar. pamornya tidak pemilih dan biasanya terdapat dikeris nom-noman.
 
SEKAR TEBU, pamor yang mirip Blarak Ngirid atau Blarak Sinered. Bedanya ujung garis pamor yang menyerupai gambar daun kelapa tidak sampai ketepi bilah, melainkan mengumpul ditengah bilah. Guratan garisnya juga lebih halus. Pamor ini tergolong pemilih, merupakan pamor Miring dan Rekan.
 
SELOKARANG, pamor yang gambarnya menyerupai batang karang dilaut, sepintas lalu menyerupai pamor Tunggak Semi, tetapi bagian seminya memanjang terus sampai keujung bilah, tergolong pamor Mlumah yang sukar pembuatannya. Katanya keris ini baik bagi yang ingin mencari pengikut. Biasanya dimiliki oleh pemimpin peguruan silat atau pimpinan aliran kebatinan.
 
SELUT, salah satu hiasan pada hulu keris (gagang keris), sebesar bola pingpong dengan garis tengah 35 – 45 mm, terbuat dari logam berukir seperti perak, emas, tembaga, kuningan dihiasi dengan intan berlian dan batu mulia lainnya., selut yang mahal bisa berharga jutaan rupiah.
 
SEMAR BETAK, atau SEMAR BETAK atau Semar Petak, nama salah satu dapur keris , bilahnya pendek, lebar dan lurus. Bagian sor-sorannya agak tebal, gandiknya tebal diukir kepala gajah dan dibawah gandik ada lubangnya. Dapur keris ini tergolong sederhana dan hanya ada pada keris keris tua.
 
SEMAR MESEM, nama salah satu dapur keris lurus, ukuran bilahnya pendek tetapi lebih besar dibandingkan bilah keris lain pada umumnya, memakai kembang kacang, lambe gajah satu, biasanya bentuk bilah memberi kesan membungkuk. Dapur keris ini jarang terdapat di keris baru ataupun lama, tergolong amat langka.
 
SEMAR TINANDU, nama salah satu dapur keris lurus, ukuran bilahnya tergolong pendek, tipis tapi lebar dan menampilkan kesan gendut. Keris ini memakai kembang kacang bersusun dua, atas dan bawah. Selain itu ia memakai sogokan dua, ukuran normal. Gandiknya tergolong tipis dan pejetannya dangkal. Keris ini tergolong langka dan tua, dikalangan pecinta keris sering dianggap keris tindih, yakni bisa menangkal pengaruh buruk keris lain.
 
SEPANA KALENTANG, atau Sempana Klentang adalah nama keris luk 9, bilahnya berukuran panjang, luknya tidak dalam, memakai kembang kacang, ri pandan dan tikel alis.
 
SEMBUR, PELET, gambar pada warangka Timoho berupa bintik bintik kecil berwarna hitam atau coklat tua dan relatif merata dipermukaan kayu, bintik ini ada yang bentuknya bulat dan ada yang lonjong.
 
SEMPANA, lih Sepana,
 
SEPANER, nama salah satu dapur keris lurus, ada yang menyebutnya SEMPANER, 
SEMPANA BENER, SUPONO BENER. Bilahnya sedang, memakai kembang kacang, tikel alis dan ri pandan. Keris ini tergolong populer dan banyak jumlahnya.
 
SENGKELAT, salah satu dapur keris luk 13, ukuran panjang bilahnya sedang, memakai kembang kacang, lambe gajah satu dan memakai jenggot. Selain itu ricikannya adalah sogokan rangkap, sraweyan, ri pandan, greneng, kruwingan. Namun ada yang menyebutkan bahwa Sengkelat tidak memakai jenggot, jika ada jenggot namanya dapur Parungsari.
 
SEPANG, nama salah satu dapur keris lurus, panjang bilahnya sedang, memakai kembang kacang tanpa pejetan, tanpa ricikan lainnya.  Tetapi ada pendapat yang menyatakan dapur Sepang bilahnya simetris, tanpa ricikan, tanpa gandik, kadang kadang ada tingil kembar dikanan kirinya, tuahnya baik untuk membangun kerukunan suami istri.
 
SEPOKAL, salah satu dapur keris luk 13, ukuran bilahnya sedang dan hanya ada sraweyan saja. Bentuk keris amat sederhana.
 
SEPANA PANJUL, atau Sempana Panjul, nama darur luk 7, keris ini memakai kembang kacang, sraweyan, ri pandan dan greneng. Tergolong langka dan agak jarang dijumpai.
 
SEPANA BUNGKEM, nama salah satu dapur keris luk 7, memakai kembang kacang tetapi kembang kacangnya bungkem. Tergolong popular dan disukai oleh Jaksa atau Pembela karena katanya dapat mempengaruhi lawan bicara, tetapi karena sering dicarai maka banyak terjadi pemalsuan yang tadinya tidak bungkem dibuat menjadi bungkem dengan cara membentuk kembali kembang kacangnya menjadi bungkem.
 
SENGKOL, nama salah satu dapur keris luk 1, ukuran bilahnya sedang, lurus dan agak membungkuk. Ganja keris berdapur Sengkol ini polos, pejetannya dalam, pakai greneng atau tingil, luknya satu dipangkal bilah, bentuk ini tergolong aneh dan keris ini juga langka sekali.
 
SEPANA, atau Sempana, atau Sumpono, nama dapur keris luk 7, memakai kembang kacang, gandiknya tebal, sraweyan dan ri pandan. Keris ini banyak jumlahnya.
 
SETRA BANYU, EMPU, nama empu yang hidup didesa Tesih pada kerajaan Majapahit dengan tanda buatannya sebagai berikut, ganja datar, tergolong ganja wuwung, gulu melednya panjang, sirah cecaknya berukuran sedang, wetengannya montok, buntut urangnya panjang dan tipis. Secara keseluruhan bagian ganjanya agak lebih panjang dibanding dengan keris buatan Majapahit lainnya. Empu ini menyenangi pamor miring seperti Adeg, Lar Gangsir, ganggeng kanyut dan sebagainya. Ukuran bilah agak lebih panjang dari buatan dari buatan Majapahit umumnya tetapi lebar bilahnya cukup sehingga memberi kesan ramping. Kalau membuat sogokan dangkal tapi panjang, janurnya tumpul, kembang kacangnya kurus, jalennya pendek, lambe gajah panjang, bagian pejetan dibuat sempit dan dangkal, tikel alis pendek dan dangkal.
 
SETAN KOBER, nama keris milik Adipati Jipang, Arya Penangsang. Digunakan ketika melawan Sutawijaya, saat perutnya terkena Kyai Pleret maka ususnya yang keluar diselipkan ke kerisnya tetapi ketika terdesak maka Arya Penangsang lupa dan mencabut kerisnya sehingga usunya terburai. 
 
SIDERIT, mineral besi terdiri dari kristal-kristal karbonat besi. Mineral ini berupa kelabu putih kekuningan, atau kecoklatan  dengan permulaan yang mengkilat, rumusnya FeCO3. dalam dunia keris maka bahan ini biasa dipakai  untuk batu bahan pamor yang hanya mengandung besi saja. Pada bilah keris, pamor dari bahan ini warnanya hitam dan umunya dinamakan Pamor Sanak atau Nyanak. Ada yang menyebut pamor wulung.
 
SIGAR JANTUNG,  nama salah satu dapur keris lurus, ukuran bilahnya pendek lebar. Lurus, bagian tengah bilah bentuknya seperti jantung pisang, gandiknya tipis dan pejetannya sempit.biasanya memakai ganja iras, selain itu juga merupakan nama tombak lurus, tombaknya lebar dan pipih, bentuknya mirip melahan jantung pisang. Tombak ini biasanya sederhana sekali tanpa ada-ada, tanpa bungkul, biasanya memakai metuk iras, tombak ini tergolong langks, biasanya buatan Pajajaran dan Segaluh. Diduga dahulu dibiat bukan untuk kegunaan praktis tetapi sebagai pusaka.
 
SI GINJE, nama keris pusaka buatan Mataram yang kemudian menjadi milik Sultan Jambi, konon dibuat di jaman Sri Sultan Agung, besi yang untuk membuatnya diambil dari 9 tempat yang berlainan . besi bahan pembuatannya pun diambil aneka macam alat yang berbeda namun semua berawalan dengan hurup “Pa” (P). keris ini menurut cerita hanya ditempa pada hari Jum’at saja dengan setiap menempa hanya satu kali pukulan, sesudah jadi menjadi keris yang sakti dan diberikan Raja Mataram ke Raja Jambi, begitu saktinya sehingga katanya jika keris ini menyentuh daun saja maka seluruh pohon akan layu dan akhirnya tumbang.
 
SIKIM ACEH, Pedang khas daerah Aceh, terbuat dari besi dan baja dengan panjang sekitar 80 – 90 cm, punggung pedang ini majal sedang sisi depannya tajam seluruhnya. Bagian punggung bilah agak tebal, tetapi mulai tengah sampai tepi depannya tipis sekali. Sikim Aceh tergolong pedang sabet. Bobotnya tidak begitu berat sehingga mudah memainkannya.
 
SIKUNYIR, bentuk ganja yang bagian  sirah cicaknya menonjol kedepan dan runcing. Penamaan ini hanya dikenal di Malaysia dan Brunei. Kata Sikunyir berasal dari Sekunar, salah satu bentuk kapal disana, bentuk sirah cicak yang tergolong Sikunyir juga hanya ada pada keris buatan Malaysia dan Brunei saja.
 
SILAK WAJA, merupakan salah satu tahap dalam pembuatan tosan aji, setelah selesai penempaan maka calaon keris dikikir untuk mengeluarkan pamornya, proses ini dimulai dari tepi bilah makin lama ketengah. Pekerjaan ini memerlukan pengalaman, agar dapat berhenti pada saat yang tepat. Kalau berlebihan akan banyak pamor hilang begitu sebaliknya.
 
SIMBAR INTEN, KANGJENG KYAI, salah satu keris pusaka kraton Yogyakarta, berdapur Pandawa Panimbal Singa, nama ini tidak ada dalem Pakem Keris, tetapi ini yang tercantum di kraton. Warangka dari kayu Trembalo, pendoknya dari emas. Keris buatan Tamanan Surakarta ini semula milik Pangeran Mangkubumi sebelum menjadi raja kemudian diberikan ke putrinya Kangjeng Ratu Bendara, istri RM Said. Setelah bercerai, putri ini menikah dengan Kangjeng Pangeran Haryo Diponegoro sesudah itu diwarisi oleh anak angkatnya, Pangeran Mangkurat dan dikembalikan ke kraton.
 
SIMBANG KURUNG, sebutan pamor yang merupakan garis melintang pada gandik atau kembang kacang, tuahnya katanya mudah mencarai rejeki, dikasihi orang dan selalu selamat, pamor ini hanya ada di keris atau tombak.
 
SIMBANG PATAWE, sebutan bagi pamor yang menyerupai dua garis melintang pada gandik atau kembang kacang. Pamornya katanya untuk pengasihan dan dihormati orang sekitarnya.
 
SIMBANG RAJA, pamor yang bentuknya menyerupai tiga garis melintang pada bagian gandik atau kembang kacang, tuahnya bisa mengangkat derajat pemiliknya, disayang atasan.
 
SIKEP, atau Anyikep Pusaka, salah satu cara memakai keris, sebagai kelengkapan pakaian di Jawa Tengah, keris diselipkan dilipatan sabuk lontong bagian dada. Kedudukan keris miring kearah tangan kanan. Hulu dan warangkanya menghadap kebawah. Cara ini biasanya dipakai oleh ulama yang mengenakan jubah atau dalam keadaan darurat perang.
 
SIKI, EMPU, seorang empu hidup di Sedayu pada jaman Majapahit. Keris dan tombaknya mirip buatan Pangeran Sedayu, yang agak beda olah dan tempaan besinya tidak sehalus garapan Pangeran Sedayu. Tanda tandanya, ganjanya datar tergolong ganja wuwung, sirah cecak meruncing kecil, Gulu Melednya panjang, wetengannya kurang gemuk. Bilahnya berukuran sedang, posisinya terlalu menunduk disbanding keris Majapahit yang lainnya, besinya hitam tetapi memberi kesan kering. Pamornya rumit dan halus. Umumnya berupa Wos Wutah, Pendaringan Kbak atau sejenisnya. Kembang kacangnya menyerupai gelung wayang, jalennya kurang ramping, Bagian Dha pada Ron Dha, bentuknya agak aneh. Sogokannya dalam, panjang dan janurnya dibuat tajam. Gandiknya agak panjang dan tebal.
 
SIKIR, EMPU, juga dikenal Empu Ki Jikir, hidup dijaman Pajajaran. Keris buatannya pada umumnya lurus, panjang bilahnya sedang, tipis. Besinya biasanya hitam, padat dan liat. Pamornya pandes, seolah menancap kuat pada permukaan bilah. Ganjanya berukuran normal, tergolong ganja wuwung. Bagian bawahnya lurus, guru melednya panjang. Sirah cicaknya membulat, bagian blumbangannya berukuran lu
 
 
 

INDEX – T

 
TAJI AYAM, senjata tikam traditional daerah Lampung dan Bengkulu, bentuknya serupa pisau dengan bagian tajam pada  dua sisi mata, ujungnya meruncing dan membengkok sehingga menyerupai bentuk taji ayam, bagian tengah bilah relatif tebal, terbuat dari besi berlapis baja, kadang kadang berpamor. Panjangnya kira kira sejengkal diberi sarung dari kayu dilapisi logam, biasanya perak. Cara memakai diselipkan dilipatan kain sarung dibagian depan. Hulunya menghadap kekanan, taji ayam dikenakan sebagai kelengkapan adat. 
 
TAMAN BANARAN, UKIRAN, salah satu model hulu keris kraton Yogyakarta, berpenampilan agak “kendo” sehingga cocok untuk orang berwatak sabar dan lembut. Ukiran model Taman Banaran juga sesuai dipakai orang yang berperawakan sedang.
 
TAMBAL, pamor yang mirip goresan kuas besar dibidang lukisan, tergolong pamor rekan, sebagian masuk pamor miring dan sebagian mlumah. Tetapi pamor ini pemilih, tuahnya dapat mengangkat ke drajat lebih tinggi.
 
TAMAN NGABEYAN, UKIRAN, hulu keris gaya Yogyakarta berpenampilan keras, agak kenceng. Serasi bila dikenakan orang yang keras, berbadan tegap atau tinggi besar.
 
TAMBAHKUSUMA, KANGJENG KYAI, keris pusaka kraton Yogyakarta, dapur Sengkelat, warangka dari cendana wangi, pendok dari emas blimbingan, merupakan putran dari KK Tambahkusuma, dibuat empu Supa dijaman Sri Sultan HAMENGKU BUWONO V.
 
TANGKIS, pamor yang hanya pada salah satu sisi bilah saja tidak perduli bentuknya pamor apa, harus dilihat apakah salah satu sisi itu memang tidak ada pamornya atau karena aus, rusak. Tuahnya menangkal wabah penyakit. Selain pada keris juga ada di pedang dan tombak.
 
 TANJEG, ilmu tradisional untuk menentukan kegunaan keris, tombak atau pusaka lainnya, ada dua macam. Pertama, melihat penampilan lahiriyah sebuah keris, baik dari pamor, besi, cara pembuatannya, bentuknya dan rabaannya. Kedua dengan mengandalkan kemampuan batin secara tradisional, cara ini hanya dapat dipelajari dengan cara tradisional antara lain dengan berpuasa, menghapalkan dan mengulang mantera tertentu dengan bimbingan orang yang menguasai ilmu tersebut. Seorang ahli tanjeg biasanya akan ditanyai apabila seseorang akan membeli atau mendapatkan sebilah keris, sebab bila dulu keris tersebut dipunyai oleh prajurit maka tidak akan cocok bila dimiliki oleh pedagang dan sebagainya.
 
 TAPAK KUDA, hulu keris  yang banyak terdapat di Riau, Jambi, Kalimantan Barat, Malaysia, Brunei, bentuknya mirip ulekan cabai, dihias dengan ukiran rumit. Hulu keris ini biasanya dibuat dari kayu keras, gading atau perak. Biasanya kayu kemuning, orang Malaysia menyebutnya “Kopiah Pak Haji”karena seperti kopiah Haji.
 TARIMO, lih TARIMAN.
 
