Keris adalah satu dari sekian banyaknya simbol-simbol budaya yang ada di tanah Jawa, sebuah senjata tradisional yang selalu dilibatkan pada setiap upacara tradisi keraton maupun upacara-upacara adat kejawen. Tradisi dan budaya yang berkembang dari zaman dahulu hingga sekarang tentang keris menjadikan keris selalu dihubung-hubungkan dengan kesaktian dan keampuhannya, maka tidak heran kalau sampai saat ini keris masih dilihat sebagai pusaka dan jimat oleh sebagian kalangan masyarakat.

“Keris bukan hanya sekedar senjata tajam yang dicipta untuk berperang dan juga bukan hanya sekedar pelengkap busana adat saja, tapi keris merupakan simbol pribadi, piyandel atau sifat kandel,yang tidak bisa diganggu gugat keberadaannya,” ungkap KP. Winarno Kusumo wakil pengageng Sasono Wilopo Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Keris, “lanjutnya,” itu sinangker karono aris yang artinya ada rahasia yang terpendam didalamnya, Yaitu nilai-nilai luhur sebuah karya cipta yang menggambarkan simbol-simbol yang mengajarkan tatanan hidup dan pemahaman ke-tuhanan, suatu pengertian luhur didalam falsafah jawa. “keris juga melambangkan ketajaman, ini dimaksudkan bahwa manusia hidup haruslah punya daya pikir yang tajam (pintar) agar bermanfaat bagi kehidupan bermasyarakat,” jelasnya.

Menurutnya, keris yang memiliki kesaktian memang tidak bisa dipungkiri keberadaannya karena pada dasarnya keris dulunya dibikin sebagai sebuah senjata pamungkas, Namun seiring perkembangan zaman keris lebih dikenal sebagai karya cipta yang mengandung nilai-nilai seni dan sejarah yang tinggi.

“Tradisi bahwa seseorang akan dianggap sebagai pria sejati jika sudah memiliki sebuah pusaka terutama keris adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan, sebuah hubungan yang saling terkait satu sama lainnya, membuat keris masih berada ditempat yang paling tinggi dalam kasanah budaya masyarakat jawa,” Kata KRA. Sukatno Purwo Projo ahli keris Keraton.

Menurut Sukatno, di tanah Jawa terutama Kasunanan Surakarta terdapat dua jenis keris yaitu keris luk (lekuk) dan keris leres (lurus) yang lebih dikenal oleh masyarakat luas dengan istilah lajer, dimana, dari masing-masing jenis mempunyai tingkatan atau gelar yaitu, Kanjeng Kyai Ageng, Kanjeng Kyai dan Kyai. Di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, kata Sukatno, Gelar Kanjeng Kyai Ageng diberikan pada keris pusaka peninggalan masa Kerajaan Jenggala hingga Mataram, untuk gelar Kanjeng Kyai diberikan pada keris pusaka Keraton, sedangkan gelar Kyai diberikan kepada keris yang berada diluaran Keraton atau yang dimiliki oleh masyarakat umum.

Keris, terusnya, terdiri dari tiga faktor yaitu pamor, dapur dan tangguh. yang memiliki ciri dan nama yang berbeda-beda satu sama lainnya. Pamor adalah bentuk lapisan pada bilah keris yang memiliki tiga pengertian yaitu menyangkut masalah bahan, pola gambar dan bentuk serta teknik pembuatannya. “dikatakan,” pamor keris pada era Jenggala sampai Majapahit menggunakan bahan batu meteorit.

Pamor keris juga ada yang  tidak memiliki nama yang disebut dengan pamor tiban, yaitu pamor yang tidak direkayasa oleh sang Empu atau sebuah gambar yang terbentuk dengan sendirinya. Pamor jenis tiban inilah yang diyakini oleh kalangan pecinta keris sebagai sebuah gambar yang terbentuk karena anugerah dari Tuhan.

Untuk istilah dapur adalah istilah yang digunakan untuk menyebut bentuk pada bilah keris, dengan menyebut dapur, bagi yang faham betul tentang keris akan mudah untuk mengetahui seperti apa bentuk keris  yang dimaksud. Sedangkan yang disebut dengan tangguh adalah sebuah ilmu atau keahlian dari seorang ahli keris untuk menentukan atau memperkirakan zaman pembuatannya. Tangguh, “terusnya,” itu juga terbagi menjadi tiga jenis yaitu tangguh sepuh (tua), tangguh tengahan dan tangguh nom (muda). Tangguh sepuh merupakan ciri keris masa Jenggala sampai Majapahit yang pada umumnya ringan dan halus permukaannya, sementara untuk tangguh tengahan merupakan ciri dari keris yang dibuat pada masa Mataram, sedangkan tangguh nom (muda) terdapat pada keris buatan masa kerajaan Kartosuro hingga Surakarta.

