Gambar

Pembaca yang budiman, bisakah pembaca menangkap siaran TV Swasta dengan menggunakan antena VHF? Atau sebaliknya, menangkap siaran TVRI dengan menggunakan antena UHF? Jawabannya tentu tidak bisa. Masalahnya keduanya berfrekwensi berbeda. Dan ilustrasi lain, bisakah pembaca melihat dengan mata telanjang masuknya sebuah gambar, suara dan text dari udara-antena-kabel hingga akhirnya tertampil dilayar TV? Jawabnya juga tidak. Kedua ilustrasi tersebut mungkin sudah cukup membuat kita percaya adanya perkara ghaib. Hal inilah yang akan penulis sampaikan kenapa sebilah keris berbeda fungsi jika berbeda dapur dan pamor.
Namun, pembaca harus tahu beda antara dapur dan pamor. Dapur ialah: wujud dari sebilah keris, ada lurus tapi banyak pula yang berlekuk/berluk, ada ratusan nama yang menyertai perwujudannya. Misal: dapur tilam upih, brojol, sengkelat, dls. Sedangkan pamor ialah: batik dari sebilah keris. Misal: pamor wos wutah, pedaringan kebak, ngulit semangka, dls. Perlu diketahui juga: bahwa bahan dari sebilah keris merupakan intisari dari besi maupun baja pilihan. Karena sifatnya inti, tidak heran ada kandungan ghaib yang lumayan besar. Sebab, inti adalah sebuah perkara yang paling berharga dari pada komponen lainnya.
Baiklah, berikut akan kami sampaikan daya ghaib pusaka:
1. Keris Lurus: melambangkan stabilitas dan kemapanan atas kekuatan lahir dan bathin. Contoh keris: tilam upih, brojol, jalak sangu tumpeng, tilam sari, dls.
2. Keris Luk Satu: melambangkan tekad yang kuat untuk menggapai sesuatu yang dikehendaki. Contoh keris: damar murub, lanang jawa, dls.
3. Keris Luk tiga: melambangkan tercapainya cita-cita/mempermudah menggapai harapan. Contoh keris: jangkung, segara winotan, mahesa nempuh, dls.
4. Keris Luk Lima: melambangkan pemiliknya lancar berbicara dan berkomunikasi. Contoh keris: Pendawa lare, pulanggeni, dls.
5. Keris Luk Tujuh: melambangkan kekuatan dalam berbicara/adu argumen. Contoh keris: kidang mas, carubuk, jaran goyang, sempana bungkem, dls.
6. Keris Luk Sembilan: melambangkan sifat bijaksana dalam setiap urusan dan kemajuan usahanya. Contoh keris: carang soka, kidang soka, panimbal, dls.
7. Keris Luk Sebelas: melambangkan kedinamisan, enerjik, semangat pantang menyerah untuk menggapai keinginan. Contoh keris: Sabuk Inten, sabuk tali, carita prasaja, dls.
8. Keris Luk Tiga Belas: melambangkan kewibawaan. Contoh keris: sengkelat, sepokal, kara welang, dls.
Dalam hal pamor:
1. Pamor wos wutah, pedaringan kebak, udan mas, dls.: melambangkan karezeken.
2. Pamor Ngulit Semangka: melambangkan kemudahan dalam bergaul ataupun abdi masyarakat, pandai momong/mengasuh.
3. Pamor Uler Lulut, Untu Walang: melambangkan Sinuyutan, kata-katanya akan diikuti.
4. Pamor Ujung Gunung, Ron Genduru, Blarak Sineret: melambangkan kewibawaan.
CARA MENGETAHUI ISI / YONI SEBILAH KERIS PUSAKA.
Para pembaca yang budiman, dari sekian banyak teori untuk mengetahui pusaka tersebut masih ada “isi” nya atau tidak, maka kamipun mempunyai cara tersendiri yaitu, tapi sebelumnya yang harus pembaca ingat adalah: sebuah pusaka kuno/tangguh sepuh sampai kapanpun isinya masih tetap ada, dan tiada seorangpun yang sanggup untuk mengambil isinya dari sebilah pusaka, hal tersebutlah yang menjadikan pusaka tangguh sepuh kuno sangat diminati para pemerhatinya. Baiklah kita kembali kepokok pembicaraan, yaitu untuk mengetahui isi sebuah pusaka. Ada 4 hal yang harus dilakoni :
1. Kudu betah luwe; sapa kang wani luwe, bakal luweh. Maksudnya adalah: seseorang yang sudah merawat keris atau senjata tradisional lainnya, dirinya harus berani lapar, karena lapar akan menghantarkan seseorang mempunyai “kelebihan”.
2. Kudu betah melek, sapa sing betah melek, bakal ketok meloke. Maksudnya adalah: siapa yang sanggup untuk terjaga atau menyedikitkan akan tidurnya, maka orang tersebut akan diberi tahu oleh yang Maha Kuasa sesuatu yang saat ini menjadi rahasia/misteri.
3. Kudu bisa meper hawa; sapa sing bisa meper hawa bakal hawas. Maksudnya adalah: orang yang telah memiliki sebilah pusaka, maka orang tersebut harus mampu meninggalkan sesuatu larangan yang telah dilarang oleh Agama yang dianutnya. Terutama nafsu marah. Jadi, orang yang taat menjalankan perintah Agamanya, orang tersebut akan diberi kemampuan bisa melihat hal yang ganjil, yang tidak dimiliki oleh kebanyakan orang. Sedangkan yang terakhir adalah,
4. Kudu bisa meneng; Sapa sing meneng, bakal wening. Maksudnya adalah: apabila seseorang tersebut mampu menahan lidah, tangan dan fikiran dari perbuatan yang bisa menyebabkan permusuhan diantara para manusia ataupun golongan, maka orang tersebut akan memiliki hati dan jiwa yang jernih. Sedangkan hati dan jiwa yang jernih akan membawa pemiliknya mempunyai daya insting yang sangat tajam. Naluri yang mampu melihat sesuatu yang masih samar.
Demikianlah para pembaca dan pemerhati yang budiman, 4 perkara yang harus dilaksanakan seseorang, apabila ingin bisa melihat “isi” keris yang sebenarnya. Jadi, patut diragukan sekaligus patut disayangkan apabila ada seseorang mengaku mampu melihat isi keris dari cara hanya dipegang beberapa detik saja. Bukankah jika kita menanak nasi untuk sampai matang dan siap dimakan diperlukan waktu dan perjuangan yang tidak sedikit? Renungkanlah.