 TAYUH, ilmu yang digunakan apakah keris tersebut cocok dengan orang yang bersangkutan. Ilmu ini terutama bermanfaat untuk meningkatkan kepekaan seseorang  agar dia dapat menangkap kesan karakter sebilah keris dan menyesuaikan dengankesan karakter dari calon pemiliknya.
 
 TEBU SAUYUN, nama keris luk 3, ukuran panjang bilah sedang, penempatan luk merata disepanjang bilah, gandiknya polos, memakai pejetan, sraweyan dan greneng lengkap, kadang ada yang memakai gusen.
 
TEJA BUNGKUS, lih  SIRAT.
 
 TEJA KINURUNG, pamor yang merupakan perpaduan Sada-saler dan Wengkon. Tuahnya baik bagi pegawai negri atau orang yang bekerja untuk negara, termasuk pamor rekan dan tidak pemilih.
 
 TEJA KUSUMA, KANGJENG KYAI, pusaka kraton Yogya, dapur Sengkelat luk 13, warangka dari kayu Timoho, pendok dari suasa bertahtakan permata. Keris ini merupakan putran dari KK Sengkelat dibuat pada jaman Sri Sultan HAMENGKU BUWONO III.
 
TELAGA MEMBLENG,  nama salah satu pamor yang selalu menempati bagian pejetan atau blumbangan, bentuknya menyerupai lingkaran-lingkaran berlapis menyerupai gambar peta pulau-pulau. Pamor ini tergolong tiban dan membuat pemiliknya bersifat hemat.
 
TEMBAROK, EMPU, empu yang tinggal di Kadipaten Blambangan pada Jaman Majapahit sekitar abad 12. tanda kerisnya, ukuran wilah sedang, kesannya ramping, padat, manis, tapi keras dan berwibawa, besinya padat, warna hitam dan matang tempaan. Pamornya kebanyakan pamor miring. Kalau membuat ganja, bagian guru melednya sempit, bagian sirah cicaknya menyudut agak meruncing, kalau membuat sogokan agak pendek disbanding ukuran normal tetapi dalamnya cukup. Bagian greneng pembuatan aksara Dho kurang lengkap sehingga terasa kurang manis, gandiknya berukuran pendek, tikel alisnya juga pendek.
 
TEPEN, lih Wengkon.
 
TIBAN, Pamor, pamor yang motifnya tidak dirancang dulu dan diserahkan kepada Tuhan YME saja.
 
TIKEL ALIS, adalah bagian dari keris yang berupa alur dangkal melengkung seperti alis, alur dangkal ini dimulai dari atas gandik membelok keatas sepanjang lebih kurang 35 mm.
 
TILAM PETAK, lih TILAM UPIH.
 
TILAM PUTIH, lih TILAM UPIH
 
TILAM SARI, nama salah satu dapur keris lurus serupa dengan Tilam Upih, ricikannya adalah : gandik polos, tikel alis, pejetan, tingil atau greneng. Beda dengan Tilam Sari, kalau Tilam Sari ada greneng atau tingil maka Tilam Upih tidak.
 
TILAM UPIH, salah satu dapur keris lurus dengan ukuran bilah sedang, gandiknya polos, tikel alis dan pejetan tanpa ricikan lain. Dapur ini paling banyak terdapat di Jawa.
 
TIMANG, adalah bagian kepala dari epek, yaitu semacam ikat pinggang yang bentuknya khas. Hampir semua pakaian adat di Jawa dan Madura menggunakan ikat pinggang epek dengan timangnya. Timang selalu dibuat dari logam, yang sederhana dari kuningan atau tembaga, sedang yang baik dari perak atau emas dan sering dihiasi ukiran indah atau intan berlian.
 
TIMOHO, nama sejenis kayu yang banyak digunakan untuk warangka keris atau tombak, motif dari urat kayunya mempunyai nama sendiri sendiri dan dinamakan pellet. Kayu Timoho (Kleinhovia hospita) oleh orang bali disebut Purnama Sadha, orang Lombok menyebutnya kayu Brura.  Orang Jawa percaya bahwa kayu Timoho ada penunggunya sehingga untuk menebang harus memilih hari baik dan bulan baik. Warna dasar umumnya coklat kopi susu ke abu-abuan. Sedangkan warna urat kayu yang tergolong pelet coklat tua kehitaman.
 
TIRTADANGSA, EMPU, empu yang hidup dijaman kerajaan Surakarta, kerisnya sering disebut Tangguh Mangkubumen. Ganjanya agak melengkung dan tergolong Sebit Ron Tal, gulu melednya sempit dan lekukannya tidak begitu dalam, sirah cicaknya meruncing diujungnya, wetengannya ramping dan bagian buntut urangnya melebar pipih. Keris buatannya berukuran sedang, besinya matang tempaan, pamornya rumit, meriah dan merata diseluruh bilah, biasanya Wos Wutah atau Pendaringan Kebak. Kalau membuat Kembang Kacang seperti Gelung Wayang, sogokannya berukuran dalam dan makin meruncing kearah ujung dan didekat ujungnya agak melengkung. Janurnya menyerupai lidi dan blumbangannya luas dan lebar. Kalau keris itu tanpa kembang kacang, gandiknya miring, secara keseluruhan kerisnya memberi kesan tampan lembut dan anggun.
 
TITIPAN, PAMOR, pamor yang dibuat secara sengaja yang dipasang atau disusulkan setelah keris selesai dibuat. Biasanya dikerjakan empu atas pesanan sipemilik keris.
 
TITANIUM, unsure logam yang amat keras, tahan karat, tahan panas dan warnanya putih mengkilat, biasanya digunakan untuk Pamor, diperkirakan sudah digunakan oleh Empu sejak abad ke 10 dan mereka mendapatkannya dari meteor yang jatuh ke bumi.
 
TOGOK, nama salah satu dapur tombak lurus mirip dapur Baru Kalantaka. Dibagian sisi tengah bilah ada tekukan landai, bentuknya semacam pinggang tidak begitu ramping. Bagian dibawah pinggang lebih lebar dari bagian atasnya. Bilahnya tebal dan memakai ada-ada dan dibawah ada-ada ada bungkul berukuran kecil. Sisi bilah yang menghadap bilah membulat membentuk semacam separuh elips.
 
TOMBAK, senjata tradisional dikenal di hampir semua bangsa didunia , pada mulanya digunakan sebagai alat untuk berburu, mencari ikan atau menghadapi binatang buas, kemudian untuk berperang. Tombak terdiri dari dua bagian penting, yaitu mata tombak disebelah ujung yang runcing dan bagian tangkai atau gagang. Tangkai tombak umumnya dari kayu, bamboo atau rotan. Panjangnya bisa 40 sampai 360 cm. Mata tombak biasanya dari besi, baja dan kadang diberi pamor, bentunya bermacam-macam, ada yang pipih meruncing, kerucut memanjang, berlingir seperti buah belimbing dan panjang mata tombak antara 12 sampai 60 cm. Mata tombak di Jawa hampir semuanya berpamor dan bisa indah sekali dan seperti keris juga mempunyai nama dapur seperti Baru Kuping, Towok, Panggang Lele dan lainnya. Pada suku Jawa, tombak biasanya diletakan berdiri dengan memasukan kedalam lubang Jagrak, dipajang dibagian Pendopo, semacam ruang tamu.
 
TORRONGKU dan USSU, nama gunung didaerah Luwu, Sulawesi Selatan yang dikenal penghasil bahan pembuat pamor yang biasanya disebut Pamor Luwu, walau bukan batu meteorit tetapi  terkenal sejak jaman Majapahit dan menjadi barang dagangan laris.
 
TOSAN AJI, istilah Jawa untuk segala senjata traditional yang dibuat dari besi yang dianggap sebagai pusaka.
 
TOTOK, nama salah satu dapur tombak lurus, bagian atas menyerupai bentuk daun andong, bagian tengahnya menyerupai pinggang. Tombak ini memakai bungkul berukuran besar dibagian atas bagian metuk. Tidak memakai ada-ada tetapi permukaan bilahnya ngadal meteng, secara keseluruhan bentuknya mirip dapur Sadak tetapi lebih tebal bilahnya.
 
TOYA TINABAN, KANGJENG KYAI, keris pusaka kraton Yogya, berdapur Jangkung Mayat, warangka dari kayu Timoho dengan pendok suasa bertahtakan intan. Semula milik Sri Sultan HAMENGKU BUWONO I, diserahkan ke putranya Pangeran Hangabehi dan dikembalikan ke kraton dimasa Sri Sultan HAMENGKU BUWONO V.
 
TREMBALO,KAYU, sejenis pohon untuk bahan pembuatan warangka keris, Trembalo Aceh (Dysoxylum acutangulum Miq), kayu trembalo ini banyak dicari orang karena memiliki garis sejajar yang sangat indah, Trembalo Jawa (Cassia glauca L), orang sering menyebut dengan kayu Ambon.
 
 TRIMAN, Pamor yang hanya mengumpul dibagian sor-soran saja kemudian berhenti tak ada kelanjutannya lagi. Pamor ini dinilai kurang baik untuk orang yang masih aktif bekerja karena dapat menurunkan ambisi untuk maju tetapi baik untuk yang sudah pensiun atau berusia lanjut karena dapat menumbuhkan rasa tentram. Sebagian orang menyebut juga pamor Tarima.
 
TRI MURDA, salah satu dapur keris luk 19, umumnya bilahnya lebih panjang dibandingkan keris biasa, ricikannya gandik polos, memakai tikel alis.
 
TRI SIRAH, keris dengn luk 21, tergolong kalawija, memakai kembang kacang, lambe gajah satu, sogokan rangkap ukurannya normal, memakai tikel alis dan greneng.
 
TRISULA, salah satu dapur tombak bercabang 3,  bentuk tombak dapur Trisula banyak ragamnya, ada yang lurus, ada yang luk 3 atau 5 dan ada juga yang kombinasi. Tombak dapur ini popular dan banyak disukai.
 
TRIWARNA, sebutan pamor keris atau tombak yang sesungguhnya terdiri dari 3 macam nama pamor, misalnya sebilah keris dibagian bawah ada pamor Wos Wutah, ditengah menjadi pamor Adeg, ujungnya Lawe Setukal, ini yang disebut Triwarna.
 
TUAH, lih ANGSAR,
 
TUKON, lih Petukon,
 
TULAK,  pamor keris atau tombak yang menyerupai pamor kudung, bedanya arah hadap sudut pamor, kalau pamor Kudung menghadap keujung keris maka pamor Tulak sebaliknya, pamor ini tidak pemilih dan bisa melindungi dari perbuatan jahat orang lain.
 
TULAK, PELET, nama gambar pada warangka kayu Timoho yang berupa garis garis tebal dari atas kebawah, berwarna hitam atau coklat tua, bagian tengahnya umumnya berwarna lebih hitam dibandingkan bagian pinggirnya.
 
TUMBUK, nama salah satu dapur tombak lurus, bilahnya simetris, bentuknya menyerupai dapur Kudup Melati, sisi bilah lurus tanpa pinggang tebal, memakai ada-ada, permukaan bilah bagian atas berbentuk Ngadal meteng.
 
TUMENGGUNG, KANGJENG KYAI, salah satu keris pusaka kraton Yagyakarta, berdapur Parungsari luk 11, menurut Pakem seharusnya Parungsari itu luk 13. Warangkanya dari kayu Timoho, pendok kemalon, warna putih dan slorok dari emas kinatah rinajawarna. Semula milik Sri Sultan HAMENGKU BUWONO III dan kembali dipemerintahan Sri Sultan HAMENGKU BUWONO V setelah diserahkan ke seseorang bernama Mukidin.
 
TUMPAL KELI, pamor yang terolong langka, pamor ini menyebabkan pemiliknya disukai masyarakat, pandai bergaul, pamor ini tidak pemilih, bentuknya merupakan gabungan Kenanga Ginubah dengan Ganggeng Kanyut, karena agak mirip keduanya maka pamor ini sering dikacaukan orang.
 
TUMPER INAS, salah satu dapur tombak lurus, bilahnya simetris, pipih dan tebal, sisi bilah bagian tengah terdapat lekukan landai membentuk semacam pinggang yang ramping, bilah bagian atas pinggang lebih lebar dari bagian bawahnya. Ditepi bilah dibagian paling bawah terdapat satu tonjolan yang berbentuk menyudut. Tombak ini memakai pudak sategal dan kruwingan.
 
TUNDUNG, pamor yang menurut pecinta keris mempunyai tuah yang buruk, pemiliknya sering terusir dari suatu tempat baik dengan alas an atau tidak.
 
 TUNGGAK SEMI, pamor yang ada hanya dibagian sor-soran dari keris, tombak atau benda pusaka lainnya. Bentuknya merupakan garis yang tak beraturan, berlapis dan pada bagian ujung bentuk itu seolah “tumbuh” lagi pamor lain seperti tunas bersemi.
 
 TUNGGUL WULUNG, pamor yang bentuknya menyerupai gambar sederhana dari bentuk manusia, ada bagian menyerupai kepala, badan, kaki dan tangan, selalu menempati bagian sor-soran, terutama didaerah Blumbangan atau Pejetan. Menurut buku kuno dapat menolak penyakit, untuk memilikinya ada beberapa syarat berat antara lain berperilaku jujur, banyak amal dan kuat ibadahnya. Tergolong pamor  tiban.
 
TUNGKAKAN, bentuk batas ujung belakang antara bagian ganja dan bagian wilah, jika bentuk batas itu merupakan garis lengkung, disebut Tungkakan, umumnya ada di keris nem-neman. 
 
 
 

INDEX – U

 
UBUBAN, alat pompa tradisional dengan teknik sederhana berfungsi memompakan udara ke tungku perapian gunanya mengatur panas bara arang sesuai kehendak empu. Terbuat dari kayu atau batang kelapa yang dilubangi tengahnya sehingga berbentuk silinder. Penampang lobang sekitar 12 sampai 15 cm dengan tinggi sekitar 150 cm, dipasang tegak dua batang berjajar. Orang yang menjalankan duduk disebuah kursi tinggi dan disebut PANJAK.
 
UDAN MAS, pamor yang amat terkenal, mendatangkan rejeki dan berbakat kaya. Tergolong pamor mlumah dan rekan serta tidak pemilih, bentuknya bulatan bulatan kecil tersebar diseluruh permukaan bilah, bulatan itu terdiri dari lingkaran bersusun, paling tidak terdiri dari 3 lingkaran atau lebih, dalam perkerisan Jawa maka pamor ini yang paling baik berasal dari tangguh Pajajaran dan Tuban.
 
UKEL, CUNDUK, lihat Cunduk Ukel.
 
UKIRAN, bagian keris yang merupakan tempat pegangan tangan, diluar Jawa disebut HULU KERIS, sedang didaerah Yogyakarta dan Surakarta disebut Deder atau Dederan.  Ukirannya hampir seluruhnya berbentuk manusia yang distilir halus, sebagian kecil berbentuk hewan dan tumbuhan yang distilir. Bahan biasanya dari kayu dengan urat yang bagus serta gampang dibentuk, kadang dari tanduk, gading, fosil graham gajah. Untuk kayu biasanya Timoho, Cendana, Tayuman, Kemuning atau akar jati. Ukiran atau hulu keris yang berpamor dan menyatu dengan bilah keris di Jawa Tengah dan Timur sering disebut Deder Iras, keris semacam ini biasa disebut Keris Sajen.
 
ULER LULUT, pamor bagaikan tubuh seekor  ulat, sebetulnya merupakan gabungan bentuk bulatan-bulatan yang menempel rapat satu sama lain dari pangkal sampai ujung bilah, tergolong pamor Mlumah. Bertuah baik dan tidak memilih serta Rekan.
 
UMAYI, EMPU, empu terkenal di Jaman Mataram, masa Sultan Agung, ganjanya agak melengkung, tergolong Sebit Ron Tal, sirah cicak meruncing pada ujungnya, guru meled dan wetengannya berukuran sedang, kedudukan bilah terlalu tunduk kedepan bila disbanding dengan bilah lain. Besi yang digunakan kurang matang tetapi pamornya penuh dan rumit, dengan demikian mutu besi yang kurang baij itu tertutup oleh pamot yang mewah. Kembang kacangnya menyerupai gelung Wayang, jalennya terlalu menonjol, bilah selalu disertai gusen yang jelas dan rapi sampai ujung, sogokan makin keujung makin sempit. Secara keseluruhan keris buatannya Wingit berwibawa.
 