Bukan hanya bilah keris saja yang mempunyai bentuk yang berdeda-beda, tapi pada warangka, atau yang sering disebut dengan perabot atau sarung keris juga memiliki bentuk serta fungsi yang berbeda-beda pula, yaitu terdiri dari dua jenis, ladrang dan gayaman. “untuk upacara adat keraton misalnya keris yang dipakai adalah keris dengan warangka yang berjenis ladrang, sedangkan yang jenis gayaman, keris ini digunakan atau dipakai untuk keseharian.”  kata Sukatno.

Sukatno menambahkan bahwa, setiap keris terutama keris tinggalan memiliki daya kekuatan dan kesaktian yang sering disebut dengan Angsar yang bisa berpengaruh positif namun juga bisa sebaliknya. Menurutnya, Pada dasarnya keris yang ber-angsar bersifat baik, tetapi kadang-kadang angsar yang baik itu belum tentu cocok pada setiap orang. “Sukatno mencontohkan,”  keris dengan dapur jangkung pacar, adalah keris yang diyakini bisa medatangkan kemakmuran apabila digunakan oleh pedagang namun akan berakibat sebaliknya jika yang memiliki adalah seorang petani.

Dikatakannya pula bahwa keris-keris pusaka tinggalan wajib untuk dijamasi (dicuci) dengan warangan jeruk nipis, hal ini dilakukan agar keris-keris pusaka tersebut tetap bersih dan terjaga keawetannya, “keris itu sarana, keris itu piwulang yaitu sebuah makna yang terkandung didalamnya, mulai dari bentuk sampai cara memakainya, semua mengajarkan manusia itu mesti andap asor atau rendah diri,” Tambah dia.

Dalam dunia perkerisan, “lanjut Sukatno,” karya-karya empu sekarang atau para pengrajin keris juga tidak kalah dengan keris-keris tinggalan zaman dahulu dalam mencipta ataupun meniru pamor dari masing-masing keris, cuma yang membedakan bahan yang dipakai untuk membuat dan membentuk pamor pada bilah keris tidak menggunakan bahan batu meteorit melainkan manggunakan bahan nikel. keris-keris ini dikenal dengan istilah tangguh gebagan enggal.

Sementara Syafii Ma arif seorang pecinta dan pedagang keris, mengatakan bahwa keris yang memiliki kesaktian itu karena suatu penyaluran energi oleh empu dengan memberikan doa-doanya yang diwujudkan pada tiap goresan dalam bentuk pamor. “ibarat kata, pamor keris itu hampir sama dengan pita kaset atau keping CD yang sama-sama mengandung bahan logam yang bisa untuk menyimpan suara, begitu pula dengan keris yang bisa menyimpan energi dari doa-doanya si empu.” ucapnya

Hanya saja, lanjut dia, jauh lebih bijak kalau pemahaman tantang keris itu lebih dilihat dari sisi artistic, filosafi, dan tataran budayanya, yang selalu melibatkan keris dalam tiap-tiap prosesinya, disinilah nilai sebuah kesakralan keris itu bisa dilihat, sebuah bagian dari identitas kultur budaya jawa. “nilai filosofis yang terkandung pada tiap-tiap bentuk keris dan masanya memang memiliki arti yang berbeda-beda, Tapi secara garis besar nilai filosofis yang terkandung itu mengajarkan sebuah tatanan kehidupan manusia, baik sesuai dengan etika, norma, agama dan Negara.” Jelas anggota dari paguyuban pecinta keris Pasopati Surakarta ini.

Kecenderungan masyarakat dalam melihat dan menilai sebuah keris yang hanya dari sisi gaibnya saja menjadikan keris lebih dianggap sebagai benda keramat dan menakutkan, pemahaman salah kaprah inilah yang akhirnya menghilangkan nilai artistik, estetik dan etik sebuah karya cipta budaya warisan para leluhur bangsa, pengertian-pengertian seperti inilah yang semestinya harus mulai dirubah dalam menilai sebuah keris. Padahal, “lanjut pengemar keris ini,” Kalau dilihat dari sisi artistiknya, keris itu mempunyai nilai jual tersendiri apalagi keris tersebut memiliki sebuah silsilah dari sejarah peradaban sebuah kerajaan, ini akan jauh lebih mahal nilai jualnya.

Agus rekan Syafii menambahkan keris merupakan icon jawa, sebuah karya seni warisan bangsa yang seharusnya dipertahankan kelestarianya tanpa mengurangi kekokohan nilai budaya sebagai produk peradaban dari bangsa Indonesia, itu yang jauh lebih penting untuk diketahui dalam melihat dan menghayati nilai-nilai luhur tentang sebuah keris

SUMBER:tabloidpamor.com

 

kunjungi juga http://www.aurabumi.blogspot.com