UMYANG, EMPU, empu kerajaan Pajang yang terkenal. Banyak yang percaya buatannya baik tuahnya, memudahkan  menagih hutang dan melindungi  harta kekayaan pemiliknya. Tanda tandanya, Ganjanya mendatar tergolong ganja wuwung dan ukurannya besar dan tebal, gulu melednya sempit dan agak dalam lekukannya, sirah cecak agak pendek tetapi meruncing ujungnya. Ukuran bilah agak panjang dibandingkan keris Majapahit lainnya, spadan dengan buatan Mataram, biasanya memakai Luk, jarang yang lurus. Pamor penuh merata dipermukaan , rumit dan biasanya bermotif Beras Wutah, Pendaringan Kebak atau sejenisnya. Beberapa diantaranya berbentuk “Ngeron-tebu”. Kembang kacangnya berukuran besar dan kokoh, pejetan agak dangkal tapi lebar, sogokannya dibuat dalam, panjang dan ujung agak melengkung.janurnya tajam, kruwingannya jelas dan lebar. Lambe Gajah agak panjang, tapi manis bentuknya, secara keseluruhan mulai bagian sor-soran sampai pucuk bilahnya tergolong lebar dan agak tebal. Sebagian pecinta keris di Yogyakarta dan Surakarta berpendapat tanda buatan Empu Umyang adalah : bilah berukuran sedang, tidak terlalu membungkuk, kebanyakan berupa luk dan luk pertama berbentuk aneh. Memberi kesan seperti orang kekenyangan. Karena luk pertama yang aneh maka keris ini bukan menghadap kedepan tetapi mendongak kebelakang, tetapi pendapat ini tidak banyak pengikutnya.
 
UNTU WALANG, pamor yang menyerupai pamor Tepen atau Wengkon, bedanya kalau wengkon garis yang menjadi “bingkai” dari tepi merupakan garis lurus sedang Untu Walang garis itu merupakan gambaran serupa mata gergaji. Pamor ini pemilih dan bertuah membuat dipercaya orang sekeliling, kata katanya banyak didengar, paling baik dipunyai guru atau pendidik. Pamor ini tergolong pamor rekan.
 
URAB-URAB, pamor yang mirip Jarot Asem, bedanya pada pamor ini garis pamornya lebih tebal dan nyata, pamor ini merupakan kombinasi pamor Miring dan Mlumah. Tergolong pamor pemilih, menambah kewibawaan dan sebagian orang menyebut pamor Hurap-hurap.
 
URUB JINGGA, KANGJENG KYAI, salah satu keris pusaka Kraton Yogyakarta. Berdapur Sengkelat luk 13, warangka dari Timoho Bosokan, pendok emas “sinasotya”, yaitu pendok emas bertahta intan. Semula milik Tumenggung Mangunnegoro kemudian diberikan ke Sri Sultan HAMENGKU BUWONO III.
 
URUBING DILAH, salah satu dapur keris luk satu, disebut dapur DAMAR MURUB, gandik polos memakai pejetan, tikel alis dan greneng, bilah berukuran sedang, lurus tetapi dipucuk bilah ada luk satu. Keris ini mudah dikenali dengan adanya sebuah luk diujungnya dan tergolong langka.
 
 

 

INDEX – W

 
WADUK, lih GENDOK.
 
WALANG SINUDUK, atau Walang Sinudukan, pamor tergolong pemilih dan pamor Rekan, pemiliknya menjadi panutan dan cocok untuk guru, pemuka masyarakat dan pemimpin agama.
 
WALIKUKUN, KAYU, biasa digunakan untuk gagang tombak (Landeyan), bila menebang dengan benar maka kayu ini tidak mudah patah, tetap lurus dan cukup ringan, istilah latinnya Schontenia ovata Korth.
 
WALULIN, jenis besi pembuat keris, tetapi sedikit sekali pengetahuan mengenai bahan ini, ada yang mengatakan  besi ini agak berpori, kering dan warnanya abu-abu kehitaman.
 
WANA, KANGJENG KYAI, pusaka Kraton Yogyakarta, berdapur Parungsari, luk 13, Warangkanya gaya Surakarta dari kayu Trembalo dengan pendok “Salak Tinatah”.  Semula milik Kiai Wanadikrama dari Kauman kemudian dibeli Sri Sultan HAMENGKU BUWONO V.
 
WANDA, Gaya pembuatan keris atau tombak yang dapat menimbulkan kesan (mengekspresikan) watak dan karakter tertentu, ini tidak berkaitan dengan bentuk dapur, pamor maupun tangguhnya. Misalkan keris berdapur Tilam Upih berpamor Wos Wutah dari Tangguh Mataram, ada yang berwanda Brangasan (mudah marah) maupun berwanda Kemayu (Genit). Wanda dalam dunia keris sama dengan Wanda dalam pewayangan, untuk menilai wanda diperlukan  kepekaan rasa seni tinggi, dalam beberapa hal istilah wanda hampir sama dengan istilah pasikutan. Istilah Wanda dikaitkan dengan penampilan masing masing keris, sedangkan istilah pasikutan lebih banyak dikaitkan tangguh keris.
 
WANGKINGAN, kata lain yang lebih halus dari keris (lihat juga Duwung).
 
WARANGAN, bahan mineral mengandung ARSENIKUM, dipakai untuk mengawetkan keris, melapisi bilah dengan warangan disebut mewarangi atau marangi. Gambar pamor akan lebih indah dan jelas. Mewarangi keris dilakukan setelah dibersihkan dan biasanya pada bulan Suro.
Warangan alami sejak dulu berasal dari Tiongkok dan paling baik untuk mewarangi, warna nya jingga kemerahan  dengan semacam alur warna merah seperti urat pada kristalnya. Warangan yang lebih rendah mutunya berwarna kuning kotor dinamakan Atal, didatangkan dari Thailand dan kurang baik untuk mewarangi.
 
WARANGKA, semacam pelindung, sarung atau pengaman bilah keris, tombak atau tosan aji lainnya, sebutan warangka biasanya di Jawa, Madura dan beberapa tempat lain. Didaerah lainnya disebut sarung keris. Warangka keris umumnya terbuat dari kayu, ada juga yang dibuat meter dari akar, baru terakhir sekitar 1 meter dari permukaan tanah. Untuk kalangan berada , warangka biasanya dihias dengan permata atau logam, biasanya emas, perak atau kuningan, seringkali warangkanya lebih mahal dari harga kerisnya. Jaman dulu ada larangan tak tertulis yang melarang masyarakat biasa menggunakan beberapa model warangka, misalnya warangka sunggingan alas alasan dengan dasar putih.  Pendok Kemalon warna merah, pendok Tinaretes, pendok tatah dengan motif semen huk. Ada pula warangka yang dilukis (di-SUNGGING), warangka ini tidak perlu menggunakan kayu mahal, yang paling penting adalah mutu lukisan sunggingannya. Biasanya lukisan ini dikerjakan oleh penyungging wayang. Ragam bentuk warangka ada 3 macam, LADRANG, GAYAMAN dan SENDANG WALIKAT. Ketiga bentuk dasar ini dikenal di Jawa, Madura dan Bali, sedangkan daerah lain umumnya Gayaman dan Walikat saja. Bentuk dasar bisa berbeda tiap daerahnya walau sama sama, misalnya, warangka Gayaman, bahkan karean dapur yang lain bisa membuat warangka tersebut berbeda walau dari daerah yang sama. Perbedaan ke 3 macam warangka itu dikarenakan beda penggunaannya, LADRANG dibuat gagah, tampan dan bagiannya rumit, ini untuk menghadiri upacara resmi, kebesaran atau acara yang sifatnya gembira, misalnya menjadi Pengantin. Tetapi karena warangka ini mudah rusak maka biasanya untuk berperang digunakan yang lebih praktis dan sederhana yaitu LADRANG, bentuknya lebih “sportif”. Ini digunakan untuk acara umum atau sehari-hari. SENDANG WALIKAT, merupakan warangka yang paling sederhana, biasanya untuk jenis keris ukuran kecil dan pendek. Sebilah keris seringkali mempunyai lebih dari satu warangka, di Jawa biasanya disebut warangka yang tua diwayuh oleh yang muda (dimadu), kalau warangka bekas digunakan keris lain disebut warangka randan (janda).
 
WARU GUNUNG, KAYU, jenis kayu yang biasa digunakan untuk membuat tangkai tombak. Kayu ini tergolong murah dan banyak dipakai, istilah latinnya Hibiscus Macrophyllus Roxb.
 
WARU LAUT, KAYU, juga untuk tombak, walau serat seratnya kurang baik, istilah latinnya Hibiscus filiaceus. L.
 
WATU LAPAK, lih BATU LAPAK.
 
WELANGI, jenis besi pembuat keris warnanya kuning kehijauan dan tuahnya baik untuk mencari rejaki. Namum menurut buku kuno, pemilik keris ini tidak boleh menghutangkan atau membungakan uang.
 
WENGKON, nama pamor yang gambarannya menyerupai garis bingkai disepanjang tepi bilah keris. Pamor ini biasa juga disebut pamor Tepen atau pamor Lis-lisan. Tergolong pamor Rekan dan tuahnya membuat hemat, tahan terhadap godaan serta merupakan pamor yang tidak pemilih.
 
WERANI, jenis besi pembuat keris, warnanya hitam keunguan, menurut buku kuno sebagai senjata besi ini ampuh sekali.
 
WETENGAN, lih GENDOK.
 
WEWE PUTIH, KANGJENG KYAI, merupakan keris pusaka kraton Yogyakarta, berdapur Carita, warangka dari kayu Timoho, pendoknya emas murni bertahtakan intan permata. Keris ini dibeli 18 ripis oleh Sri Sultan HAMENGKU BUWONO V ketika masih remaja.
 
WILAHAN, bagian utama dari keris selain bagian ganja dan pesi, disebut juga dengan istilah wilah, awak-awakan atau bilah.
 
WILUT, GANJA, salah satu bentuk ganja keris, ganja wilut bentuknya tidak datar dan tidak melengkung melainkan mirip huruf S tidur seperti ulat sedang berjalan. Ganja ini hanya terdapat pada keris dengan dapur khusus.
 
WINDUADI, sejenis besi pembuat keris dan tosan aji lainnya berwarna pucat dengan kristal bening keperakan menyebar dipermukaan. Menurut pecinta keris, bahan ini sangat ampuh dan kalau dibawa perang maka pembawanya tidak terlihat musuh.
 
 WINGIT, menimbulkan kesan angker, menakutkan, bisa berarti berwibawa, menyeramkan.
 
WIRING DRAJIT, lih Biring Drajit.
 
WIRING LANANG, lih Biring Lanang.
 
WISA MANDRA AJI, KANGJENG KYAI, salah satu pusaka kraton Yogyakarta, dapur Sengkelat luk 13, warangka dari kayu Timoho dengan pendok blewahan dari suasa. Keris ini merupakan putran dari KK. Sengkelat dibuat Empu Lurah Supo pada jaman Sri Sultan HAMENGKU BUWONO V.
 
WISA PRAMANA, KANGJENG KYAI, salah satu keris pusaka kraton Yogyakarta, dapur Sabuk Inten luk 11, warangka dari kayu Timaha dengan pendok  dari Suasa. Dibuat atas pesanan Sri Sultan HAMENGKU BUWONO II, diselesaikan di Pulo Gedong, diberikan ke Penembahan Mangkurat kemudian diwariskan ke Tumenggung Reksanegara dan dibeli kembali oleh Sri Sultan HAMENGKU BUWONO V.
 
WISAPRATANDA, KANGJENG KYAI, pusak kraton Yagyakarta, dapur Jalak Sangu Tumpeng, warangka dari kayu Timoho dan pendok kemalon putih berslorok emas intan. Keris ini duplikat dari KK KOPEK, dibuat oleh Empu Lurah Mangkudahana pada jaman Sri Sultan HAMENGKU BUWONO V.
 
WONOAYU, tempat di Madura, asal Empu Brajaguna yang terkenal di kraton Surakarta.
 
WOS WUTAH, pamor yang paling banyak terdapat berupa bulatan dan garis tak beraturan, tergolong pamor tiban, pamor mlumah dan tidak memilih.
 
WULAN-WULAN, pamor yang berupa bulatan bulatan yang terpisah satu sama lainnya, agak mirip melati sinebar tapi ukurannya agak besar, tergolong pamor mlumah dan tidak pemilih, biasanya dimiliki pedagang atau pengusaha karena katanya pemiliknya mudah mencari rejeki.
 
WUNGKUL, atau Dungkul atau Bungkul, nama salah satu dapur keris lurus, bilahnya sedang gandiknya agak panjang, sogokannya satu didepan, keris ini dungkul, artinya ganja yang bentuknya seperti hurup W terbalik, tergolong langka dan biasanya keris lama.
 
WUWUNG (1), salah satu dapur keris luk 3, panjang bilahnya sedang. Gandiknya polos, pejetannya dangkal, khusus keris ini bagian yang tajam hanya pada satu sisi saja yaitu sisi depan sedang sisi belakang tumpul sampai sekitar tiga perempat bilah.
 
WUWUNG (2),  nama salah satu bentuk ganja keris, pada dasarnya rata dan datar, mirip bumbungan rumah, ia tidak melengkung. Ganja ini banyak digunakan di jaman Pajajaran dan Tuban, walau bentuknya sederhana tetapi jika serasi dengan bentuk bilahnya akan tampak anggun.
 
 
 

INDEX – Y

 
YASADIPURA II, pujangga terkenal Kraton Solo. Tahun 1814 beliau menulis Serat Centini bersama RM Ranggasutrasna dan RM Sastrodipura, membahas mengenai Pakem Keris dan Tombak Jawa dibawah koordinasi Paku Buwono V, pekerjaan ini selesai tahun 1823.
 
YOGAPATI, pamor yang oleh banyak penggemar keris dianggap buruk, pemiliknya akan sering dirundung malang, sehingga sebaiknya dilarung atau diserahkan ke Museum saja, pamor ini terletak di sor-soran dan tergolong pamor Tiban.
 
YONI, semacam daya atau kekuatan gaib yang menurut ahli esoteri  dianggap sebagai kekuatan yang ada pada tuah keris. Ini menunjukan ketinggian ilmu empu yang membuat.
 
YUYU RUMPUNG, salah satu dapur keris lurus, ada 2 versi mengenai keris berdapur ini, yang pertama, bilahnya berukuran sedang, gandiknya panjang dan diatas gandik ada kembang kacangnya berukuran kecil. Yang kedua gandiknya berada dibelakang, panjang, bilahnya agak membungkuk, ganjanya kelap lintah. Biasanya dimiliki petani dan mempunyai tuah membantu menangkal serangan hama dan menyuburkan tanaman.
 
 
Sumber: heritageofjava.com

Sampingan

KERIS ,WARISAN BUDAYA BERNILAI TINGGI

KERIS, Warisan Budaya Bernilai Tinggi

 

Sebilah keris Jawa (wilah) dengan sarung keris (warangka).

Keris adalah senjata tikam yang dikenal di Nusantara, termasuk Filipina Selatan. Keris Indonesia telah terdaftar di UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia Non-Bendawi Manusia.
Penggunaan keris sendiri tersebar di masyarakat penghuni wilayah yang pernah terpengaruh budaya SriwijayaMajapahit, seperti Jawa, Madura, Nusa Tenggara, Sumatera, pesisir Kalimantan, sebagian Sulawesi, Semenanjung Malaya, Thailand Selatan, dan Filipina Selatan (Mindanao). Bentuk keris Mindanao tidak banyak memiliki kemiripan dengan keris daerah lainnya, meskipun juga merupakan senjata tikam.
Keris memiliki berbagai macam bentuk, misalnya ada yang bilahnya berkelok-kelok (selalu berbilang ganjil) dan ada pula yang berbilah lurus. Orang Jawa menganggap perbedaan bentuk ini memiliki efek esoteri yang berbeda.
Selain digunakan sebagai senjata, keris juga sering dianggap memiliki kekuatan supranatural. Senjata ini sering disebut-sebut dalam berbagai legenda tradisional, seperti keris Mpu Gandring dalam legenda Ken Arok dan Ken Dedes.
Tata cara penggunaan keris berbeda-beda di masing-masing daerah. Di daerah Jawa dan Sunda misalnya, keris ditempatkan di pinggang bagian belakang pada masa damai tetapi ditempatkan di depan pada masa perang. Sementara itu, di Sumatra, Kalimantan, Malaysia, Brunei dan Filipina, keris ditempatkan di depan.
Selain keris, masih terdapat sejumlah senjata tikam lain di wilayah Nusantara, seperti rencong dari Aceh,sewar, tumbuk lada, badik, dan taji ayam (sumatera),badik dari Sulawesi serta kujang dari Jawa Barat. Keris dibedakan dari senjata tikam lain terutama dari bentuk bilahnya. keris adalah senjata dengan tajam pada dua sisi, terdiri dari dua bagian yaitu bilah (beserta peksinya) serta ganja, memiliki kecondongan tertentu dari ganjanya, bilah keris tidak dibuat dari logam tunggal yang dicor tetapi merupakan campuran berbagai logam minimal 2 jenis logam,yang ditempa berlapis-lapis. Akibat teknik pembuatan ini, keris memilikipamor pada bilahnya. orang awam sering mengira bahwa pamor hanya ada pada keris, sebenarnya teknik pembuatan pamor bukan hanya terdapat pada keris tetapi juga ada pada pedang, tombak dan berbagai senjata tusuk seperti badik, kujang dan taji/lawi ayam, teknik pembuatan dengan menggabungkan beberapa logam (minimal 2 jenis logam)yang ditempa berlapis-lapis juga bukan monopoli keris karena juga diterapkan pada pembuatan pedang, badik dan tosan aji lain, jadi bukan pamor dan teknik tempa lipat beberapa logam yang membedakan keris dengan senjata lain melainkan terdapatnya dua bagian bilah dan ganja, dan adanya kecondongan bilah dari ganja yang membuat keris khas.

Berbagai cara mengenakan keris berdasarkan Kebudayaan Jawa.
 

Bagian-bagian keris

Beberapa istilah di bagian ini diambil dari tradisi Jawa, semata karena rujukan yang tersedia.
Sebagian ahli tosan aji mengelompokkan keris sebagai senjata tikam, sehingga bagian utama dari sebilah keris adalah wilah (bilah) atau bahasa awamnya adalah seperti mata pisau. Tetapi karena keris mempunyai kelengkapan lainnya, yaitu warangka (sarung) dan bagian pegangan keris atau ukiran, maka kesatuan terhadap seluruh kelengkapannya disebut keris.

Pegangan keris atau hulu keris
Pegangan keris (bahasa Jawa: gaman) ini bermacam-macam motifnya, untuk keris Bali ada yang bentuknya menyerupai patung dewa, patung pedande, patung raksaka, patung penari , pertapa, hutan ,dan ada yang diukir dengan kinatah emas dan batu mulia.

Pegangan keris Sulawesi menggambarkan burung laut. Hal itu sebagai perlambang terhadap sebagian profesi masyarakat Sulawesi yang merupakan pelaut, sedangkan burung adalah lambang dunia atas keselamatan. Seperti juga motif kepala burung yang digunakan pada keris Riau Lingga, dan untuk daerah-daerah lainnya sebagai pusat pengembangan tosan aji seperti Aceh, Bangkinang (Riau) , Palembang, Sambas, Kutai, Bugis, Luwu, Jawa, Madura dan Sulu, keris mempunyai ukiran dan perlambang yang berbeda. Selain itu, materi yang dipergunakan pun berasal dari aneka bahan seperti gading, tulang, logam, dan yang paling banyak yaitu kayu.
Untuk pegangan keris Jawa, secara garis besar terdiri dari sirah wingking ( kepala bagian belakang ) , jiling, cigir, cetek, bathuk (kepala bagian depan) ,weteng dan bungkul.
 
  • Warangka atau sarung keris

Warangka, atau sarung keris (bahasa Banjar : kumpang), adalah komponen keris yang mempunyai fungsi tertentu, khususnya dalam kehidupan sosial masyarakat Jawa, paling tidak karena bagian inilah yang terlihat secara langsung. Warangka yang mula-mula dibuat dari kayu (yang umum adalah jati, cendana, timoho, dan kemuning). Sejalan dengan perkembangan zaman terjadi penambahan fungsi wrangka sebagai pencerminan status sosial bagi penggunanya. Bagian atasnya atau ladrang-gayaman sering diganti dengan gading.

Secara garis besar terdapat dua bentuk warangka, yaitu jenis warangka ladrang yang terdiri dari bagian-bagian : angkup, lata, janggut, gandek, godong (berbentuk seperti daun), gandar, ri serta cangkring. Dan jenis lainnya adalah jenis wrangka gayaman (gandon) yang bagian-bagiannya hampir sama dengan wrangka ladrang tetapi tidak terdapat angkup, godong, dan gandek.
Aturan pemakaian bentuk wrangka ini sudah ditentukan, walaupun tidak mutlak. Wrangka ladrang dipakai untuk upacara resmi , misalkan menghadap raja, acara resmi keraton lainnya (penobatan, pengangkatan pejabat kerajaan, perkawinan, dll) dengan maksud penghormatan. Tata cara penggunaannya adalah dengan menyelipkan gandar keris di lipatan sabuk (stagen) pada pinggang bagian belakang (termasuk sebagai pertimbangan untuk keselamatan raja ). Sedangkan wrangka gayaman dipakai untuk keperluan harian, dan keris ditempatkan pada bagian depan (dekat pinggang) ataupun di belakang (pinggang belakang).
Dalam perang, yang digunakan adalah keris wrangka gayaman , pertimbangannya adalah dari sisi praktis dan ringkas, karena wrangka gayaman lebih memungkinkan cepat dan mudah bergerak, karena bentuknya lebih sederhana.
Ladrang dan gayaman merupakan pola-bentuk wrangka, dan bagian utama menurut fungsi wrangka adalah bagian bawah yang berbentuk panjang ( sepanjang wilah keris ) yang disebut gandar atau antupan ,maka fungsi gandar adalah untuk membungkus wilah (bilah) dan biasanya terbuat dari kayu ( dipertimbangkan untuk tidak merusak wilah yang berbahan logam campuran ) .
Karena fungsi gandar untuk membungkus , sehingga fungsi keindahannya tidak diutamakan, maka untuk memperindahnya akan dilapisi seperti selongsong-silinder yang disebut pendok . Bagian pendok ( lapisan selongsong ) inilah yang biasanya diukir sangat indah , dibuat dari logam kuningan, suasa ( campuran tembaga emas ) , perak, emas . Untuk daerah diluar Jawa ( kalangan raja-raja Bugis , Goa, Palembang, Riau, Bali ) pendoknya terbuat dari emas , disertai dengan tambahan hiasan seperti sulaman tali dari emas dan bunga yang bertaburkan intan berlian.
Untuk keris Jawa , menurut bentuknya pendok ada tiga macam, yaitu (1) pendok bunton berbentuk selongsong pipih tanpa belahan pada sisinya , (2) pendok blewah (blengah) terbelah memanjang sampai pada salah satu ujungnya sehingga bagian gandar akan terlihat , serta (3) pendok topengan yang belahannya hanya terletak di tengah . Apabila dilihat dari hiasannya, pendok ada dua macam yaitu pendok berukir dan pendok polos (tanpa ukiran).
 
  • Wilah
Wilah atau wilahan adalah bagian utama dari sebuah keris, dan juga terdiri dari bagian-bagian tertentu yang tidak sama untuk setiap wilahan, yang biasanya disebut dapur, atau penamaan ragam bentuk pada wilah-bilah (ada puluhan bentuk dapur). Sebagai contoh, bisa disebutkan dapur jangkung mayang, jaka lola , pinarak, jamang murub, bungkul , kebo tedan, pudak sitegal, dll.
Pada pangkal wilahan terdapat pesi , yang merupakan ujung bawah sebilah keris atau tangkai keris. Bagian inilah yang masuk ke pegangan keris ( ukiran) . Pesi ini panjangnya antara 5 cm sampai 7 cm, dengan penampang sekitar 5 mm sampai 10 mm, bentuknya bulat panjang seperti pensil. Di daerah Jawa Timur disebut paksi, di Riau disebut puting, sedangkan untuk daerah Serawak, Brunei dan Malaysia disebut punting.
Pada pangkal (dasar keris) atau bagian bawah dari sebilah keris disebut ganja (untuk daerah semenanjung Melayu menyebutnya aring). Di tengahnya terdapat lubang pesi (bulat) persis untuk memasukkan pesi, sehingga bagian wilah dan ganja tidak terpisahkan. Pengamat budaya tosan aji mengatakan bahwa kesatuan itu melambangkan kesatuan lingga dan yoni, dimana ganja mewakili lambang yoni sedangkan pesi melambangkan lingganya. Ganja ini sepintas berbentuk cecak, bagian depannya disebut sirah cecak, bagian lehernya disebut gulu meled , bagian perut disebut wetengan dan ekornya disebut sebit ron. Ragam bentuk ganja ada bermacam-macam, wilut , dungkul , kelap lintah dan sebit rontal.
Luk, adalah bagian yang berkelok dari wilah-bilah keris, dan dilihat dari bentuknya keris dapat dibagi dua golongan besar, yaitu keris yang lurus dan keris yang bilahnya berkelok-kelok atau luk. Salah satu cara sederhana menghitung luk pada bilah , dimulai dari pangkal keris ke arah ujung keris, dihitung dari sisi cembung dan dilakukan pada kedua sisi seberang-menyeberang (kanan-kiri), maka bilangan terakhir adalah banyaknya luk pada wilah-bilah dan jumlahnya selalu gasal ( ganjil) dan tidak pernah genap, dan yang terkecil adalah luk tiga (3) dan terbanyak adalah luk tiga belas (13). Jika ada keris yang jumlah luk nya lebih dari tiga belas, biasanya disebut keris kalawija, atau keris tidak lazim.
 
 
Gambar Keris Jawa

 

 

 

Tangguh keris

Di bidang perkerisan dikenal pengelompokan yang disebut tangguh yang dapat berarti periode pembuatan atau gaya pembuatan. Pemahaman akan ciri-ciri fisik suatu keris akan membantu mengenali tangguh keris tersebut.
Beberapa tangguh yang biasa dikenal (di Jawa):

  • tangguh Pajajaran
  • tangguh segaluh
  • tangguh Kahuripan
  • tangguh Jenggala
  • tangguh Kediri
  • tangguh Singasari
  • tangguh Majapahit
  • tangguh Blambangan
  • tangguh Madura
  • tangguh Tuban
  • tangguh Demak
  • tangguh Cirebon
  • tangguh Mataram
  • tangguh Yogyakarta
  • tangguh Surakarta.

Di Luar Jawa terdapat beberapa daerah yang merupakan sentra penghasil keris dengan gaya masing2 yang khas sehingga merupakan tangguh tersendiri Di Sumatera

  • Tangguh Aceh/Gayo.
  • Tangguh Minang.
  • Tangguh Riau/Bangkinang.
  • Tangguh Palembang.
  • Tangguh Bangka Belitung.
  • Tangguh Lampung.

Di Sulawesi

  • Tangguh Bugis.

di Bali

  • Tangguh Bali.

di Nusa Tenggara

  • Tangguh Sumbawa

 

Sejarah

Penggambaran keris di relief Borobudur.

Asal keris yang kita kenal saat ini masih belum terjelaskan betul. Relief candi di Jawa lebih seperti borobudur dan prambanan (abad 9) banyak menunjukkan ksatria-ksatria dengan senjata yang bergaya India. Relief keris yang jelas digambarkan pada candi Penataran (abad 13)di Jawa Timur dan di Candi Bahal(abad 11) di Sumatera Utara.

Keris Buddha dan pengaruh India-Tiongkok

Kerajaan-kerajaan awal Indonesia sangat terpengaruh oleh budaya Buddha dan Hindu. Candi di Jawa tengah adalah sumber utama mengenai budaya zaman tersebut. Yang mengejutkan adalah sedikitnya penggunaan keris atau sesuatu yang serupa dengannya. Relief di Borobudur tidak menunjukkan pisau belati yang mirip dengan keris.
Dari penemuan arkeologis banyak ahli yang setuju bahwa proto-keris berbentuk pisau lurus dengan bilah tebal dan lebar. Salah satu keris tipe ini adalah keris milik keluarga Knaud, didapat dari Sri Paku Alam V. Keris ini relief di permukaannya yang berisi epik Ramayana dan terdapat tahun Jawa 1264 (1342 Masehi), meski ada yang meragukan penanggalannya.
Pengaruh kebudayaan Tiongkok mungkin masuk melalui kebudayaan Dongson (Vietnam) yang merupakan penghubung antara kebudayaan Tiongkok dan dunia Melayu. Terdapat keris sajen yang memiliki bentuk gagang manusia sama dengan belati Dongson.

Keris “Modern”

Keris yang saat ini kita kenal adalah hasil proses evolusi yang panjang. Keris modern yang dikenal saat ini adalah belati penusuk yang unik. Keris memperoleh bentuknya pada masa Majapahit (abad ke-14) dan Kesultanan Mataram baru (abad ke-17-18).
Pemerhati dan kolektor keris lebih senang menggolongkannya sebagai keris kuna dan keris baru (bahasa Jawa: nèm-nèman). Keris kuna dibuat sebelum abad ke-19, pembuatannya menggunakan bahan bijih logam mentah yang diambil dari sumber alam dan meteorit (karena belum ada pabrik peleburan bijih logam), sehingga logam yang dipakai masih mengandung banyak jenis logam campuran lainnya, seperti bijih besinya mengandung titanium, cobalt, perak, timah putih, nikel, tembaga dll. Keris baru ( setelah abad ke-19 ) biasanya hanya menggunakan bahan besi, baja dan nikel dari hasil peleburan biji besi, atau besi bekas ( per sparepart kendaraan, besi jembatan, besi rel kereta api dll ) yang rata-rata adalah olahan pabrik, sehingga kemurniannya terjamin atau sedikit sekali kemungkinannya mengandung logam jenis lainnya. Misalkan penelitian Haryono Arumbinang, Sudyartomo dan Budi Santosa ( sarjana nuklir BATAN Yogjakarta ) pada era 1990, menunjukkan bahwa sebilah keris dengan tangguh Tuban, dapur Tilam Upih dan pamor Beras Wutah ternyata mengandung besi (fe) , arsenikum (warangan )dan Titanium (Ti), menurut peneliti tersebut bahwa keris tersebut adalah “keris kuno” , karena unsur logam titanium ,baru ditemukan sebagai unsur logam mandiri pada sekitar tahun 1940, dan logam yang kekerasannya melebihi baja namun jauh lebih ringan dari besi, banyak digunakan sebagai alat transportasi modern (pesawat terbang, pesawat luar angkasa) ataupun roket, jadi pada saat itu teknologi tersebut belum hadir di Indonesia. Titanium banyak diketemukan pada batu meteorit dan pasir besi biasanya berasal dari daerah Pantai Selatan dan juga Sulawesi. Dari 14 keris yang diteliti , rata-rata mengandung banyak logam campuran jenis lain seperti cromium, stanum, stibinium, perak, tembaga dan seng, sebanyak 13 keris tersebut mengandung titanium dan hanya satu keris yang mengandung nikel.
Keris baru dapat langsung diketahui kandungan jenis logamnya karena para Mpu ( pengrajin keris) membeli bahan bakunya di toko besi, seperti besi, nikel, kuningan dll. Mereka tidak menggunakan bahan dari bijih besi mentah ( misalkan diambil dari pertambangan ) atau batu meteorit , sehingga tidak perlu dianalisis dengan isotop radioaktif. Sehingga kalau ada keris yang dicurigai sebagai hasil rekayasa , atau keris baru yang berpenampilan keris kuno maka penelitian akan mudah mengungkapkannya.
Sumber : Disarikan dari hasil Sarasehan Pameran Seni Tosan Aji, Bentara Budaya Jakarta, Budiarto Danujaya, Jakarta, 1996.

Keris Pusaka terkenal

wikipedia

Sampingan

KERISOLOGI:HAKIKAT,MISTIK,ESOTERIK DAN MAKNA

Kerisologi

 
Apa Itu Keris?
Sebelum membahas masalah keris dan budayanya, sebaiknya ditentukan dahulu batasan-batasan mengenai apa yang disebut keris. Hal ini perlu karena dalam masyarakat sering dijumpai pengertian yang keliru dan kerancuan mengenai apa yang disebut keris.Saya berpendapat, sebuah benda dapat digolongkan sebagai keris bilamana benda itu memenuhi kriteria berikut:
1. Keris harus terdiri dari dua bagian utama, yakni bagian bilah keris (termasuk pesi) dan bagian ganja. Bagian bilah dan pesi melambangkan ujud lingga, sedangkan bagian ganja melambangkan ujud yoni. Dalam falsafah Jawa, yang bisa dikatakan sama dengan falsafah Hindu, persatuan antara lingga dan yoni merupakan perlambang akan harapan atas kesuburan, keabadian (kelestarian), dan kekuatan.
2. Bilah keris harus selalu membuat sudut tertentu terhadap ganja. Bukan tegak lurus. Kedudukan bilah keris yang miring atau condong, ini adalah perlambang dari sifat orang Jawa, dan juga suku bangsa Indonesia lainnya, bahwa seseorang, apa pun pangkat dan kedudukannya, harus senantiasa tunduk dan hormat bukan saja pada Sang Pencipta, juga pada sesamanya. Ilmu padi, kata pepatah, makin berilmu seseorang, makin tunduklah orang itu.
3. Ukuran panjang bilah keris yang lazim adalah antara 33 – 38 cm. Beberapa keris luar Jawa bisa mencapai 58 cm, bahkan keris buatan Filipina Selatan, panjangnya ada yang mencapai 64 cm. Yang terpendek adalah keris Buda dan keris buatan Nyi Sombro Pajajaran, yakni hanya sekitar 16 – 18 cm saja.
Tetapi keris yang dibuat orang amat kecil dan pendek, misalnya hanya 12 cm, atau bahkan ada yang lebih kecil dari ukuran fullpen, tidak dapat digolongkan sebagai keris, melainkan semacam jimat berbentuk keris-kerisan.
4. Keris yang baik harus dibuat dan ditempa dari tiga macam logam,- minimal dua, yakni besi, baja dan bahan pamor. Pada keris-keris tua, semisal keris Buda, tidak menggunakan baja.
Dengan demikian, keris yang dibuat dari kuningan, seng, dan bahan logam lainnya, tidak dapat digolongkan sebagai keris. Begitu juga “keris” yang dibuat bukan dengan cara ditempa, melainkan dicor, atau yang dibuat dari guntingan drum bekas aspal tergolong bukan keris, melainkan hanya keris-kerisan.
Meskipun masih ada beberapa kriteria lain untuk bisa mengatakan sebuah benda adalah keris, empat ketentuan di atas itulah yang terpenting.
 
Keris Budaya Nusantara
Thailand, Filipina, Kamboja, dan Brunei Darussalam. Jadi, boleh dikatakan budaya keris dapat dijumpai di semua daerah bekas wilayah kekuasan dan wilayah yang dipengaruhi Kerajaan Majapahit. Itulah sebabnya beberapa ahli budaya menyebutkan, keris adalah budaya Nusantara.
Keris ber-dapur Jalak Buda yang diperkirakan dibuat pada abad ke-6. Keris tertua dibuat di Pulau Jawa, diduga sekitar abad ke-6 atau ke-7. Di kalangan penggemarnya, keris buatan masa itu disebut keris Buda. Sesuai dengan kedudukannya sebagai sebuah karya awal sebuah budaya, bentuknya masih sederhana. Tetapi bahan besinya menurut ukuran zamannya, tergolong pilihan, dan cara pembuatannya diperkirakan tidak jauh berbeda dengan cara pembuatan keris yang kita kenal sekarang. Keris Buda hampir tidak berpamor. Seandainya ada pamor pada bilah keris itu, maka pamor itu selalu tergolong pamor tiban, yaitu pamor yang bentuk gambarannya tidak direncanakan oleh Sang Empu.
Sesuai dengan perkembangan budaya masyarakatnya, bentuk bilah keris juga mengikuti kemajuan zaman. Bentuk bilah yang semula relatif gemuk, pendek, dan tebal, secara berangsur menjadi menjadi lebih tipis, lebih langsing, lebih panjang, dan dengan sendirinya makin lama makin menjadi lebih indah.
Ricikan atau komponen keris yang semula hanya berupa gandik, pejetan, dan sogokan, dari zaman ke zaman bertambah menjadi aneka macam. Misalnya, kembang kacang, lambe gajah, jalen, jalu memet, lis-lisan, ada-ada, janur, greneng, tingil, pundak sategal, dan sebagainya.
Meskipun dari segi bentuk dan pemilihan bahan baku, keris selalui mengalami perkembangan, pola pokok cara pembuatannya hampir tidak pernah berubah. Pada dasarnya, pola pokok proses pembuatan keris: membersihkan logam bahan besi yang akan digunakan, mempersatukan besi dan pamor, dan kemudian memberinya bentuk sehingga disebut keris.
Pada zaman sekarang pembuatan keris masih tetap dilakukan secara tradisional di daerah Yogyakarta, Surakarta, Madura, Luwu (Sulawesi Tenggara), Taman Mini Indonesia Indah (Jakarta), Kelantan (Malaysia), dan Bandar Sri Begawan (Brunai Darussalam). Pembuatan keris masa kini masih tetap menggunakan kaidah-kaidah lama. Beberapa di antar para empu dan pandai keris itu bahkan masih tetap membaca mantera dan doa, serta melakukan puasa selama masa pembuatan kerisnya.
Karena budaya keris ini tersebar luas di seluruh Nusantara, Benda ini mempunyai banyak nama padanan. Di pulau Bali keris disebut kedutan. Di Sulawesi, selain menyebut keris, orang juga menamakannya selle atau tappi. Di Filipina, keris dinamakan sundang. Di beberapa daerah benda itu disebut kerih, karieh, atau kres. Demikian pula bagian-bagian kelengkapan keris juga banyak mempunyai padanan. Walaupun demikian bentuk keris buatan daerah mana pun masih tetap memiliki bentuk yang serupa. Dan, juga bentuk bagian-bagiannya pun tidak jauh berbeda.

Bukan Alat Pembunuh
Walaupun oleh sebagian peneliti dan penulis bangsa Barat keris digolongkan sebagai jenis senjata tikam, sebenarnya keris dibuat bukan semata-mata untuk membunuh. Keris lebih bersifat sebagai senjata dalam pengertian simbolik, senjata dalam artian spiritual. Untuk ‘sipat kandel,’ kata orang Jawa. Karenanya oleh sebagian orang keris juga dianggap memiliki kekuatan gaib.
Keris seindah ini, tentu amat sayang jika sampai membunuh orang Bagi yang percaya, keris tertentu dapat menambah keberanian dan rasa percaya diri seseorang, dalam hal ini pemilik keris itu. Keris juga dapat menghindarkan serangan wabah penyakit dan hama tanaman. Keris dapat pula menyingkirkan dan menangkal gangguan makhluk halus. Keris juga dipercaya dapat membantu pemiliknya memudahkan pemiliknya memudahkan mencari  dipercaya dapat dimanfaatkan tuahnya, sehingga benda itu dianggap bisa memberikan bantuan keselamatan bagi pemilik dan orang-orang sekitarnya.
Memang ada keris-keris yang benar-benar digunakan untuk membunuh orang, misalnya keris yang pada zaman dulu dipakai oleh algojo keraton guna melaksanakan hukuman bagi terpidana mati. Begitu pula keris-keris yang dibuat untuk prajurit rendahan. Namun kegunaan keris sebagai alat pembunuh ini pun sifatnya seremonial dan khusus, misalnya Kanjeng Kyai Balabar milik Pangeran Puger. Pada abad ke-18 keris ber-dapur Pasopati itu digunakan oleh Sunan Amangkurat Amral untuk menghukum mati Trunojoyo di alun-alun Kartasura.
Keris adalah benda seni yang meliputi seni tempa, seni ukir, seni pahat, seni bentuk, serta seni perlambang,. Pembuatannya selalu disertai doa-doa tertentu, berbagai mantera, serta upacara dan sesaji khusus. Doa pertama seorang empu ketika akam mulai menempa keris adalah memohon kepada Yang Maha Kuasa, agar keris buatannya tidak akan mencelakakan pemiliknya maupun orang lain. Doa-doa itu juga diikuti dengan tapa brata dan lelaku, antara lain tidak tidur, tidak makan, tidak menyentuh lawan jenis pada saat-saat tertentu.
Bahan baku pembuatan keris adalah besi, baja, dan bahan pamor. Bahan pamor ini ada empat macam.
Pertama, batu meteorit atau batu bintang yang mengandung unsur titanium. Bahan pamor yang kedua adalah nikel. Sedangkan bahan pamor lainnya adalah senyawa besi yang digunakan sebagai bahan pokok. Biasanya, pamor jenis ketiga ini adalah besi yang yang disebut pamor Luwu. Sedangkan bahan yang keempat adalah senyawa besi dari daerah lain, yang bila dicampurkan pada bahan besi dari daerah tertentu akan menimbulkan nuansa warna serta pemanpilan yang berbeda.
Besi dan pamor ditempa berulang-ulang lalu dibuat berlapis-lapis. Pada zaman ini, umumnya paling sedikit 64 lapisan. Untuk pembuatan keris berkualitas sederhana diperlukan lapisan sebanyak 128 buah. Sedangkan yang kualitas baik harus dibuat lebih 2.000 lapisan. Baru setelah itu, untuk mendapat ketajamanan yang baik, disisipkan lapisan baja di tengahnya.
Segala benda yang tipis akan menjadi jauh lebih kuat bilamana benda itu dibuat berlapis-lapis. Teori ini sudah dikenal oleh nenek moyang kita sejak berabad-abad yang lampau. Mereka menemukan teori ini, dan mempraktikkannya, sekitar 7 atau 8 abad sebelum teknologi pembuatan tripleks atau kayu lapis (plywood) ditemukan dan diproduksi orang Barat pada awal abad ke-16.
Pemilihan akan batu meteorit yang mengandung unsur titanium, juga merupakan penemuan nenek moyang kita yang mengagumkan. Karena titanium ternyata memiliki banyak keunggulan dibandingkan jenis unsur logam lainnya. Unsur titanium itu keras, kuat, ringan, tahan panas, dan juga tahan karat. Dalam peradaban modern sekarang, titanium dimanfaatkan orang untuk membuat pelapis hidung pesawat angkasa luar, serta ujung roket dan peluru kendali antar benua.

Kaitannya dengan Budaya Lain

Selain berfungsi sebagai senjata, baik secara fisik maupun secara spiritual, keris juga merupakan salah satu kelengkapan pakaian adat — baik di Pulau Jawa, maupun di pulau-pulau lain di luar Jawa. Selin itu masih ada beberapa fungsi keris lainnya, dalam budaya Indonesia, dan juga budaya Malaysia, Brunai, serta Thailand Selatan. Pada masa silam keris dapat berfungsi sebagai benda upacara, sebagai tanda ikatan keluarga atau dinasti, sebagai atribut suatu jabatan tertentu, sebagai lambang kekuasaan tertentu, dan sebagai wakil atau utusan pribadi pemiliknya. Pada zaman dulu, seorang utusan raja baru dipandang sah bilamana ia membawa serta salah satu keris milik raja yang mengutusnya. Bilamana seorang pegawai kerajaan (abdidalem) menduduki jabatan tertentu, pada upacara wisuda ia akan mendapat sebilah keris jabatan dari atasannya. Sampai kini, di kerajaan Brunei Darussalam, tradisi semacam itu masih tetap dilestarikan.
Dulu, kekuasaan seorang raja baru akan dipandang sah oleh rakyatnya manakala raja mengenakan salah satu keris pusaka kerajaan pada saat penobatan. Di Pulau Jawa, terutama pada masyarakat suku bangsa Jawa di Jawa Tengah dan sebagian Jawa Timur, kalau pengantin pria berhalangan hadir pada upacara pernikahan, ia boleh mewakilkan dirinya dengan sebilah keris miliknya. Jadi, keris itulah yang akan dipersandingkan dengan pengantin putri di pelaminan. Adat yang demikian juga ada di pada masyarakat Bali. Di Sumatra Barat seorang pemuda yang hendak berangkat merantau biasanya dibekali sebilah  keris oleh orang tuanya, sebagai perwujudan ikatan keluarga dan doa restu orang tua.
Keris sajen, atau keris sesaji, yang pada sebagian buku keris yang ditulis orang barat sering disebut keris Majapahit Dari berbagai prasasti yang ditemukan di Pulau Jawa diketahui bahwa keris pernah juga menjadi salah satu kelengkapan sesaji pada upacara keagamaan pada waktu itu. Bahkan di desa-desa tertentu di Pulau Jawa, pada akhir masa penjajahan Belanda, untuk melaksanakan upacara bersih desa masih pula disertakan sebilah keris kecil yang disebut keris sajen. Bersih desa adalah suatu upacara selamatan tradisional untuk memohon pada Yang Maha Kuasa agar warga desa, termasuk sawah ladangnya, terhindar dari gangguan penyakit dan hama tanaman, terlindung dari ancaman berbagai bencana alam. Upacara ini juga dimaksudkan untuk memperbaharui semacam kesepakatan atau agreement dengan makhluk halus penghuni desa itu (Sing Mbahureksa – Bhs. Jawa) untuk tidak saling mengganggu dengan penduduk desa. Keris sajen adalah keris kecil yang dibuat amat sederhana. Keris ini dalam berbagai buku yang ditulis orang Barat disebut sebagai keris Majapahit.
Jadi, penyebutan keris kecil yang sederhana itu sebagai keris Majapahit oleh sebagian orang Barat adalah salah!
Yang benar adalah keris sajen. Atau, keris sesaji.
Memang, budaya keris amat erat kaitannya dengan berbagai budaya lain dalam masyarakat berbagai suku bangsa di Indonesia.
 
Budaya Asli Indonesia
Keris adalah budaya asli Indonesia. Walaupun pada abad ke-14, nenek moyang bangsa Indonesia pada umumnya beragama Hindu dan Budha, tidak pernah ditemukan bukti bahwa budaya keris berasal dari India atau negara lain. Tidak pula ditemukan bukti adanya kaitan langsung antara senjata tradisional itu dengan kedua agama itu. Jika pada beberapa candi di Pulau Jawa ditemui adanya gambar timbul (relief) yang menggambarkan adanya senjata yang berbentuk keris,maka pada candi yang ada di India atau negara lain, bentuk senjata semacam ini tidak pernah ada.
Bahkan senjata yang berpamor, tidak pernah ada dalam sejarah India. Bentuk senjata yang menyerupai keris pun tidak pernah dijumpai di negeri itu. Dalam kitab Mahabarata dan Ramayana yang ditulis pujangga India, tidak ditemukan satu pun senjata yang bernama keris. Jenis senjata yang ada dalam buku epos agama Hindu itu adalah gendewa dan panahnya, gada, pedang, dan cakra. Tetapi tidak keris! Keris baru dijumpai setelah kedua cerita itu diadaptasi oleh orang Jawa dan menjadi cerita wayang!
Beberapa buku yang ditulis orang Barat menyebutkan bahwa di Persia (kini Iran) dulu juga pernah ada pembuatan senjata berpamor yang serupa dengan keris yang ada di Indonesia. Ini pun keliru!
Beberapa jenis senjata kuno buatan Persia memang dihiasi dengan semacam lukisan atau kaligrafi pada permukaan bilahnya. Namun penerapan teknik hiasan itu beda benar dengan pamor. Teknik menghias gambar pada permukaan yang dilakukan bilah senjata yang dilakukan di Iran adalah dengan menggores permukaan bilah itu sehingga timbul alur, kemudian ke dalam alur goresan itu dibenamkan (dijejalkan) kepingan tipis logam emas atau kuningan.
Jadi, teknik hias yang digunakan orang Iran adalah teknik inlay, yang oleh orang Jawa disebut sinarasah. Tetapi hiasan sinarasah itu sama sekali bukan pamor, melainkan hanya merupakan hiasan tambahan atau susulan. Sedangkan pamor adalah hiasan yang terjadi karena adanya lapisan-lapisan dari dua (atau lebih) jenis logam yang berbeda nuansa warna dan penampilannya, yaitu besi, baja, serta bahan pamor. Besinya berwarna kehitaman, bajanya agak abu-abu, sedangkan pamornya cemerlang keperakan. Padahal semua senjata buatan Iran, praktis hanya terbuat dari satu macam logam, yakni baja melulu.
Memang teknik pembuatan pamor pada bilah keris agak serupa dengan teknik pembuatan baja Damaskus. Pedang Damaskus atau baja Damaskus juga terbuat dari paduan dua logam yang mempunyai nuansa beda. Pedang itu pun menampilkan gambaran semacam pamor pada permukaan bilahnya.
Tetapi meskipun teknik pembuatannya hampir sama, niat dan tujuan pembuatan kedua benda itu jauh berbeda. Pedang Damaskus dibuat dengan tujuan utama membunuh lawan, senantiasa diasah tajam. Sedangkan keris dibuat untuk benda pusaka, untuk mendapat kepercayaan diri (sipat kandel – Bhs. Jawa), diharapkan manfaat gaibnya, serta tidak pernah diasah setelah keris itu jadi.
Keris berdapur Tilamsari dengan hiasan kinatah emas Di Indonesia, keris yang baik pada umumnya selain berpamor juga diberi hiasan tambahan  dari emas, perak, dan juga permata. Hiasan ini dibuat untuk memuliakan keris itu, atau sebagai penghargaan Si Pemilik terhadap kerisnya. Pemberian emas dapat juga sebagai anugrah dari raja atas penghargaan terhadap jasa Si Pemilik keris itu.
Hiasan yang dinilai paling tinggi derajatnya adalah bilamana sebilah keris diberi kinatah atau tinatah. Permukaan bilah keris dipahat dan diukir denga motif tertentu sehingga membentuk gambar timbul (relief) dan kemudian dilapisi dengan emas. Terkadang, di sela-sela motif hiasan berlapis emas itu masih ditambah lagi dengan intan atau berlian.
Jika hiasan kinatah itu menutup sepertiga bagian panjang bilah atau lebih, disebut kinatah kamarogan.
Jenis motif kinatah juga banyak ragamnya. Yang paling terkenal adalah, pada bilah keris adalah kinatah lung-lungan, dan pada ganja kinatah gajah singa.
Hiasan sinarasah emas seperti yang dilakukan orang Persia kuno, tergolong lebih sederhana dibandingkan dengan kinatah. Teknik sinarasah, selain digunakan untuk menghias permukaan bilah, juga sering digunakan untuk membuat motif rajah. Yaitu gambaran yang dianggap memiliki pengaruh gaib. Misalnya rajah Kalacakra, rajah Bintang Soleman, dll.
Ditinjau dari cara dan niat pembuatannya keris dapat dibagi atas dua golongan besar. Yaitu yang disebut keris ageman, yang hanya mementingkan keindahan lahiriah (eksoteri) keris itu. Golongan dua adalah keris tayuhan, yang lebih mementingkan tuah atau kekuatan gaibnya (isoteri atau esoteri).
Ditinjau dari bentuk dan kelengkapan bagian-bagiannya, keris terbagi atas 240 dapur keris. Dari jumlah yang ratusan itu, secara umum dapat dibagi atas dua golongan besar, yaitu keris yang lurus dan yang berkelok-kelok bilahnya. Yang berkelok-kelok bilahnya itu disebut keris luk. Jumlah kelokan atau luknya, mulai dari tiga sampai dengan 13. Keris yang luknya lebih dari 13, dianggap sebagai keris yang tidak normal (tetapi bukan berarti tidak baik), dan disebut keris Kalawija. Sedangkan motif hiasan pamor pada bilahnya, lebih dari 150 ragam pamor.
Keris yang dibuat dalam lingkungan keraton oleh para empu keraton, umumnya diberi gelar Kyai, Kanjeng Kyai, dan Kanjeng Kyai Ageng, Selain gelar, keris juga diberi nama. Gelar dan nama keris itu tercatat dan disimpan dalam arsip keraton. Sedangkan keris milik keraton biasanya disimpan dalam ruangan khususyang disebut Gedong Pusaka.
Keris-keris yang terkenal dan disebut-sebut dalam legenda atau cerita rakyat, yang paling terkenal adalah keris Empu Gandring pada zaman Kerajaan Singasari. Keris itu konon dibuat oleh Empu Gandring atas pesanan Ken Arok untuk membunuh Tunggul Ametung, penguasa Tumapel. Keris terkenal lainnya adalah Kanjeng Kyai Ageng Sengkelat, pusaka Keraton Majapahit yang konon pernah dicuri oleh Adipati Blambangan. Ada lagi keris Kyai Setan Kober yang dipakai oleh Arya Penangsang, sewaktu berperang melawan Danang Sutawijaya, pada awal berdirinya kerajaan Pajang.
Sedangkan di pantai timur Sumatra dan Semenanjung Malaya, yang terkenal adalah keris Si Ginje.

Cara Memakai
Cara mengenakan keris sewaktu seseorang memakai pakaian adat, berbeda antara daerah yang satu dengan daerah yang lainnya. Selain itu dalam satu daerah, kadang-kadang cara  pemakaian itu juga berbeda antara lapisan masyarakat yang satu dengan lainnya, tergantung pada tingkat sosialnya. Dan itu pun harus disesuaikan, pada situasi apa keris itu akan dikenakan. Mengenai tata cara mengenakan keris ini pada setiap daerah, setiap suku bangsa, memang ada aturannya, ada etikanya.
Di Pulau Jawa, misalnya, cara mengenakan keris pada suatu pesta, tidak sama dengan kalau keris itu dikenakan untuk menghadiri suatu acara kematian dan penguburan.
Di Pulau Jawa pada umumnya keris dikenakan orang dengan cara menyelipkannya di antara stagen sejenis ikat pinggang, di pinggang bagian belakang. Yang paling umum, keris itu diselipkan  miring ke arah tangan kanan, namun pada situasi yang lain, lain pula posisi keris itu. Umpamanya, pada situasi perang, kalau yang mengenakan keris itu seorang ulama – keris akan diselipkan di bagian dada, miring ke arah tangan kanan. Misalnya seperti yang dikenakan oleh Pangeran Diponegoro pada gambar-gambar yang dapat kita lihat di buku sejarah.

Mengenakan keris dengan cara moglèng menurut adat Yogyakarta
Di Pulau Bali keris dikenakan dengan cara menyelipkannya pada lipatan kain, di punggung dengan posisi tegak atau miring ke kanan. Tetapi pada situasi yang khusus, cara pemakaiannya juga lain lagi.
Mengenakan keris cara orang Bali
Di daerah Minangkabau, Bangkinang, bengkulu, Palembang, Riau, Malaysia, Brunai Darussalam, Pontianak, Sambas, Kutai, Tenggarong, Banjar, Bugis, Goa, Makassar, Luwu, dll, keris  biasanya dikenakan dengan cara menyelipkannya pada lipatan kain sarung, di bagian dada atau perut Si Pemakai, dengan kedudukan serong ke arah tangan kanan.
Pada sebagian suku bangsa di Indonesia, mengenakan pakaian adat tanpa keris adalah sesuatu yang aneh, janggal, tidak masuk akal. Barangkali seperti melihat orang Eropa mengenakan jas dan dasi tetapi tanpa sepatu.
Mengenakan keris cara orang Minang, Sumatra Barat
 
Perjodohan
Sebagai benda antik yang banyak penggemarnya, nilai sebilah keris selain ditentukan oleh keindahannya, mutu, dan jenis bahan bakunya, juga oleh umurnya. Pada umumnya, makin tua keris itu, senjata pusaka itu akan makin dihargai. Namun penilaian terhadap mutu sebilah keris bukan hanya berdasar umur, juga keutuhan, serta beberapa faktor lainnya.
Para penggemar keris pada umumnya mempunyai pedoman umum dalam menilai sebuah keris. Pedoman itu adalah tangguh, sepuh, dan wutuh. Yang dimaksudkan adalah, perkiraan asal pembuatan keris itu (tangguh), relatif sudah tua (sepuh), dan belum ada cacat, gripis, aus, atau lepas salah satu bagiannya (wutuh). Selain itu ada pula penggemar keris yang menambah tiga kriteria di atas dengan memperhatikan bahan besinya, bahan pamornya, keindahan bentuknya, serta kebenaran pakem pembuatannya dan wibawa atau pengaruh yang terpancar dari bilah keris itu.
Di beberapa kota di Pulau Jawa ada perhimpunan penggemar dan pecinta tosan aji, terutama keris. Di Surakarta, namanya Boworoso Tosan Aji, setelah itu ada Boworoso Panitikadga. Di Yogyakarta dan Jakarta ada Pametri Wiji, singkatan dari Paheman Memetri Wesi Aji. Kemudian pada tahun 1990, di Jakarta, ada lagi Damartaji, singkatan Persaudaraan Penggemar Tosan Aji. Secara berkala, para pecinta tosan aji dan keris itu mengadakan sarasehan dan diskusi untuk membahas budaya keris dari berbagai segi.
Jual beli dalam dunia perkerisan biasanya diistilahkan dengan perjodohan. Sedangkan harganya, pada umumnya disebut mas kawin. Bilamana sebilah keris diberikan kepada seseorang tanpa mas kawin, Si Penerima keris itu harus memberikan petukan atau jemputan kepada Si Pemberi. Di Malaysia dan Brunai Darussalam, tradisi yang demikian disebut mahar atau imbal, sedangkan di Riau dan Kalimantan Barat juga menggunakan istilah jemputan.
Istilah perjodohan dalam dunia perkerisan timbul karena anggapan sebagian besar pecinta keris bahwa tidak sembarang keris dapat cocok dengan seseorang. Keris yang dianggap sesuai dan cocok bagi Si A, mungkin tidak cocok dipakai oleh si B. Keris yang cocok dan sesuai tuah atau isoterinya, disebut jodoh. Sedangkan istilah mas kawin, timbul karena anggapan bahwa istilah jual beli terlalu rendah dan kasar bila digunakan untuk menyebut adanya transaksi pada sebilah keris. Jadi, jika seseorang akan menanyakan berapa harga sebilah keris, maka ia harus berkata: “Boleh saya tahu berapa mas kawinnya?”.
Bahkan, dulu bilamana seseorang menginginkan keris milik orang lain, ia bukan menyatakan hasratnya ingin membeli, melainkan mengatakan ingin melamar keris itu. “Jika diperkenankan, saya ingin melamar keris bapak yang ber-dapur Jalak Sangu Tumpeng dan berpamor Wos Wutah itu…”
Itu semua dilakukan oleh orang yang hidup pada masa dulu, yakni nenek moyang kita, sebagai suatu etika, pengakuan dan penghargaan masyarakat atas tingginya kedudukan di mata masyarakat itu sendiri.

Siraman Pusaka
Khususnya di Pulau Jawa, ada tradisi memandikan atau mencuci dan mewarangi keris setahun sekali, pada saat-saat tertentu. Di Keraton Surakarta, baik Keraton Kasunanan maupun Keraton Mangkunegaran tradisi mencuci keris itu disebut Siraman Pusaka, diselenggarakan pada setiap bulan Sura menurut kalender Jawa, atau Muharam menurut sebutan kalender Hijrah. Begitu pula di Yogyakarta, baik Keraton Kasultanan maupun Keraton Pakualaman.

Tradisi itu kemudian ditiru oleh orang-orang di luar keraton, baik di Jawa Tengah, maupun di Jawa Timur. Mereka pun membersihkan kerisnya pada bulan Sura setiap tahun. Tetapi di beberapa daerah lain, tradisi membersihkan keris ini ada yang dilakukan pada bulan Maulud menurut kalender Hijrah.
Sebenarnya, tradisi tahunan semacam itu tidak selalu menguntungkan. Dengan mencuci, membersihkan, dan mewarangi keris setiap tahun, bilah keris akan cepat aus. Seharusnya, keris yang masih terawat baik tidak harus disirami setiap tahun, karena air jeruk yang digunakan sebagai pembersih pada hakekatnya juga melarutkan sebagian besi di permukaan keris itu. Sebilah keris yang terawat dengan baik, cukup dibersihkan dan diwarangi tiga atau empat tahun sekali. 
 
Asal Usul Keris
Keris dan tosan aji serta senjata tradisional lainnya menjadi khasanah budaya Indonesia, tentunya setelah nenek moyang kita mengenal besi. Berbagai bangunan candi batu yang dibangun pada zaman sebelum abad ke-10 membuktikan bahwa bangsa Indonesia pada waktu itu telah mengenal peralatan besi yang cukup bagus, sehingga mereka dapat menciptakan karya seni pahat yang bernilai tinggi. Namun apakah ketika itu bangsa Indonesia mengenal budaya keris sebagaimana yang kita kenal sekarang, para ahli baru dapat meraba-raba.
Salah satu relief pada dinding Candi Borobudur yang memperlihatkan gambar orang mengenakan keris dengan bentuk masih sederhana Gambar timbul (relief) paling kuno yang memperlihatkan peralatan besi terdapat pada prasasti batu yang ditemukan di Desa Dakuwu, di daerah Grabag, Magelang, Jawa Tengah. Melihat bentuk tulisannya,  diperkirakan prasasti tersebut dibuat pada sekitar tahun 500 Masehi. Huruf yang digunakan, huruf Pallawa. Bahasa yang dipakai adalah bahasa Sanskerta.
Prasasti itu menyebutkan tentang adanya sebuah mata air yang bersih dan jernih. Di atas tulisan prasasti itu ada beberapa gambar, di antaranya: trisula, kapak, sabit kudi, dan belati atau pisau yang bentuknya amat mirip dengan keris buatan Nyi Sombro, seorang empu wanita dari zaman Pajajaran. Ada pula terlukis kendi, kalasangka, dan bunga teratai.
Kendi, dalam filosofi Jawa Kuno adalah lambang ilmu pengetahuan, kalasangka melambangkan keabadian, sedangkan bunga teratai lambang harmoni dengan alam.
 
Beberapa Teori
Sudah banyak ahli kebudayaan yang membahas tentang sejarah keberadaan dan perkembangan keris dan tosan aji lainnya. G.B. GARDNER pada tahun 1936 pernah berteori bahwa keris adalah perkembangan bentuk dari senjata tikam zaman prasejarah, yaitu tulang ekor atau sengat ikan pari dihilangkan pangkalnya, kemudian dibalut dengan kain pada tangkainya. Dengan begitu senjata itu dapat digenggam dan dibawa-bawa. Maka jadilah sebuah senjata tikam yang berbahaya, menurut ukuran kala itu.
Sementara itu GRIFFITH WILKENS pada tahun 1937 berpendapat bahwa budaya keris baru timbul pada abad ke-14 dan 15. Katanya, bentuk keris merupakan pertumbuhan dari bentuk tombak yang banyak digunakan oleh bangsa-bangsa yang mendiami kepulauan antara Asia dan Australia. Dari mata lembing itulah kelak timbul jenis senjata pendek atau senjata tikam, yang kemudian dikenal dengan nama keris. Alasan lainnya, lembing atau tombak yang tangkainya panjang, tidak mudah dibawa kemana-mana. Sukar dibawa menyusup masuk hutan. Karena pada waktu itu tidak mudah orang mendapatkan bahan besi, maka mata tombak dilepas dari tangkainya sehingga menjadi senjata genggam.
Lain lagi pendapat A.J. BARNET KEMPERS. Pada tahun 1954 ahli purbakala itu menduga bentuk prototipe keris merupakan perkembangan bentuk dari senjata penusuk pada zaman perunggu. Keris yang hulunya berbentuk patung kecil yang menggambarkan manusia dan menyatu dengan bilahnya, oleh Barnet Kempers bukan dianggap sebagai barang yang luar biasa.
Katanya, senjata tikam dari kebudayaan perunggu Dong-son juga berbentuk mirip itu. Hulunya merupakan patung kecil yang menggambarkan manusia sedang berdiri sambil berkacak pinggang (malang-kerik, bahasa Jawa). Sedangkan senjata tikam kuno yang pernah ditemukan di Kalimantan, pada bagian hulunya juga distilir dari bentuk orang berkacak pinggang.
Perkembangan bentuk dasar senjata tikam itu dapat dibandingkan dengan perkembangan bentuk senjata di Eropa. Di benua itu, dulu, pedang juga distilir dari bentuk menusia dengan kedua tangan terentang lurus ke samping. Bentuk hulu pedang itu, setelah menyebarnya agama Kristen, kemudian dikembangkan menjadi bentuk yang serupa salib.
Dalam kaitannya dengan bentuk keris di Indonesia, hulu keris yang berbentuk manusia (yang distilir), ada yang berdiri, ada yang membungkuk, dan ada pula yang berjongkok, Bentuk ini serupa dengan patung megalitik yang ditemukan di Playen, Gunung Kidul, Yogyakarta. Dalam perkembangan kemudian, bentuk-bentuk itu makin distilir lagi dan kini menjadi bentuk hulu keris (Di Pulau Jawa disebut deder, jejeran, atau ukiran) dengan ragam hias cecek, patra gandul, patra ageng, umpak-umpak, dlsb.
Dalam sejarah budaya kita, patung atau arca orang berdiri dengan agak membungkuk, oleh sebagian ahli, diartikan sebagai lambang orang mati. Sedangkan patung yang menggambarkan manusia dengan sikap sedang jongkok dengan kaki ditekuk, dianggap melambangkan kelahiran, persalinan, kesuburan, atau kehidupan. Sama dengan sikap bayi atau janin dalam kandungan ibunya.
Ada sebgian ahli bangsa Barat yang tidak yakin bahwa keris sudah dibuat di Indonesia sebelum abad ke-14 atau 15. Mereka mendasarkan teorinya pada kenyataan bahwa tidak ada gambar yang jelas pada relief candi-candi yang dibangun sebelum abad ke-10. SIR THOMAS STAMFORD RAFFLES dalam bukunya History of Java (1817) mengatakan, tidak kurang dari 30 jenis senjata yang dimiliki dan digunakan prajurit Jawa waktu itu, termasuk juga senjata api. Tetapi dari aneka ragam senjata itu, keris menempati kedudukan yang istimewa.
Disebutkan dalam bukunya itu, prajurit Jawa pada umumnya menyandang tiga buah keris sekaligus. Keris yang dikenakan di pinggang sebelah kiri, berasal dari pemberian mertua waktu pernikahan (dalam budaya Jawa disebut kancing gelung). Keris yang dikenakan di pinggang kanan, berasal dari pemberian orang tuanya sendiri. Selain itu berbagai tata cara dan etika dalam dunia perkerisan juga termuat dalam buku Raffles itu. Sayangnya dalam buku yang terkenal itu, penguasa Inggris itu tidak menyebut-nyebut tentang sejarah dan asal usul budaya keris.
Sementara itu istilah ‘keris’ sudah dijumpai pada beberapa prasasti kuno. Lempengan perunggu bertulis yang ditemukan di Karangtengah, berangka tahun 748 Saka, atau 842 Masehi, menyebut-nyebut beberapa jenis sesaji untuk menetapkan Poh sebagai daerah bebas pajak, sesaji itu antara lain berupa ‘kres’, wangkiul, tewek punukan, wesi penghatap.
Kres
yang dimaksudkan pada kedua prasasti itu adalah keris. Sedangkan wangkiul adalah sejenis tombak, tewek punukan adalah senjata bermata dua, semacam dwisula.
Pada lukisan gambar timbul (relief) Candi Borobudur, Jawa Tengah, di sudut bawah bagian tenggara, tergambar beberapa orang prajurit membawa senjata tajam yang serupa dengan keris yang kita kenal sekarang. Di Candi Prambanan, Jawa Tengah, juga tergambar pada reliefnya, raksasa membawa senjata tikam yang serupa benar dengan keris. Di Candi Sewu, dekat Candi Prambanan, juga ada. Arca raksasa penjaga, menyelipkan sebilah senjata tajam, mirip keris.
Sementara itu edisi pertama dan kedua yang disusun oleh Prof. P.A VAN DER LITH menyebutkan, sewaktu stupa induk Candi Borobudur, yang dibangun tahun 875 Masehi, itu dibongkar, ditemukan sebilah keris tua. Keris itu menyatu antara bilah dan hulunya. Tetapi bentuk keris itu tidak serupa dengan bentuk keris yang tergambar pada relief candi. Keris temuan ini kini tersimpan di Museum Ethnografi, Leiden, Belanda. Keterangan mengenai keris temuan itu ditulis oleh Dr. H.H. JUYNBOHL dalam Katalog Kerajaan (Belanda) jilid V, Tahun 1909. Di katalog itu dikatakan, keris itu tergolong ‘keris Majapahit‘, hulunya berbentuk patung orang, bilahnya sangat tua. Salah satu sisi bilah telah rusak. Keris, yang diberi nomor seri 1834, itu adalah pemberian G.J. HEYLIGERS, sekretaris kantor Residen Kedu, pada bulan Oktober 1845. Yang menjadi residennya pada waktu itu adalah Hartman. Ukuran panjang bilah keris temuan itu 28.3 cm, panjang hulunya 20,2 cm, dan lebarnya 4,8 cm. Bentuknya lurus, tidak memakai luk.
Mengenai keris ini, banyak yang menyangsikan apakah sejak awalnya memang telah diletakkan di tengah lubang stupa induk Candi Borobudur. Barnet Kempres sendiri menduga keris itu diletakkan oleh seseorang pada masa-masa kemudian, jauh hari setelah Candi Borobudur selesai dibangun. Jadi bukan pada waktu pembangunannya.
Ada pula yang menduga, budaya keris sudah berkembang sejak menjelang tahun 1.000 Masehi. Pendapat ini didasarkan atas laporan seeorang musafir Cina pada tahun 922 Masehi. Jadi laporan itu dibuat kira-kira zaman Kahuripan berkembang di tepian Kali Brantas, Jawa Timur. Menurut laporan itu, ada seseorang Maharaja Jawa menghadiahkan kepada Kaisar Tiongkok “a short swords with hilts of rhinoceros horn or gold (pedang pendek dengan hulu terbuat dari dari cula badak atau emas). Bisa jadi pedang pendek yang dimaksuddalam laporan itu adalah protoptipe keris seperti yang tergambar pada relief Candi Borobudur dan Prambanan.
Sebilah keris yang ditandai dengan angka tahun pada bilahnya, dimiliki oleh seorang Belanda bernama Knaud di Batavia (pada zaman Belanda dulu). Pada bilah keris itu selain terdapat gamabar timbul wayang, juga berangka tahun Saka 1264, atau 1324 Masehi. Jadi kira-kira sezaman dengan saat pembangunan Candi Penataran di dekat kota Blitar, Jawa Timur. Pada candi ini memang terdapat patung raksasa Kala yang menyandang keris pendek lurus.
Gambar yang jelas mengenai keris dijumpai pada sebuah patung siwa yang berasal dari zaman Kerajaan Singasari, pada abad ke-14. Digambarkan dengan Dewa Siwa sedang memegang keris panjang di tangan kanannya. Jelasini bukan tiruan patung Dewa Siwa dari India, karena di India tak pernah ditemui adanya patung Siwa memegang keris. Patung itu kini tersimpan di Museum Leiden, Belanda.
Pada zaman-zaman berikutnya, makin banyak candi yang dibangun di Jawa Timur, yang memiliki gambaran keris pada dinding reliefnya. Misalnya pada Candi Jago atau Candi Jajagu, yang dibangun tahun 1268 Masehi. Di candi itu terdapat relief yang menggambarkan Pandawa (tokoh wayang) sedang bermain dadu. Punakawan yang terlukis di belakangnya digambarkan sedang membawa keris. Begitu pula pada candi yang terdapat di Tegalwangi, Pare, dekat Kediri, dan Candi Panataran. Pada kedua candi itu tergambar relief tokoh-tokoh yang memegang keris.
Cerita mengenai keris yang lebih jelas dapat dibaca dari laporan seorang musafir Cina bernama Ma Huan. Dalam laporannya Yingyai Sheng-lan di tahun 1416 Masehi ia menuliskan pengalamannya sewaktu mengunjungi Kerajaan Majapahit.
Ketika itu ia datang bersama rombongan Laksamana Cheng-ho atas perintah Kaisar Yen Tsung dari dinasti Ming. Di Majapahit, Ma Huan menyaksikan bahwa hampir semua lelaki di negeri itu memakai pulak, sejak masih kanak-kanak, bahkan sejak berumur tiga tahun. Yang disebut pulak oleh Ma Huan adalah semacam belati lurus atau berkelok-kelok. Jelas ayang dimaksud adalah keris.
Kata Ma Huan dalam laoparan itu: These daggers have very thin stripes and within flowers and made of very best steel; the handle is of gold, rhinoceros, or ivory, cut into the shapeof human or devil faces and finished carefully.
Laporan ini membuktikan bahwa pada zaman itu telah dikenal teknik pembuatan senjata tikam dengan hiasan pamor dengan gambaran garis-garis amat tipis serta bunga-bunga keputihan. Senjata ini dibuat dengan baja berkualitas prima. Pegangannya, atau hulunya, terbuat dari emas, cula badak, atau gading.
Salah satu panil relief di Candi Sukuh di lereng Gunung Lawu. Tak pelak lagi, tentunya yang dimaksudkan Ma Huan dalam laporannya adalah keris yang kita kenal sekarang ini.
Gambar timbul mengenai cara pembuatan keris, dapat disaksikan di Candi Sukuh, di lereng Gunung Lawu, di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pada candra sengkala memet di candi itu, terbaca angka tahun 1316 Saka atau 1439 Masehi.
Cara pembuatan keris yang digambarkan di candi itu tidak jauh berbeda dengan cara pembuatan keris keris pada zaman sekarang. Baik peralatan kerja, palu dan ububan, maupun hasil karyanya berupa keris, tombak, kudi, dll.
 
Teori Itu Tak Selalu Benar
Bagi sebagian besar pecinta keris dan tosan aji di Indonesia, terutama di Pulau Jawa, teori-teori yang dikemukakan oleh para ahli Barat itu banyak sekali mengandung kelemahan, dan terkadang bahkan tidak logis.
Satu hal yang tidak ‘tertangkap’ dalam alam pikir para ahli Barat, adalah bahwa keris dibuat orang (para empu) sama sekali bukan dengan maksud untuk digunakan sebagai alat pembunuh. Banyak buku yang ditulis orang Barat menyebut keris sebagai salah satu senjata tikam atau stabbing weapons. Buku-buku Barat pada umumnya memberi kesan bahwa keris serupa atau sama saja dengan belati atau ponyard (poignard).
Padahal ada perbedaan sangat besar dan mendasar di antara mereka. Belati, sangkur, atau poyard memang sengaja dibuat untuk menusuk lawan, melukai atau membunuhnya, sedangkan keris tidak. Keris dibuat terutama untuk digunakan sebagai pusaka atau sipat kandel, yang dipercaya dapat melindungi serta memberi keselamatan dan kesejahteraan pemiliknya.
Kekeliruan lain yang terasa agak menyakitkan hati, adalah penyebutan keris-keris sajen sebagai keris Majapahit oleh sebagian buku yang ditulis oleh orang Barat. Bagi orang Indonesia, terutama suku bangsa Jawa, keris Majapahit adalah salah satu produk budaya yang indah dan relatif sempurna — yang sama sekali tidak dapat disamakan dengan keris sajen yang dibuat amat sangat sederhana.
Dari uraian ringkas di atas, cukup beralasan bagi kita kalau memperkirakan bahwa keris sudah mulai dibuat di Indonesia, Di Pulau Jawa, pada abad ke-5 atau 6. Tentu saja dalam bentuk yang masih sederhana.
Keris mencapai bentuknya seperti yang kita kenal sekarang, diperkirakan baru pada sekitar abad ke-12 atau 13. Budaya keris mencapai puncaknya pada zaman Kerajaan Majapahit, seperti yang telah dilaporkan oleh Ma Huan. Pada kala itulah budaya keris menyebar sampai ke Palembang, Riau, Semenanjung Malaya, Brunei Darussalam, Filipina Selatan, Kamboja atau Champa, bahkan sampai ke Surathani dan Pathani di Thailand bagian selatan.
Budaya keris terkadang disalah mengertikan oleh sebagian peneliti Barat, sehingga hasil tulisan mereka terkadang tidak sesuai dengan alam budaya bangsa Indonesia.
DARI BERBAGAI SUMBER TERPILIH
 

Sampingan

FILOSOFI SEBUAH KERIS

Filosofi Sebuah Keris

 

 

 
Makna Filosofi Keris
 
Dengan melihat begitu banyaknya ilmu tentang keris serta perdebatan didalamnya, alangkah lebih sarat makna bagi kita dalam diri pribadi masing-masing untuk selalu berupaya mempelajari makna sejarah, budaya dan filosofi keris dengan tanpa memandang apakah keris tersebut sudah aus, geripis ataukah masih utuh. Toh jika kita lihat, Kanjeng Kyai Kopek, pusaka kraton Jogjakarta yang dulunya dipesan Sunan Kalijaga kepada mPu Supo, pada bagian wadidhangnya sudah lubang dan tetap disimpan sebagai salah satu Keris Pusaka andalan Keraton Jogja karena memiliki muatan sejarah dan filosofi yang dalam dibandingkan sekedar bentuk atau wujud fisiknya. Dengan demikian, kebanggan atas sebilah keris tua yang masih utuh bagi saya hanyalah kesenangan semu yang hampa jika tidak diikuti dengan pemahaman terhadap sejarah dan filosofi keris. “Pamor keris boleh rontok, besi keris bisa saja terkikis aus karena usia, dan wrangka keris bisa saja rusak karena jaman, tetapi pemahaman atas sejarah dan filosofi sebilah keris akan selalu hidup dalam hati dan pikiran kita dan akan kita turunkan pada generasi selanjutnya”.

Oleh karena itu, pemahaman terhadap sejarah dan kebudayaan masyarakat jaman dahulu sangatlah memegang peranan penting dalam memahami tentang budaya perkerisan.
Katakanlah mengapa konon Sultan Agung Hanyokrokusumo ketika awal masa pemerintahannya sering memesan keris Luk 3 dapur Jangkung kepada Ki Nom ? Mengapa keris Luk 13 banyak dipesan ketika seorang Raja sudah lama memerintah dan hendak lengser keprabon ? Mengapa keris tangguh Pengging yang paling tinggi maknanya adalah yang ber Luk 9 ? Mengapa keris luk 1 dapur Pinarak selalu mengingatkan bahwa kehidupan kita di dunia ini sesungguhnya hanya sementara untuk mampir duduk (pinarak) ? Kesemua itu ternyata menunjukkan bahwa sesungguhnya keris memiliki makna yang lebih dalam dan sangat kaya daripada sekedar masalah pamor, dapur dan tangguh serta keutuhannya yang sampai sekarang masih terus menjadi perdebatan. Tentunya dengan tidak mengesampingkan ilmu atas fisik keris seperti dapur, pamor maupun tangguhnya.

Dengan menempatkan keris sebagai benda yang memiliki makna filosofi mendalam, maka kita sebenarnya telah berusaha memahami apa keinginan sang mPu dan orang yang memesannya dahulu ketika membabar keris tersebut. Karena tentunya para mPu dan orang yang memesannya tersebut sebenarnyna juga memiliki harapan-harapan yang tentunya bermaksud baik. Dengan memahami makna filosofi dari sebuah keris tersebut, maka sudah pasti kita turut “Nguri-uri”, melestarikan budaya keris karena salah satu makna keris tersebut adalah sebagai simbol dari adanya suatu harapan dan doa.
Sebenarnya keris sendiri memiliki berbagai macam bentuk, ada yang bermata berkelok kelok (7, 9 bahkan 13), ada pula yang bermata lurus seperti di daerah Sumatera. Selain itu masih ada lagi keris yang memliki kelok tunggal seperti halnya rencong di Aceh atau Badik di Sulawesi.

Bagian-bagian keris
Sebagian ahli tosan aji mengelompokkan keris sebagai senjata tikam, sehingga bagian utama dari sebilah keris adalah wilah (bilah) atau bahasa awamnya adalah seperti mata pisau. Tetapi karena keris mempunyai kelengkapan lainnya, yaitu wrangka (sarung) dan bagian pegangan keris atau ukiran, maka kesatuan terhadap seluruh kelengkapannya disebut keris.

* Pegangan keris

Pegangan keris ini bermacam-macam motifnya , untuk keris Bali ada yang bentuknya menyerupai patung dewa, patung pedande, patung raksaka, patung penari , pertapa, hutan ,dan ada yang diukir dengan kinatah emas dan batu mulia. Pegangan keris Sulawesi menggambarkan burung laut. Hal itu sebagai perlambang terhadap sebagian profesi masyarakat Sulawesi yang merupakan pelaut, sedangkan burung adalah lambang dunia atas keselamatan. Seperti juga motif kepala burung yang digunakan pada keris Riau Lingga, dan untuk daerah-daerah lainnya sebagai pusat pengembangan tosan aji seperti Aceh, Bangkinang (Riau) , Palembang, Sambas, Kutai, Bugis, Luwu, Jawa, Madura dan Sulu, keris mempunyai ukiran dan perlambang yang berbeda. Selain itu, materi yang dipergunakan pun berasal dari aneka bahan seperti gading, tulang, logam, dan yang paling banyak yaitu kayu. Untuk pegangan keris Jawa, secara garis besar terdiri dari sirah wingking ( kepala bagian belakang ) , jiling, cigir, cetek, bathuk (kepala bagian depan) ,weteng dan bungkul.

* Wrangka atau Rangka

Wrangka, rangka atau sarung keris adalah bagian (kelengkapan) keris yang mempunyai fungsi tertentu, khususnya dalam kehidupan sosial masyarakat Jawa, karena bagian wrangka inilah yang secara langsung dilihat oleh umum . Wrangka yang mula-mula (sebagian besar) dibuat dari bahan kayu (jati , cendana, timoho , kemuning, dll) , kemudian sesuai dengan perkembangan zaman maka terjadi perubahan fungsi wrangka (sebagai pencerminan status sosial bagi penggunanya ). Kemudian bagian atasnya atau ladrang-gayaman sering diganti dengan gading. Secara garis besar terdapat dua macam wrangka, yaitu jenis wrangka ladrang yang terdiri dari bagian-bagian : angkup, lata, janggut, gandek, godong (berbentuk seperti daun), gandar, ri serta cangkring. Dan jenis lainnya adalah jenis wrangka gayaman (gandon) yang bagian-bagiannya hampir sama dengan wrangka ladrang tetapi tidak terdapat angkup, godong dan gandek. Aturan pemakaian bentuk wrangka ini sudah ditentukan, walaupun tidak mutlak. Wrangka ladrang dipakai untuk upacara resmi , misalkan menghadap raja, acara resmi keraton lainnya (penobatan, pengangkatan pejabat kerajaan, perkimpoian, dll) dengan maksud penghormatan. Tata cara penggunaannya adalah dengan menyelipkan gandar keris di lipatan sabuk (stagen) pada pinggang bagian belakang (termasuk sebagai pertimbangan untuk keselamatan raja ). Sedangkan wrangka gayaman dipakai untuk keperluan harian, dan keris ditempatkan pada bagian depan (dekat pinggang) ataupun di belakang (pinggang belakang).

Dalam perang, yang digunakan adalah keris wrangka gayaman , pertimbangannya adalah dari sisi praktis dan ringkas, karena wrangka gayaman lebih memungkinkan cepat dan mudah bergerak, karena bentuknya lebih sederhana. Ladrang dan gayaman merupakan pola-bentuk wrangka, dan bagian utama menurut fungsi wrangka adalah bagian bawah yang berbentuk panjang ( sepanjang wilah keris ) yang disebut gandar atau antupan ,maka fungsi gandar adalah untuk membungkus wilah (bilah) dan biasanya terbuat dari kayu ( dipertimbangkan untuk tidak merusak wilah yang berbahan logam campuran ) . Karena fungsi gandar untuk membungkus , sehingga fungsi keindahannya tidak diutamakan, maka untuk memperindahnya akan dilapisi seperti selongsong-silinder yang disebut pendok . Bagian pendok ( lapisan selongsong ) inilah yang biasanya diukir sangat indah , dibuat dari logam kuningan, suasa ( campuran tembaga emas ) , perak, emas . Untuk daerah diluar Jawa ( kalangan raja-raja Bugis , Goa, Palembang, Riau, Bali ) pendoknya terbuat dari emas , disertai dengan tambahan hiasan seperti sulaman tali dari emas dan bunga yang bertaburkan intan berlian. Untuk keris Jawa , menurut bentuknya pendok ada tiga macam, yaitu (1) pendok bunton berbentuk selongsong pipih tanpa belahan pada sisinya , (2) pendok blewah (blengah) terbelah memanjang sampai pada salah satu ujungnya sehingga bagian gandar akan terlihat , serta (3) pendok topengan yang belahannya hanya terletak di tengah . Apabila dilihat dari hiasannya, pendok ada dua macam yaitu pendok berukir dan pendok polos (tanpa ukiran).

* Wilah

Wilah atau wilahan adalah bagian utama dari sebuah keris, dan juga terdiri dari bagian-bagian tertentu yang tidak sama untuk setiap wilahan, yang biasanya disebut dapur, atau penamaan ragam bentuk pada wilah-bilah (ada puluhan bentuk dapur). Sebagai contoh, bisa disebutkan dapur jangkung mayang, jaka lola , pinarak, jamang murub, bungkul , kebo tedan, pudak sitegal, dll. Pada pangkal wilahan terdapat pesi , yang merupakan ujung bawah sebilah keris atau tangkai keris. Bagian inilah yang masuk ke pegangan keris ( ukiran) . Pesi ini panjangnya antara 5 cm sampai 7 cm, dengan penampang sekitar 5 mm sampai 10 mm, bentuknya bulat panjang seperti pensil. Di daerah Jawa Timur disebut paksi, di Riau disebut puting, sedangkan untuk daerah Serawak, Brunei dan Malaysia disebut punting.

Pada pangkal (dasar keris) atau bagian bawah dari sebilah keris disebut ganja (untuk daerah semenanjung Melayu menyebutnya aring). Di tengahnya terdapat lubang pesi (bulat) persis untuk memasukkan pesi, sehingga bagian wilah dan ganja tidak terpisahkan. Pengamat budaya tosan aji mengatakan bahwa kesatuan itu melambangkan kesatuan lingga dan yoni, dimana ganja mewakili lambang yoni sedangkan pesi melambangkan lingganya. Ganja ini sepintas berbentuk cecak, bagian depannya disebut sirah cecak, bagian lehernya disebut gulu meled , bagian perut disebut wetengan dan ekornya disebut sebit ron. Ragam bentuk ganja ada bermacam-macam, wilut , dungkul , kelap lintah dan sebit rontal.

Luk, adalah bagian yang berkelok dari wilah-bilah keris, dan dilihat dari bentuknya keris dapat dibagi dua golongan besar, yaitu keris yang lurus dan keris yang bilahnya berkelok-kelok atau luk. Salah satu cara sederhana menghitung luk pada bilah , dimulai dari pangkal keris ke arah ujung keris, dihitung dari sisi cembung dan dilakukan pada kedua sisi seberang-menyeberang (kanan-kiri), maka bilangan terakhir adalah banyaknya luk pada wilah-bilah dan jumlahnya selalu gasal ( ganjil) dan tidak pernah genap, dan yang terkecil adalah luk tiga (3) dan terbanyak adalah luk tiga belas (13). Jika ada keris yang jumlah luk nya lebih dari tiga belas, biasanya disebut keris kalawija ,atau keris tidak lazim.
Sumber: ki walet
 

Makna dan Filosofi Keris Dalam Budaya Jawa

Keris dalam masyarakat Jawa, sekarang digunakan untuk pelengkap busana Jawa, keris sendiri memiliki banyak filosofi yang masih erat dalam kaitannya dengan kehidupan masyarakat Jawa. Makna filosofis yang terkandung dalam sebuah keris sebenarnya bisa dilihat mulai dari proses pembuatan hingga menjadi sebuah pusaka bagi pemiliknya. Seiring berjalannya waktu dan modernisasi, kita sadari bahwa perlu dilakukan pelestarian terhadap warisan leluhur ini agar tidak terkikis akan perkembangan jaman,  keris atau dalam bahasa jawa disebut tosan aji, merupakan penggalan dari kata tosan yang berarti besi dan aji berarti dihormati, jadi keris merupakan perwujudan yang berupa besi dan diyakini bahwa kandungannya mempunyai makna yang harus dihormati, bukan berarti harus disembah-sembah tetapi selayaknya dihormati karena merupakan warisan budaya nenek moyang kita yang bernilai tinggi.
Bila kita merunut dari pembuatnya atau yang disebut empu, ini mempunyai sejarah dan proses panjang dalam membuat atau menciptakan suatu karya yang mempunyai nilai estetika yang tinggi. Empu menciptakan keris bukan untuk membunuh tetapi mempunyai tujuan lain yakni sebagai piyandel atau pegangan yang diyakini menambah kewibawaan dan rasa percaya diri, ini dapat dilihat dari proses pembuatannya pada zaman dahulu. Membuat keris adalah pekerjaan yang tidak mudah, membutuhkan sebuah keuletan, ketekunan, dan mental yang kuat, sehingga para pembuat harus meminta petunjuk dari Tuhan melalui  laku / berpuasa, tapa / bersemadi dan sesaji untuk mendapatkan bahan baku.
Posisi keris sebagai pusaka mendapat perlakuan khusus mulai dari proses menyimpan, membuka dari sarung sampai dengan merawatnya, hal ini sudah merupakan tradisi turun temurun yang masih dilakukan oleh masyarakat Jawa yang masih meyakini. Kekuatan spiritual didalam keris diyakini dapat menimbulkan satu perbawa atau sugesti kepada pemiliknya. Menilik Pada masa kerajaan Majapahit,  keris terbagi menjadi 2 kerangka yang saat ini masih menjadi satu acuan si empu atau pembuat keris, yakni rangka Gayaman dan rangka Ladrang/Branggah. Saat ini rangka Gayaman banyak dipakai sebagai pelengkap busana Jawa Yogjakarta dan rangka Ladrang banyak dipakai sebagai pelengkap busana Jawa Surakarta.
Nilai atau makna filosofis sebuah keris bisa pula dilihat dari bentuk atau model keris, atau yang disebut dengan istilah dapur. Selain dari dapurnya, makna-makna filosofi keris juga tecermin dari pamor atau motif dari keris itu sendiri. Keris bukan lagi sebagai senjata, namun masyarakat Jawa memaknai bahwa keris sekarang hanya sebagai ageman atau hanya dipakai sebagai pelengkap busana Jawa yang masih mempunyai nilai spiritual religius, dan sebagai bukti manusia yang lahir, hidup dan kembali bersatu kepada Tuhan sebagai Manunggaling Kawulo Gusti.
Sumber: Tjokrosuharto.com

Keris Sebagai Piyandel, Sebuah Tuntunan Hidup

Piyandel adalah sebuah keyakinan dan kepercayaan yang termanifestasikan dalam wujud berbagai benda-benda pusaka yang mengemuka secara fenomenal, penuh daya pikat dan sarat lambang yang harus didalami dan dimengerti dengan baik, benar dan mendalam. Kepercayaan bukan berisi tentang sesuatu yang pantas disembah dan dipuja, tetapi sebuah wahana yang berwujud (wadag) yang berisi doa, harapan dan tuntunan hidup (filosofi hidup) manusia jawa yang termaktub dalam “sangkan parang dumadi – sangkan paraning pambudi – manunggaling kawula Gusti”. Piwulang-piweling ini terformulasi dalam sebuah benda buatan yang disebut keris atau tombak.

Melihat keris sama halnya dengan melihat wayang. Keleluasaan pemahaman dan pengertian mengenainya tergantung luasnya cakrawala dan pengalaman hidup orang tersebut terhadap hidup dan kehidupan. Jadi tergantung kepada “kadhewasaning Jiwa Jawi” – kedewasaan orang dalam berfikir dan bersikap secara arif dan bijaksana. Semakin orang itu kaya pengalaman rohani – semakin kaya pula ia mampu menjabarkan apa yang tertera di dalam sebilah keris.

Pada mulanya, di saat manusia jawa ada pada peradaban berburu, keris adalah alat berburu (baca: mencari hidup). Kemudian ketika manusia mulai menetap dan bersosialisasi dengan sesamanya, keris menjadi alat untuk berperang (baca : mempertahankan hidup). Lebih lanjut lagi setelah tidak lagi diperlukan perang dan manusia mulai berbudaya, keris pun menjadi senjata kehidupan (baca: tuntunan hidup). Yaitu senjata untuk mengasah diri menjadi orang yang lebih beradab dan berperiperadaban hingga mencapai penyatuan diri dengan Penciptanya. Hal ini sangat nyata ditunjukkan dalam lambang-lambang yang mengemukan pada ricikan-ricikan keris.

Ilmu keris adalah ilmu lambang. Mengerti dan memahami bahasa lambang mengandalkan peradaban rasa (sense) – bukan melulu kemampuan intelektual. Jadi adalah keliru jika memahami keris secara dangkal sebagai sebuah benda yang berkekuatan magis untuk mengangkat harkat dan martabat manusia. Keris menjadi pusaka karena makna lambang-lambang dalam keris dianggap mampu menuntun pembuat dan pemiliknya untuk hidup secara benar, baik dan seimbang. Dan bagi orang jawa, hidup ini penuh pralambang yang masih samar-samar dan perlu dicari dan diketemukan melalui berbagai laku, tirakat maupun dalam berbagai aktivitas sehari-hari manusia jawa, misalkan dalam bentuk makanan (tumpeng, jenang, jajan pasar,dsb), baju beskap, surjan, bentuk bangunan (joglo, limas an, dsb) termasuk juga keris. Di dalam benda-benda sehari-hari tersebut tersembunyi sebuah misteri berupa pesan dan piwulang serta wewler yang diperlukan manusia untuk mengarungi hidup hingga kembali bersatu dengan Sang Pencipta.

Dalam tradisi budaya Jawa ada sebuah pemahaman “Bapa (wong tuwa) tapa, anak nampa, putu nemu, buyut katut, canggah kesrambah, mareng kegandeng, uthek-uthek gantung siwur misuwur”. Jika orang tua berlaku tirakat maka hasilnya tidak hanya dirasakan olehnya sendiri dan anak-anaknya melainkan hingga semua keturunannya. Demikian juga sebaliknya. Oleh karena itu manusia Jawa diajak untuk selalu hidup prihatin, hidup “eling lan waspada”, hidup penuh laku dan berharap. Siratan-siratan laku, tirakat, doa, harapan, cita-cita restu sekaligus tuntunan itu diwujudkan oleh para leluhur Jawa dalam wujud sebuah senjata. Senjata bukan dilihat sebagai melulu wadag senjata (tosan aji) melainkan dengan pemahaman supaya manusia sadar bahwa senjata hidup dan kehidupan adalah sebuah kearifan untuk selalu mengasah diri dalam olah hidup batin
Oleh karena itu orang Jawa menamakan keris dengan sebutan Piyandel – sipat kandel, karena memanifestasikan doa, harapan, cita-cita dan tuntunan lewat dapur, ricikan, pamor, besi, dan baja yang dibuat oleh para empu dalam laku tapa, prihatin, puasa dan selalu memuji kebesaran Tuhan. “Niat ingsun nyebar ganda arum. Tyas manis kang mantesi, ruming wicara kang mranani, sinembuh laku utama”. Tekadku menyebarkan keharuman nama berlandaskan hati yang pantas (positive thinking), berbicara dengan baik, enak didengar, dan pantas dipercaya, sembari menjalankan laku keutamaan.

Meski demikian keris tetaplah benda mati. Manusia Jawa pun tidak terjebak dalam pemahaman yang keliru tentang pusaka. Peringatan para leluhur tentang hal ini berbunyi : “Janjine dudu jimat kemat, ananging agunging Gusti kang pinuji”. Janji bukan jimat melainkan keagungan Tuhan-lah yang mesti diluhurkan. “Nora kepengin misuwur karana peparinge leluhur, ananging tumindak luhur karana piwulange leluhur”. Tidak ingin terkenal lantaran warisan nenek moyang, melainkan bertindak luhur karena melaksanakan nasihat nenek moyang. Oleh karena itu keris bukan jimat, tetapi lebih sebagai piyandel sebagai sarana berbuat kebajikan dan memuji keagungan Ilahi.
Sumber: Ki Juru Bangunjiwo